Hutan Hilang, Kampung Tenggelam

L K Ara

 

Hutan Hilang, Kampung Tenggelam

 

Dari langit,

kampung itu tampak seperti tubuh

yang baru selesai disayat zaman.

Sungai turun membawa lumpur,

membawa batang kayu,

membawa suara gunung

yang lama menahan sakitnya.

Sawah-sawah hijau

yang dahulu mengaji kepada hujan,

kini rebah

di bawah arus coklat

yang mengamuk seperti tentara lapar.

Rumah-rumah terbuka dadanya.

Jalan-jalan kehilangan arah.

Dan manusia berdiri

di antara lumpur dan takdir

sambil bertanya:

siapa sebenarnya

yang menebang bencana?

Bukit-bukit itu dahulu hening.

Pohon-pohon berdzikir sepanjang malam.

Akar-akar memegang bumi

seperti tangan para wali

menggenggam tasbih kesabaran.

Tetapi manusia modern

datang membawa gergaji,

membawa peta tambang,

membawa pidato pembangunan.

Hutan dipandang

bukan lagi amanah Tuhan,

melainkan angka-angka

yang dapat dipindahkan

ke rekening kekuasaan.

Dan gunung mulai kehilangan doanya.

Di ruang-ruang rapat

mereka menyebut investor

seperti menyebut penyelamat.

Di meja-meja panjang

ditandatangani surat dukungan

oleh rakyat yang lapar—

rakyat yang perlahan diajari

menjual tanah leluhurnya sendiri

demi janji kemakmuran.

Betapa sunyi hati negeri ini.

Manusia tak lagi sujud kepada bumi,

melainkan kepada alat-alat berat

yang menggali perut gunung

siang dan malam.

Padahal tanah yang disakiti

tak pernah lupa

cara mengirim peringatan.

Banjir ini bukan sekadar air.

Ia adalah zikir alam

yang berubah menjadi murka.

Ia adalah tangisan akar

yang tercerabut dari tubuh bumi.

Ia adalah khutbah Tuhan

yang turun bersama lumpur

agar manusia belajar kembali

arti amanah.

Bahwa hutan

bukan sekadar warisan nenek moyang,

melainkan titipan anak cucu

yang belum lahir.

Kini dari udara

kampung itu seperti sajadah robek.

Sungai menjulur panjang

bagai ular lumpur

yang mencari jalan pulang

ke hati manusia

yang telah mengeras.

Aku memandang semuanya

dengan dada yang retak.

Tak banyak kata tersisa.

Hanya gema tua

dari tanah

yang kehilangan penjaganya.

 

Kalanareh, Mei 2026