Bukittinggi, MABESNEWS.COM- Jam Gadang tak lagi sekadar menjadi penanda waktu dan ikon wisata. Memasuki usia genap 100 tahun, menara legendaris kebanggaan masyarakat Minangkabau itu kini diproyeksikan sebagai simbol kebudayaan, diplomasi internasional, sastra, seni hingga perkembangan kecerdasan buatan.
Pemerintah Kota Bukittinggi resmi meluncurkan rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang yang akan digelar mulai 3 hingga 21 Juni 2026. Peluncuran agenda tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Ramlan Nurmatias di Balairung Rumah Dinas Wali Kota, Selasa (26/5/2026).
Mengusung tema “Jam Gadang, Detak Jantung Ibukota”, perayaan seabad ini dipastikan menjadi salah satu event budaya terbesar di Sumatera Barat tahun ini. Berbagai agenda disiapkan untuk menghadirkan wajah Bukittinggi kepada dunia melalui kekuatan budaya, sejarah, pendidikan dan diplomasi internasional.
“Perayaan ini bukan sekadar seremoni, tetapi momentum memperlihatkan Bukittinggi kepada dunia melalui budaya, sejarah, pendidikan, seni dan diplomasi internasional,” ujar Ramlan Nurmatias.
Selama hampir tiga pekan, kawasan Jam Gadang dan Pasa Ateh akan menjelma menjadi panggung budaya berskala lokal, nasional hingga internasional. Pemerintah kota menyiapkan beragam kegiatan spektakuler yang diperkirakan menyedot perhatian publik dari berbagai daerah bahkan mancanegara.
Sejumlah agenda unggulan yang akan memeriahkan perayaan di antaranya Pajalan Nagari Festival, Bukittinggi East Film Festival, Pameran 100 Foto Jam Gadang, Seminar Nasional Bukittinggi Kota Perjuangan, hingga seminar internasional bertajuk Bridging Friendship Strengthening Indonesia–Netherlands Diplomatic Ties via Bukittinggi–Amsterdam.
Kemeriahan juga akan terasa pada malam hari melalui gelaran Jam Gadang Cultural Night, Festival Kuliner Tradisional, lomba fotografi, hingga Lomba Cipta Puisi 100 Tahun Jam Gadang tingkat SD, SMP dan SLTA se-Indonesia.
Perayaan semakin bergengsi dengan dukungan Yayasan Satu Pena melalui penyelenggaraan IMLF 2026 yang menghadirkan nuansa internasional di jantung Kota Bukittinggi.
Event tersebut dijadwalkan menghadirkan seminar global, peluncuran 100 buku, parade 1.000 perempuan berpakaian adat Minang, parade 100 penyair dunia, festival randai, pertunjukan seni budaya, bazar UMKM hingga pameran buku di kawasan Jam Gadang dan Pasa Ateh.
Tak tanggung-tanggung, delegasi dari 38 negara disebut akan turut ambil bagian dalam berbagai agenda budaya dan intelektual selama perayaan berlangsung.
Selain itu, rangkaian kegiatan juga akan diwarnai seminar sastra dan AI, penanaman 100 pohon, pembacaan puisi alam, program IMLF Goes to School hingga International Teacher Seminar yang membahas tantangan pendidikan di era kecerdasan buatan.
Perayaan seabad ini menjadi penegas bahwa Jam Gadang bukan hanya ikon wisata, melainkan mercusuar budaya Minangkabau yang terus hidup mengikuti perkembangan zaman. Dari dentang jarumnya, Bukittinggi kini mengirim pesan kepada dunia bahwa sejarah tetap dapat berdetak harmonis di tengah modernitas.
Selama 100 tahun berdiri, Jam Gadang telah menjadi saksi perjalanan panjang bangsa, mulai dari masa kolonialisme, perjuangan kemerdekaan hingga era pariwisata modern. Kini, di usia seabadnya, menara bersejarah itu bukan hanya menghitung waktu, tetapi juga menandai langkah besar Bukittinggi menuju panggung dunia.(El)






