Oleh, Maman A. Majid Binfas
Mabesnews.com, Secara umum diksi dapat dimaknai dengan pemilihan atau penggunaan kata yang serasi untuk menyampaikan gagasan sehingga mendapatkan efek atau tanda tertentu sesuai keinginan penulis atau pembicaraan dimaksudkan. Termasuk, kata atau kalimat yang bersifat denotasi-konotasi, sinonim, kata konkret-abstrak/ghaib, dan eufimisme atau penghalusan kata berkesan atau isyarat secara santun.
Esensi isyarat atau pertanda yang merupakan sistem komunikasi terstruktur yang menggunakan gerakan tangan spesifik untuk mewakili kata atau konsep, seringkali memiliki tata bahasa sendiri. Isyarat terkadang bisa dibaca oleh orang lain dengan tanda yang tersirat, baik di dalam berkomunikasi maupun gerakan tubuh menjadi auranya. Sebagaimana, Rasullullah Saw pun, selalu memberi isyarat yang tersirat nyata, termasuk menjelang wafatnya.
Isyarat Rasulullah Sebelum Wafatnya
Dalam ragam kesempatan, Rasulullah memberikan isyarat bahwa masa tugas beliau telah selesai, salah satunya melalui perintah memperbanyak mengingat “pemutus kelezatan” (kematian). Sebagaimana QS Surat An-Nasr yang berisi tiga ayat yang berarti:
“1) Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, 2) dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, 3) bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.”
Di dalam Tahrir wat Tanwir; Tunisia; Darut Tunisia Lin Nasyri, 1984 M, Jilid XXX : 587. Imam Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa Surat An-Nasr dinamakan demikian karena terdapat frasa “nashrullah”. Selain itu, surat ini juga dikenal sebagai Surat At-Taudi’ karena mengisyaratkan perpisahan Nabi Muhammad, yang berarti beliau akan segera berpisah dan kembali ke sisi Allah.
Tentu, Rasullah bukan hasil dari ramalan, tetapi memang Allah yang memberitahukan kepada-nya mengenai waktu wafatnya. Beliau memberitahu kepada putrinya, Fatimah, bahwa beliau akan wafat, yang menyebabkan Fatimah. Kemudian, membisikkan lagi bahwa ia akan menjadi orang pertama dari keluarganya yang menyusul, membuatnya tersenyum. menangis.
Ini menunjukkan bahwa meskipun kematian adalah hal gaib, Allah memuliakan Nabi-Nya dengan memberi pengetahuan tentang saat-saat terakhir hidupnya, sehingga beliau dapat memberikan wasiat terbaik bagi umatnya.
Bahkan para umatnya, terkhusus yang dianugerahi sebagai waliyullah akan mengetahui tanda kematiannya, melalui firasat khusus (Nur Ilahi) atau tanda-tanda fisik yang diyakini muncul secara bertahap. Seringkali dikutip dari pandangan Imam Al-Ghazali. Tanda ini dianggap sebagai karamah atau kasih sayang Allah agar mereka bersiap. Tanda-tandanya, meliputi getaran tubuh (100 hari), denyut pusar (40 hari), selera makan meningkat (7 hari), serta perubahan wajah dan fisik (3 hari hingga 1 hari) sebelum ajalnya.
Tidak mengherankan, manakala sebagian orang juga bisa merasakan atau membaca akan tanda_tanda tersebut, baik oleh dirinya maun oleh orang lain
Bahkan penyair Chairil Anwar mengetahui tanda-tanda kematiannya. Hal ini tergambar dalam buah karyanya, terutama di diksi puisinya. Di saat, ia menjelang akhir hayat, yang menunjukkan kesadaran akan kefanaan dan penerimaan terhadap takdir Tuhan.
Di antara puisinya, yakni tentang perenungan akan kematiannya adalah “Kepada Kawan”(1946/47).
“Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat, mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat
Kawan, mari kita putuskan kini di sini: Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!”
…
Derai-Derai Cemara
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh/dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu ada sesuatu yang bukan dasar perhitungan
kini hanya menunda kekalahan
dan sebelum pada akhirnya menyerah
tertegun di sini, merenung diam
kehilangan cinta dan tidak mengucap suatu percakapan yang tidak sia-sia_ (Chairil Anwar ,1949)
…
Mungkin sama halnya dengan makna diksi yang tidak akan sia-sia bila digoreskan menjadi jejak, dan tentu saling bertautan, bah Aku berdiksi berikut ini.
Aku Berdiksi
Diksiku
mata pedang Semesta
bukan basa basi
Diksiku
nurani berjiwa
bukan kosa kata kosong
Diksiku
kalam lima taqūlūna mā lā taf’alūn
bukan hanya melolong
Diksiku
cerminan
bukan sekedar kiasan
Diksiku
dari ilham Ilahiyah
mengalir lillah
Diksiku
hanya kepada Ihdinas siratal mustaqim
mesti berkalam
Diksiku
hanya kepada Sang Keabadian
jadi tumpuan mengabdi
Diksiku
Ber_alif Lam Mim
berhingga Aku berdiksi tak akan hampa_( Mabinfas, Ahad 23:08, 26 April 2026)
…
Diam Bukan Hampa
Diam
bukan berarti hampa terbaca di dalam berkalam
namun
diam tetap bersalam sekalipun recehan
semoga bisa menjadi sebercak titik harapan tak terbayangkan dari rangkaian jejak goresan bertautan selama ini
bukan hanya rakitan goresan berindeks jurnalan. Termasuk, jiwa rangkaian diksi yang lain pun sangat berkaitan
Sekalipun, berdiksi tentang maut kematian yang tidak mesti ditakuti_(Mabinfas, Rabu 14;08, 8 April 2026.
…
Kematian Bukan Ditakuti
Aura
kematian
tidak mesti ditakuti
justru
berterimakasih akan kehadiran tanda nan telah bereinkarnasi
tanpa bisa dipungkiri nan dihindari
jadi
cerminan yang akan ditempuh
dan ditempatkan juga segera menanti
gambaran
akan kesejukan alam surga
atau jua berkobar bara membaranya neraka
Justru
kematian mesti dihadapi
bukan untuk ditakuti_(Mabinfas, Rabu 14;08, 8 April 2026).
…
Jadi, tanda atau pertanda maut kematian akan berdiksi benderang sebagaimana dinyatakan oleh Imam Al-Ghazali, meliputi tanda getaran tubuh dan denyut pusar serta perubahan wajah dan fisik menjadi isyaratnya. Bahkan, tanda tandanya, bisa diketahui oleh siapa pun, baik melalui ucapan maupun gerak isyarat menjadi karyanya sebagaimana Chairil Anwar berdiksi dan berkalam.
Wallahualam







