Mabesnews.com, Jakarta, 3 Mei 2026 – Dalam kegiatan memperingati Hari Pendidikan Nasional (2 Mei 2026), yang dihadiri oleh Forum Kebangsaan & Bela Negara Sarjana Pancasila, PPWI, GAKORPAN, LBH Pers Prima Presisi Polri, serta LBH Rumah Besar Relawan Prabowo 08 dan LBH Gerakan Solidaritas Nasional Suara Rakyat untuk Keadilan, Hukum, dan HAM, sejumlah tokoh turut memberikan pandangan.
Di antaranya Dr. Bernard BBI Siagian, SH, MAkp (Ketua DPP GAKORPAN), David Sianipar, SH, MH, serta Rev. Marcel Gerungan, SH (praktisi hukum).
Pada hari tersebut, publik kembali disuguhkan dinamika politik yang menarik. Hanya dalam hitungan hari setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ucapan selamat Hari Buruh dengan pernyataan tegas terhadap pengusaha nakal, situasi berubah drastis.
Dalam momentum demonstrasi besar kaum buruh, langkah taktis Presiden dinilai mampu meredam gejolak hanya dalam waktu sekitar 90 menit melalui pertemuan di Istana. Bahkan, langkah strategis berikutnya dengan melibatkan sejumlah tokoh vokal buruh ke dalam struktur kabinet menjadi kejutan besar yang meredakan potensi “gelombang badai” aksi May Day.
Suasana ibu kota yang biasanya mencekam saat peringatan Hari Buruh mendadak berubah cair. Ketegangan berganti menjadi suasana harmonis, penuh keakraban, dan senyuman.
Presiden Prabowo dinilai piawai dalam melakukan lobi politik. Dengan pendekatan yang elegan dan rekonsiliatif, ia mampu meredakan ketegangan massa buruh tanpa harus mengandalkan pendekatan keamanan secara dominan, meskipun aparat tetap disiagakan.
Salah satu sorotan publik tertuju pada sosok Muhammad Jumhur Hidayat, yang selama ini dikenal sebagai ikon perlawanan buruh. Kini, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup setelah dilantik pada akhir April 2026. Langkah ini dianggap sebagai “kartu as” yang meredam potensi eskalasi gerakan buruh.
Perubahan sikap juga terlihat dari Said Iqbal, Presiden Partai Buruh, yang biasanya lantang dalam orasi. Setelah pertemuan singkat di Istana, rencana aksi besar di Gedung DPR RI pada May Day 1 Mei 2026 dibatalkan. Ia justru mengajak buruh merayakan Hari Buruh bersama Presiden di kawasan Silang Monas.
Fenomena ini menjadi perhatian para pengamat politik. Agenda yang sebelumnya berpotensi menjadi aksi besar berubah menjadi kegiatan yang lebih bersifat silaturahmi. Hal ini memunculkan pertanyaan publik: apakah 11 tuntutan buruh benar-benar diperjuangkan, ataukah mengalami pergeseran dalam proses kompromi politik?
Penutup
May Day 2026 di kawasan Silang Monas menjadi momentum yang berbeda. Dari potensi aksi besar, berubah menjadi ajang kebersamaan dan silaturahmi dengan Presiden.
Perubahan ini menggambarkan dinamika baru dalam hubungan antara pemerintah dan gerakan buruh. Sebuah pendekatan yang mengedepankan dialog dan rekonsiliasi, meskipun tetap menyisakan ruang pertanyaan bagi publik terkait arah perjuangan aspirasi buruh ke depan.
Selamat Hari Buruh Internasional, 1 Mei 2026. Semoga seluruh aspirasi kaum buruh dapat terakomodasi secara adil, dan menjadi bagian dari upaya bersama menuju Indonesia Emas 2045.
Tim Investigasi DPP GAKORPAN & LBH Pers
Reporter: Iks B. Pers













