Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau
MabesNews.com, Ada malam-malam tertentu ketika kenangan tidak sekadar hadir, tetapi menjelma menjadi peristiwa yang hidup kembali. Dalam sunyi yang menetes perlahan, ingatan tentang Talasalapang berdenyut dengan hangat membawa wajah-wajah lama, suara-suara akrab, dan terutama alunan puisi Kakanda Abdul Majid Binfas yang pernah menggema di sudut-sudut kampus Universitas Muhammadiyah Makassar.
Di pelataran kampus itulah kita pernah menjadi mahasiswa yang lebih banyak bermimpi daripada mengeluh. Kita duduk bersisian, bukan hanya untuk mendengarkan dosen menjelaskan teori, tetapi untuk merancang masa depan melalui percakapan panjang tentang sastra, kehidupan, dan cita-cita. Bahasa bagi kita bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang perenungan; ia menjadi jembatan antara idealisme dan kenyataan.
Talasalapang pada masa itu masih dikelilingi bentangan rawa-rawa dan hamparan sawah yang luas. Angin sore mengalir pelan, membawa aroma tanah basah dan suara desir padi yang menguning. Kampus belum menjulang megah. Hanya tiga fakultas yang berdiri sederhana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ekonomi saling berhadapan seperti tiga sahabat yang tengah berdialog tentang masa depan bangsa. Kesederhanaan itu justru melahirkan kedekatan; jarak antar gedung bukanlah pemisah, melainkan ruang temu yang mempertemukan gagasan dan persahabatan.
Di tengah lanskap alam yang bersahaja itu, Teater Badai menjadi rumah kedua kita. Di sanalah kita berlatih, tertawa, berdebat, dan sesekali berselisih paham demi satu tujuan: menghadirkan pertunjukan yang jujur dan bermakna. Panggung kecil itu menyimpan jejak langkah kita jejak gugup sebelum tampil, tepuk tangan sederhana dari kawan-kawan, dan tatapan serius ketika naskah dibaca dengan penuh penghayatan.
Kakanda Abdul Majid Binfas, engkau adalah sosok yang memberi warna tersendiri dalam perjalanan itu. Ketika engkau membacakan puisi, suasana berubah menjadi sunyi yang khidmat. Kata-katamu melayang lembut, menyentuh relung terdalam pendengar. Rasanya seperti menyaksikan dialog antara langit dan bumi antara imajinasi dan realitas. Setiap bait yang kau ucapkan tidak hanya disusun dengan cermat, tetapi juga dihidupkan dengan kesungguhan. Engkau mengajarkan bahwa puisi adalah keberanian untuk membuka hati, dan teater adalah ruang untuk menyuarakan nurani.
Dalam kebersamaan itu, kita belajar arti loyalitas dan penghormatan. Engkau membimbing tanpa merasa paling tahu, mengarahkan tanpa menggurui. Dari sikapmu, aku memahami bahwa menjadi senior bukan tentang jarak, melainkan tentang keteladanan. Persahabatan yang lahir dari proses kreatif seperti itu bukanlah relasi sesaat; ia tumbuh menjadi ikatan batin yang bertahan melampaui ruang dan waktu.
Kini, ketika Talasalapang mungkin telah berubah rupa dan bangunan-bangunan modern menggantikan sawah dan rawa, kenangan itu tetap utuh dalam ingatan. Teater Badai mungkin telah berganti generasi, namun gema suara dan semangatnya masih terasa. Di antara perubahan zaman, yang tak berubah adalah rasa syukur pernah menjadi bagian dari fase itu fase ketika idealisme begitu murni, ketika sastra dipercaya mampu menyentuh kesadaran, dan ketika persahabatan tumbuh tanpa pamrih.
Malam ini, saat langit kembali membentang seperti kanvas gelap yang luas, aku menyadari bahwa kenangan bukan sekadar nostalgia. Ia adalah sumber kekuatan. Dari panggung sederhana di Talasalapang, kita belajar bahwa kata-kata memiliki daya hidup, dan persahabatan memiliki daya tahan. Dalam alunan puisi Kakanda Abdul Majid Binfas dan kebersamaan kita di Teater Badai, tersimpan api kecil yang terus menyala api yang menjaga semangat berkarya, semangat mengabdi, dan semangat mencintai sastra dengan sepenuh jiwa.













