MabesNews.com, Purwakarta 16 Juni 2026 – Di mata banyak kalangan, pejabat tinggi negara sering kali dianggap mudah dijumpai oleh insan pers. Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu demikian, terutama jika berbicara mengenai Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi. Banyak wartawan mengakui bahwa bertemu dan berbicara langsung dengannya bukanlah hal yang mudah atau terjadi begitu saja.
Bukan karena menutup diri atau menjauh dari masyarakat maupun media, melainkan karena cara kerja dan prinsip yang dipegang teguh oleh pemimpin yang akrab disapa Kang Dedi tersebut.
Bukan Terhalang Pagar, Melainkan Aturan Kerja yang Ketat
Banyak yang beranggapan bahwa akses kepada Gubernur dibatasi oleh barisan pengawal atau staf. Padahal, tantangan utamanya justru terletak pada jadwal kegiatan yang sangat padat serta sistem pengelolaan informasi yang rapi dan disiplin.
Setiap permintaan pertemuan atau wawancara harus disampaikan secara resmi, lengkap dengan topik yang akan dibahas, tujuan, serta jadwal yang disepakati. Tanpa persiapan yang jelas dan terstruktur, peluang untuk dapat berhadapan langsung sangat kecil. Kondisi ini membuat para wartawan harus bekerja lebih serius, teliti, dan tidak datang hanya sekadar “lewat lalu bertanya”.
Seorang wartawan senior yang telah lama meliput wilayah Jawa Barat mengungkapkan:
“Bertemu Kang Dedi tidak bisa asal datang. Kalau tidak punya materi yang jelas, pertanyaan yang mendalam, dan tujuan yang bermanfaat, kita akan disarankan menunggu atau diarahkan ke bagian yang tepat terlebih dahulu. Inilah sebabnya banyak yang mengatakan ‘susah’, padahal tujuannya agar setiap pertemuan benar-benar bernilai dan berisi.”
Prinsip: Waktu Milik Rakyat, Bukan Sekadar Seremonial
Kang Dedi Mulyadi sendiri kerap menegaskan bahwa setiap menit waktunya adalah milik masyarakat Jawa Barat. Ia ingin setiap pertemuan dengan pers menjadi sarana penyampaian informasi yang akurat, mendalam, dan bermanfaat, bukan sekadar sesi foto atau ucapan singkat tanpa substansi.
Hal tersebut juga tercermin dari gaya komunikasinya. Ketika sudah bertemu, ia dikenal menjawab pertanyaan secara lugas, rinci, dan berani membahas persoalan-persoalan mendasar. Karena itu, persiapan dari pihak wartawan menjadi hal yang sangat diutamakan.
Tantangan yang Menjadi Nilai Tambah
Bagi sebagian orang, aturan dan padatnya jadwal tersebut dianggap sebagai hambatan. Namun, bagi wartawan yang memahami tugas profesinya, hal itu justru menjadi tantangan yang dapat meningkatkan kualitas kerja jurnalistik. Agar dapat duduk berhadapan dengan seorang gubernur, seorang wartawan dituntut untuk:
• Menguasai topik secara mendalam;
• Menyusun pertanyaan yang tajam dan relevan;
• Menyampaikan permohonan wawancara sesuai prosedur yang berlaku; serta
• Menghargai waktu dan tanggung jawab besar seorang pemimpin daerah.
Kesimpulan
Jika ada yang mengatakan bahwa “bertemu Gubernur seperti Kang Dedi Mulyadi itu gampang”, jawabannya belum tentu demikian.
Bukan karena ia sulit ditemui atau menjauh dari insan pers, melainkan karena ia mengelola waktu dan komunikasi secara tertib, bertanggung jawab, serta menginginkan agar setiap pertemuan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui informasi yang disampaikan.
Bagi insan pers, hal ini justru menjadi pengingat bahwa akses yang baik lahir dari kerja jurnalistik yang serius, terencana, dan bertanggung jawab.
Sumber: Cakrawala 8
(Firman R.M. & Tim)




