Sejak Jaman Belanda, Sampai Saat Ini Lokasi Tambang Panang dan Benteng Kotabunan Dikelolah Secara Tradisional Atau Manual Tanpa Menggunakan Alat Berat

Pemerintah20 views

MabesNews.com, Boltim,Sulut- Pada masa kolonial Belanda, wilayah Kotabunan Kecamatan Kotabunan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) saat ini hasil pemekaran Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) memang tercatat memiliki aktivitas eksplorasi dan penambangan emas oleh maskapai asing seperti NV Bolaang Mongondow atau Maskapai Tapa Ibeken. Mereka memperkenalkan cara penambangan semi-modern dengan sistem membuat lubang galian atau terowongan bawah tanah (underground).

Dimana sistem penambangan sebelum diambil alih atau diregulasikan secara ketat oleh kolonial Belanda, masyarakat lokal sudah lebih dulu mendulang emas secara tradisional. Pihak Belanda kemudian memperkenalkan teknik ekstraksi yang lebih terstruktur, termasuk pembuatan lubang bukaan atau terowongan (undergroun) untuk mengikuti jalur urat kuarsa atau vein emas di dalam bukit. Sala satu lokasi pusat aktivitas Belanda di Bolaang Mongondow adalah di wilayah Kotabunan Kecamatan Kotabunan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur saat ini yang menjadi titik pantau dan eksplorasi historis.

Pada masa eksplorasi awal, ahli geologi dan insinyur Belanda seperti I.J. Koperberg bersama penjelajah lainnya sudah memetakan potensi emas di lembah Bolaang Mongondow sejak awal tahun 1900-an. Di daerah seperti Doup Panang, Kotabunan, pihak maskapai kolonial Belanda kemudian membuka jalur galian dan lubang terowongan untuk mengevakuasi bijih emas dari dalam perut bumi. Aktivitas perusahaan kolonial Belanda ini kemudian terhenti ketika Perang Dunia II dan masuknya pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Setelah kemerdekaan, sekitar tahun 1960-an sampai saat ini, sebagian lubang peninggalan kolonial Belanda yang berada di lokasi Panang, Benteng tersebut banyak ditemukan dan terus dikelolah secara tradisional oleh masyarakat setempat tanpa menggunakan alat berat.”Masyarakat penambang tradisional Kotabunan sampai saat ini ketika menggali lubang secara tradisional banyak menemukan adanya bukti trowongan peninggalan kolonial Belanda yang berada di lokasi tambang Panang, Benteng”, jelas Ketua Lembaga Adat Kotabunan Arsad Mokoagow.

Lebih lanjut dijelasknnya bahwa, sistem penambangan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Kotabunan-Bulawan dan masyarakat sekitarnya di lokasi tambang Panang dan Benteng sangatlah baik karena tanpa merusak lingkungan sekitar. Dimana, cara ini hanya menggunakan otot atau tenaga manusia dan memakai peralatan sederhana seperti martelu, betel, cangkul, dan sekop tanpa menggunakan alat berat,”Dari jaman kolonial Belanda sampai sekarang tidak ada satupun masyarakat penambang di lokasi Panang dan Benteng Kotabunan yang menggunakan alat berat, semuanya hanya dilakukan secara tradisional atau manual menggandalkan otot atau tenaga manusia dengan peralatan apa adanya seperti martelu, betel, cangkul dan sekop”, terang Ķetua Lembaga Adat Kotabunan Arsad Mokoagow.

Yang patut disyukuri menurut Ketua Lembaga Adat Arsad Mokoagow bahwa, walaupun masyarakat penambang tradisional Kotabunan, Bulawan dan sekitarnya hanya menggunakan peralatan yang sangat sederhana seperti martelu, betel, sekop dan cangkul dalam penggalian lubang untuk mencari dan pengambilan material yang mengandung emas, namun keberadaan lokasi tambang Panang, Benteng Desa Kotabunan

sangat memberikan manfaat bagi masyarakat setempat dalam hal peningkatan pendapatan ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak, pembukaan lapangan kerja baru, serta tumbuhnya usaha-usaha kecil di sekitar lokasi penambangan.

Dari aspek sosial, keberadaan lokasi tambang Panang dan Benteng Desa Kotabunan yang dikelolah secara tradisional melibatkan banyak tenaga lokal secara langsung tanpa menunggu kehadiran investasi modal besar dari luar, dan memaksimalkan sumber daya alam yang ada di wilayah sendiri untuk menggerakkan roda perekonomian mikro desa, terang Arsad Mokoagow atau lebih akrab disapa Aki Asa. (Pusran Beeg)