Mahasiswa Asal Sumba Barat Daya Gelar PKM di Depok, Edukasi Pelajar tentang Bahaya Kekerasan Berbasis Gender di Media Sosial

Pemerintah150 views

MabesNews.com, DEPOK, JAWA BARAT – Mahasiswa asal Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Pamulang (Unpam), melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SMA Muhammadiyah Pesantren Depok dengan mengusung tema “Upaya Penanggulangan Kekerasan Berbasis Gender di Media Sosial.” Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman pelajar mengenai bahaya kekerasan berbasis gender di ruang digital sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya etika dalam menggunakan media sosial.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan edukasi mengenai berbagai bentuk kekerasan berbasis gender yang kerap terjadi di media sosial, seperti pelecehan, perundungan (bullying), penghinaan, ancaman, hingga penyebaran informasi atau konten pribadi tanpa persetujuan. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai dampak yang dapat dialami korban, mulai dari tekanan psikologis hingga trauma yang berkepanjangan.

 

Melalui pemaparan materi dan diskusi interaktif, para pelajar diajak memahami bahwa ruang digital bukanlah tempat yang bebas dari tanggung jawab. Setiap unggahan, komentar, maupun pesan yang dibagikan di media sosial memiliki konsekuensi dan dapat memberikan dampak nyata terhadap kehidupan orang lain.

 

Mahasiswa menjelaskan bahwa penggunaan media sosial yang bijak harus dilandasi sikap saling menghormati, menjaga privasi, serta menghindari segala bentuk tindakan yang dapat merugikan orang lain. Edukasi tersebut juga menekankan pentingnya berpikir sebelum mengunggah atau membagikan suatu konten agar tidak menjadi bagian dari penyebaran kekerasan maupun perundungan di dunia maya.

 

Pelajar dinilai sebagai kelompok yang perlu mendapatkan literasi digital karena aktivitas mereka di media sosial terus meningkat. Oleh sebab itu, peserta didorong untuk lebih kritis dalam mengenali bentuk-bentuk kekerasan berbasis gender serta memahami langkah yang dapat dilakukan apabila menemukan tindakan tersebut di ruang digital.

 

Selain memberikan pemahaman mengenai pencegahan, mahasiswa juga menjelaskan pentingnya memberikan dukungan kepada korban dan tidak ikut memperburuk keadaan melalui komentar, penyebaran ulang konten, maupun tindakan lain yang dapat memperluas dampak kekerasan. Sikap saling menghormati dan menghargai hak setiap individu menjadi bagian penting dalam membangun budaya digital yang sehat.

 

Kegiatan PKM tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi ilmu yang diperoleh mahasiswa selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Melalui pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa memiliki kesempatan untuk menerapkan pengetahuan akademik dalam menjawab persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan penggunaan media sosial oleh generasi muda.

 

Dalam kesempatan itu, mahasiswa juga menyampaikan bahwa pencegahan kekerasan berbasis gender tidak cukup hanya dilakukan dengan mengimbau masyarakat agar berhati-hati menggunakan media sosial. Generasi muda juga perlu mengetahui mekanisme pelaporan apabila menemukan tindakan pelecehan, perundungan, maupun bentuk kekerasan lainnya sehingga korban dapat memperoleh perlindungan dan penanganan yang tepat.

 

Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap para pelajar dapat menerapkan nilai-nilai etika digital dalam kehidupan sehari-hari, menghormati privasi orang lain, menggunakan media sosial secara bertanggung jawab, serta berani melaporkan apabila menemukan tindakan yang mengarah pada kekerasan berbasis gender di ruang digital.

 

Kegiatan PKM tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari kewajiban akademik, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui peningkatan literasi digital serta penguatan kesadaran akan pentingnya menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan saling menghormati.

 

Liputan MabesNews.com

 

Penulis: Martinus Kondo