Mabesnews.com – Batam — Semarak Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadits (MTQH) Tingkat Kota Batam ke-XXXIV Tahun 2026 yang digelar di Alun-Alun Engku Putri, Batam Centre, tidak hanya menjadi ajang perlombaan tilawah semata, tetapi juga menjelma sebagai panggung besar kebersamaan umat Islam dalam meneguhkan nilai-nilai Al-Qur’an di ruang publik. Dalam suasana yang sarat dengan nuansa religius dan kultural tersebut, setiap elemen masyarakat berupaya menampilkan kontribusi terbaiknya. Di antara barisan yang hadir, Persatuan Mubaligh Batam (PMB) Batam Kota tampil sebagai representasi keteladanan, kekompakan, dan semangat dakwah yang tak lekang oleh situasi.
Sebagai tuan rumah, Kecamatan Batam Kota menunjukkan kesiapan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga kultural dan spiritual. Partisipasi aktif organisasi kemasyarakatan Islam menjadi penanda bahwa MTQH bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum kolektif untuk merawat identitas keislaman dalam kehidupan masyarakat perkotaan yang dinamis. Imbauan Camat Batam Kota kepada para ketua ormas Islam untuk turut serta dalam defile pembukaan bukanlah sekadar formalitas, melainkan ajakan moral untuk meneguhkan peran strategis umat dalam menjaga syiar Al-Qur’an.
Ajakan tersebut disambut dengan penuh antusias oleh PMB Batam Kota. Di bawah komando Buya H. Robi Kurniawan, barisan ini melangkah dengan tertib, rapi, dan penuh khidmat. Meskipun secara teknis mereka menempati posisi duduk di tengah arena acara, hal itu sama sekali tidak mengurangi semangat yang mereka tampilkan. Justru dari posisi tersebut, terpancar nilai-nilai keikhlasan dan kedewasaan dalam berorganisasi—bahwa kontribusi tidak selalu harus berada di garis depan, melainkan dapat hadir dalam bentuk keteguhan sikap, kesabaran, dan komitmen yang konsisten.
Deretan tokoh yang hadir dalam barisan PMB Batam Kota mencerminkan kekayaan moral, intelektual, dan pengalaman dakwah yang dimiliki oleh organisasi ini. Kehadiran Ust. Irawansyah yang dikenal sebagai bendahara yang energik, bersama Ust. Agus Mulyadi, Ust. Hambali, Ust. Erwin Abu Ghaza, Ust. Ir. Muhammad Rasyid, Kiyai Khoeril Anwar, hingga Ust. Dr. Nursalim dan Buya Dr. Asmaldi, menjadi simbol kekuatan kolektif yang tidak hanya bersandar pada retorika, tetapi juga pada dedikasi nyata di tengah masyarakat. Demikian pula kehadiran tokoh-tokoh lain seperti Ust. Rajmat T., Arief Setyawan, Abdur Raqib, KH. Sayuti, Buya KH. Muhammad Hasanuddin, SS., Habib Rifa’i, Suhaimi Pulungan, Husin MY, Adi Subekhi, M. Hamim, Endang Sarif H., Nawir Hasbullah, Rusdi Hamzah, Syabaruddin, Mustofa, H. Nasir D., Mahmud Arif, Ahmad Daud, hingga Mardoni, semakin memperkuat barisan ini sebagai representasi keberagaman latar belakang yang disatukan oleh semangat dakwah.
Lebih dari sekadar kehadiran fisik, partisipasi PMB Batam Kota dalam defile ini mengandung makna simbolik yang mendalam. Mereka hadir bukan untuk mencari sorotan, tetapi untuk menunjukkan bahwa dakwah adalah kerja kolektif yang menuntut kesungguhan, konsistensi, dan keikhlasan. Dalam konteks ini, posisi duduk di tengah arena justru menjadi metafora tentang bagaimana para mubaligh tetap teguh di tengah arus perubahan zaman, tidak silau oleh panggung, namun tetap menjadi penopang nilai-nilai keislaman dalam kehidupan masyarakat.
Kehadiran mereka juga menjadi cermin bahwa peran mubaligh tidak hanya terbatas pada mimbar dan majelis taklim, tetapi juga merambah ruang-ruang sosial yang lebih luas. Mereka hadir sebagai teladan dalam membangun kebersamaan, merawat persaudaraan, dan menanamkan nilai-nilai kesederhanaan serta pengabdian. Dalam dunia yang kian kompleks, kehadiran figur-figur seperti ini menjadi penting untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan material dan kedalaman spiritual.
MTQH ke-XXXIV ini pun menjadi momentum strategis untuk mempererat silaturahmi antarormas Islam, sekaligus memperkuat sinergi antara ulama, umara, dan masyarakat. PMB Batam Kota melalui partisipasinya telah menunjukkan bahwa kekuatan umat tidak hanya terletak pada jumlah, tetapi juga pada kualitas kebersamaan dan ketulusan dalam berkontribusi.
Pada akhirnya, apa yang ditampilkan oleh PMB Batam Kota dalam defile tersebut bukan sekadar barisan yang rapi dan kompak, melainkan narasi tentang semangat yang tidak pernah padam. Sebuah pelajaran bahwa dalam setiap langkah kecil yang dilakukan dengan niat tulus, terdapat kekuatan besar untuk menghidupkan syiar Al-Qur’an di tengah kehidupan masyarakat modern. (Nursalim Turatea)




