MabesNews.com, Bapak-Ibu hadirin yang berbahagia, sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan kami sebagai tuan rumah Kabupaten Morowali, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh hadirin yang telah berkenan hadir.
Untuk mengawali acara ini, marilah kita saksikan bersama sebuah penampilan tari tradisional Bungku Kabupaten Morowali. Tarian ini merupakan tarian yang selalu ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu kehormatan di Kabupaten Morowali.
Mari kita saksikan tari tradisional Bunginda. Selamat menyaksikan.
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.
Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, Rahayu.
Bapak-Ibu yang kami hormati, izinkan kami membacakan sinopsis tari tradisional masyarakat Bungko, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Masyarakat Bungku Kabupaten Morowali memiliki satu tarian tradisional bernama Tari Bunginda atau Tari Luminda.
Tari Luminda merupakan tari rakyat yang memiliki arti: lumako berarti “jalan”, sedangkan minda atau mempindaki berarti injakan. Makna dari tari ini menggambarkan perjalanan dengan injakan kaki ke belakang yang dilakukan secara perlahan.
Gerakan tari Luminda mencerminkan tata kehidupan masyarakat sebagai perwujudan simbol adat, agama, dan etika yang telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap gerak dalam tari Luminda diselingi nyanyian tindi renggo-renggo dan tindi banti-banti.
Nyanyian tindi renggo-renggo mengandung sindiran dan perumpamaan tentang keinginan untuk berbuat baik kepada orang lain sesuai kenyataan.
Adapun tindi banti-banti merupakan pernyataan melalui sindiran tentang adanya suatu keinginan terhadap orang lain.
Gerak tari Luminda terdiri dari:
– Tope Somba (penghormatan awal)
– Tumade Samba
– Lumakwako Samba
– Losa-Losa
– Ganda Mefunyi Lepadat
– Tumaden Tina
– Mompa Nyifir
– Tope Somba (penghormatan akhir)
Tari Luminda merupakan tari tradisional persembahan yang ditampilkan pada upacara penobatan Raja Bungku serta acara adat bagi kaum bangsawan Bungku.
Berikut adalah para peserta Tari Luminda:
Penari Putri:
– Milayanti Atamimi SPdI
– Fakmawadi Umar SPdI
– Marhuat SPdI
– Asjidan SPdI
– Safrina SPdI
– Nutwa SPdI
Penari Putra:
– Muhammad Rialdi Balisamba SPdI
– Safihi SPdI
– Muhammad Ikrar S.Sos
– Asri Ma’ar SPdI
– Fuat Mawardi Aimar Putri
– Adrisal SPdI
Penata Rias: Suli Maptula Bungarha SPdI
Penata Musik: Penabur Geden, Asniya Ma’ruf SAG MM
Ketua PGI Kecamatan Bungku Barat: Muhammad Syarif SPdI, Azhar
Penata Tari: Abdul Muqim SPdI
Suasana penuh semangat terlihat dalam aksi solidaritas para guru yang berlangsung di Kabupaten Buol. Acara tersebut diawali dengan yel-yel kebersamaan yang dipimpin oleh salah satu peserta, menyerukan “Hidup guru, hidup PGRI, solidaritas!”, yang kemudian disambut kompak oleh seluruh peserta aksi.
Dalam momentum itu, semangat persatuan ditunjukkan lewat teriakan bersama: “Siapa kita? – Kita! Indonesia!” Yel-yel tersebut menggema dan menambah energi kebersamaan para guru yang hadir dari berbagai wilayah.
Salah satu perwakilan peserta yang mengambil mikrofon kemudian menyapa hadirin sambil memastikan asal daerah para peserta yang hadir. Ia menegaskan bahwa kehadiran guru-guru tersebut merupakan bentuk nyata dukungan terhadap perjuangan profesi pendidik.
“Buol ya? Buol, bukan untuk orang lain,” ucapnya dengan tegas, disambut sorakan dukungan dari peserta lainnya. Ia juga menyampaikan bahwa sekitar 50 orang dari rombongannya turut hadir dalam aksi kali ini.
Saat ditanya berasal dari desa mana, peserta lain menjelaskan bahwa mereka datang dari Desa Lathia dan Desa Palleleh, Kecamatan Paleleh. Kemudian, seorang peserta lain menimpali dengan penuh kebanggaan, “Kalau saya dari Kecamatan Bokan, bukan kaleng-kaleng!”
Aksi solidaritas ini menunjukkan bahwa para guru di Kabupaten Buol memiliki tekad kuat untuk memperjuangkan hak, martabat, serta peran strategis mereka dalam mencerdaskan generasi bangsa. Semangat persatuan dan kebersamaan yang terpancar di lapangan menggambarkan betapa pentingnya peran guru di tengah masyarakat.
(Mariam)






