Mabesnews.com,-Rabu 13 Mei Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ada malam-malam ketika seseorang terlihat tertawa di hadapan manusia, tetapi sesungguhnya ia sedang runtuh di hadapan Allah. Tidak ada yang tahu betapa lelahnya ia menunggu. Tidak ada yang tahu berapa banyak doa yang sudah ia ulang dalam sujud yang sama. Tidak ada yang tahu bahwa setiap selesai salat, ia diam lebih lama… hanya untuk menahan air mata agar tidak jatuh terlalu deras.
Dan yang paling menyakitkan bukanlah ketika doa belum terkabul. Tetapi ketika hati mulai takut berharap lagi.
“Ya Allah… apakah Engkau masih mendengarkanku?”
Kalimat itu mungkin tidak pernah keluar dari bibir kita. Tetapi Allah mendengarnya dari hati yang retak.
Ada orang yang menunggu kesembuhan sambil menahan sakit setiap hari. Ada yang menunggu pekerjaan sementara tagihan terus datang. Ada yang menunggu jodoh sementara usia terus berjalan dan pertanyaan manusia semakin menyakitkan. Ada yang menunggu kehidupan membaik, tetapi kenyataan justru semakin sempit. Sampai akhirnya seseorang berada di titik paling sunyi dalam hidupnya… titik ketika ia hanya punya Allah.
Dan anehnya, justru di titik itulah Allah sering bekerja.
Karena Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang menangis di sepertiga malam. Allah tidak pernah bosan mendengar doa yang sama berulang kali. Kita saja yang lelah meminta. Kita saja yang mulai ragu bahwa diri kita pantas dikabulkan.
Padahal bisa jadi, langit sedang sibuk menyiapkan jawaban terbaik untuk doa itu.
Bukankah Nabi Yusuf juga pernah merasa hidupnya gelap? Dibuang ke sumur oleh saudara sendiri. Dijual seperti barang. Dipenjara padahal tidak bersalah. Tahun demi tahun berlalu tanpa jawaban. Tetapi siapa yang menyangka? Dari penjara itu Allah mengangkatnya menjadi manusia mulia. Allah tidak terlambat. Allah sedang menyusun takdirnya dengan cara yang tidak dipahami manusia.
Dan mungkin hari ini… kita sedang berada di bagian cerita yang paling menyakitkan. Kita hanya belum sampai pada bagian ketika Allah menjelaskan semuanya.
Kadang Allah membuat kita menunggu begitu lama sampai kita sadar: yang selama ini menguatkan kita bukan keadaan, tetapi Allah. Bukan manusia, tetapi Allah. Bukan kepastian hidup, tetapi Allah.
Sebab ada doa yang belum dikabulkan karena Allah ingin mendengar suara kita lebih lama dalam sujud. Ada harapan yang belum datang karena Allah sedang menyelamatkan kita dari waktu yang salah. Dan ada tangisan yang belum berhenti karena Allah sedang menggugurkan dosa-dosa kita lewat rasa sakit itu.
Jangan berhenti berharap hanya karena dunia terasa diam.
Karena bisa jadi, di saat kita merasa Allah paling jauh… sebenarnya Allah sedang paling dekat.
Mungkin hari ini kita masih menangis sendirian di kamar. Masih memeluk luka yang tidak dipahami siapa pun. Masih bertanya kenapa hidup terasa begitu berat. Tetapi dengarlah ini baik-baik…
Tidak ada satu pun air mata yang jatuh di hadapan Allah lalu menghilang sia-sia.
Akan datang waktunya Allah menjawab semua doa yang pernah kita bisikkan dengan suara gemetar. Akan datang hari ketika Allah mengganti penantian panjang itu dengan sesuatu yang membuat kita berkata sambil menangis:
“Ya Allah… ternyata selama ini Engkau tidak pernah meninggalkanku.”
Dan pada hari itu, kita akan sadar… bahwa alasan Allah membuat kita menunggu begitu lama adalah karena jawaban-Nya jauh lebih indah daripada yang mampu kita bayangkan.
Wallahualam Bishawab. Insya Allah meridhoi langkah kita. Aamiin Yaa Rabbal Alaamiin.
(Samsul Daeng Pasomba.PPWI)







