Menjaga Lisan, Menjaga Harga Diri, dan Belajar dari Kehidupan Masyarakat Balangpasui

Oleh Dr. NursalimTinggi, S. Pd.,M.Pd

MabesNews.com,Ketua Afiliasi Pengajar, Peneliti Budaya, Bahasa, Sastra, Komunikasi, Seni dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau | Humas Da,i Kamtibmas Polda Kepri | Ketua Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Provinsi Kepulauan Riau | Ketua Fahmi Tamami Kota Batam | Ketua Pendiri Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia | Gubernur Anak Berani Karena Benar (ABEKABER) Provinsi Kepulauan RRia

Manusia sering kali begitu mudah membicarakan kesalahan orang lain. Lidah terasa ringan mengulang cerita tentang keburukan seseorang, menilai kehidupan orang lain, bahkan menjadikan aib sesama sebagai bahan percakapan sehari-hari. Padahal, setiap ucapan yang keluar dari mulut manusia bukanlah sesuatu yang akan hilang begitu saja. Semua akan menjadi bagian dari pertanggungjawaban moral, sosial, bahkan spiritual di hadapan Tuhan.

Ironisnya, orang yang sedang dibicarakan terkadang justru sedang berusaha memperbaiki dirinya. Ia memilih diam, menyesali kesalahannya, memperbaiki hubungan dengan keluarganya, memperbanyak ibadah, dan mencoba bangkit dari keterpurukan hidupnya. Sementara orang-orang di sekelilingnya sibuk menghakimi tanpa pernah benar-benar memahami luka, penyesalan, dan perjuangan batin yang sedang ia hadapi.

Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga pernah hidup dalam dinamika masyarakat kampung, termasuk di Balangpasui, sebuah wilayah di Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Kampung yang dahulu dikenal sederhana, penuh keterbatasan, dan jauh dari kemajuan modern itu menyimpan banyak pelajaran berharga tentang kehidupan sosial masyarakat.

 

Dulu, masyarakat Balangpasui hidup dalam keadaan yang sangat sederhana. Air minum bersih sulit diperoleh. Banyak warga harus berjalan jauh untuk mendapatkan air yang layak digunakan sehari-hari. Infrastruktur belum memadai. Pendidikan masih terbatas. Kehidupan masyarakat berjalan dengan tradisi yang sangat kuat. Sebagian masyarakat masih mempercayai berbagai bentuk tahayul yang diwariskan turun-temurun. Kepercayaan terhadap tanda-tanda tertentu, mitos, dan hal-hal mistis menjadi bagian dari kehidupan sosial yang dianggap biasa pada masa itu.

 

Namun di balik segala keterbatasan tersebut, masyarakat Balangpasui memiliki kekuatan sosial yang luar biasa, yaitu gotong royong dan solidaritas kemanusiaan. Mereka hidup saling membantu tanpa banyak perhitungan materi. Ketika ada warga yang membangun rumah, masyarakat datang membantu tanpa diminta. Bahkan memindahkan rumah panggung dilakukan secara bersama-sama dengan tenaga kolektif. Pemandangan puluhan orang mengangkat rumah panggung secara gotong royong menjadi simbol kuat bahwa kebersamaan jauh lebih penting daripada kepentingan pribadi.

Tidak hanya itu, tradisi budaya seperti assipere juga menjadi warna indah dalam kehidupan masyarakat Balangpasui. Saat musim panen jagung tiba dan masyarakat berkumpul membuka kulit jagung, suara nyanyian saling bersahutan dari satu rumah ke rumah lain. Tradisi itu bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk komunikasi sosial yang mempererat hubungan antarsesama warga. Dalam suasana malam kampung yang sunyi, nyanyian assipere menghadirkan kehangatan, kebersamaan, dan rasa kekeluargaan yang sangat kuat.

Masyarakat juga terbiasa saling membantu dalam menanam padi dan jagung. Mereka memahami bahwa hidup di kampung tidak mungkin dijalani sendiri. Kesulitan satu keluarga menjadi perhatian bersama. Karena itu, budaya gotong royong tumbuh alami sebagai bagian dari cara hidup masyarakat. Nilai kebersamaan lebih diutamakan daripada individualisme seperti yang banyak terlihat dalam kehidupan modern saat ini.

Namun kehidupan masyarakat Balangpasui pada masa lalu juga tidak lepas dari sisi kerasnya budaya harga diri. Dalam masyarakat Turatea, siri’ atau harga diri memiliki posisi yang sangat penting. Harga diri dianggap sesuatu yang harus dijaga, bahkan terkadang lebih penting daripada keselamatan diri sendiri. Ketika terjadi persoalan yang dianggap mempermalukan keluarga, konflik dapat berubah menjadi pertikaian serius.

Kasus kawin lari misalnya, sering kali menjadi pemicu konflik besar antarkeluarga. Dalam beberapa keadaan, persoalan itu dapat berujung pada perkelahian, saling menikam, bahkan pertumpahan darah. Emosi dan rasa malu sosial membuat sebagian orang sulit mengendalikan diri. Mereka lebih memilih mempertahankan gengsi daripada menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

Di sinilah pentingnya refleksi tentang menjaga lisan dan menjaga hati. Banyak konflik sebenarnya berawal dari ucapan. Dari gunjingan, ejekan, penghinaan, atau kata-kata yang melukai harga diri orang lain. Lidah yang tidak dijaga mampu menghancurkan hubungan keluarga, memecah persaudaraan, bahkan memicu kekerasan sosial.

Masyarakat Balangpasui masa lalu mengajarkan dua sisi kehidupan yang sangat penting. Di satu sisi, mereka memiliki solidaritas dan gotong royong yang luar biasa. Namun di sisi lain, mereka juga pernah terjebak dalam kerasnya ego dan pertarungan harga diri. Dari sana kita belajar bahwa manusia selalu memiliki kekurangan dan kelebihan dalam hidupnya.

Karena itu, tidak sepantasnya seseorang merasa paling suci lalu sibuk membicarakan kesalahan orang lain. Bisa jadi orang yang pernah jatuh justru sedang berjuang menjadi lebih baik di hadapan Tuhan. Sementara mereka yang gemar menghakimi tanpa introspeksi justru terjebak dalam dosa kesombongan dan merasa paling benar.

Hari ini masyarakat sudah banyak berubah. Balangpasui dan berbagai kampung lainnya perlahan bergerak menuju kehidupan yang lebih maju. Pendidikan semakin terbuka, teknologi mulai masuk ke desa-desa, dan pola pikir masyarakat mulai berkembang. Namun nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa saling peduli jangan sampai hilang ditelan modernisasi.

Kemajuan tidak hanya diukur dari pembangunan jalan, rumah, atau teknologi, tetapi juga dari kematangan akhlak masyarakatnya. Kampung akan benar-benar maju jika masyarakatnya mampu menjaga lisan, menghormati sesama, menyelesaikan persoalan dengan bijak, dan tidak mudah menghakimi kehidupan orang lain.

Sebab manusia yang paling mulia bukanlah mereka yang tidak pernah salah, melainkan mereka yang mau menyadari kesalahannya lalu memperbaiki diri. Dan masyarakat yang paling kuat bukanlah masyarakat yang keras mempertahankan ego, tetapi masyarakat yang mampu menjaga persaudaraan, saling memaafkan, dan bersama-sama membangun kehidupan yang lebih damai serta bermartabat.