SETAHUN TANPA ATAP, WARGA WETARU BERJUANG DI TENGAH KETERBATASAN DAN PENYAKIT

MabesNews.com, Kodi Utara, Sumba Barat Daya – Kisah perjuangan hidup masih dirasakan oleh masyarakat kecil di pelosok desa. Salah satunya dialami oleh Andreas Mete, warga Henda Ate, Dusun I, Desa Wetaru, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Sudah hampir satu tahun rumah yang dibangun Andreas Mete belum juga selesai. Keterbatasan ekonomi memaksanya menghentikan proses pembangunan di tengah jalan. Hingga kini, rumah tersebut masih belum memiliki atap yang memadai sehingga belum dapat memberikan kenyamanan dan perlindungan yang layak bagi keluarganya.

Kondisi yang dihadapi Andreas semakin berat karena dirinya juga sedang mengalami gangguan kesehatan. Ia mengaku menderita sakit pada mata sebelah kiri yang hingga saat ini masih dirasakan. Di sisi lain, kebutuhan pendidikan anak-anak yang masih bersekolah juga menjadi tanggung jawab yang harus dipenuhi setiap hari.

Sebagai kepala keluarga, Andreas hanya mengandalkan hasil kebun untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Penghasilan yang tidak menentu membuatnya harus membagi pendapatan yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, biaya pendidikan anak, pengobatan, serta melanjutkan pembangunan rumah yang belum selesai.

Menurut Andreas, rumah tersebut masih membutuhkan berbagai material bangunan, seperti seng, kayu, dan paku agar proses pembangunan dapat dilanjutkan hingga layak dihuni. Namun, dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, kebutuhan tersebut sulit dipenuhi tanpa adanya bantuan dari pihak lain.

Di tengah situasi yang dihadapinya, Andreas Mete berharap adanya perhatian dan dukungan dari Pemerintah Desa Wetaru maupun pihak-pihak terkait. Harapan tersebut bukan semata-mata meminta belas kasihan, melainkan sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap warga yang sedang mengalami kesulitan ekonomi dan masalah kesehatan secara bersamaan.

Kisah yang dialami Andreas Mete menjadi pengingat bahwa masih ada warga yang berjuang keras untuk memperoleh tempat tinggal yang layak bagi keluarganya. Di saat pemerintah terus mendorong pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, perhatian terhadap warga yang berada dalam kondisi rentan juga perlu menjadi prioritas.

Pemerintah desa sebagai lembaga yang paling dekat dengan masyarakat diharapkan dapat membuka ruang kepedulian dan empati terhadap kondisi warganya. Kehadiran pemerintah tidak hanya diukur dari program pembangunan fisik, tetapi juga dari sejauh mana mampu mendengar serta merespons kebutuhan masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.

Perjuangan Andreas Mete mungkin hanya satu dari sekian banyak kisah yang ada di tengah masyarakat. Namun, bagi keluarganya, bantuan berupa material bangunan maupun dukungan lainnya dapat menjadi harapan besar untuk mewujudkan rumah yang aman dan layak ditempati setelah satu tahun menunggu dalam keterbatasan.

Sebagai wartawan MabesNews.com, saya melihat kisah Andreas Mete bukan sekadar persoalan rumah yang belum selesai dibangun, melainkan gambaran nyata perjuangan warga kecil yang harus menghadapi tekanan ekonomi dan masalah kesehatan secara bersamaan. Ketika ada warga yang selama setahun belum mampu memasang atap rumah karena keterbatasan biaya, kondisi tersebut patut mendapat perhatian serius dari pemerintah desa maupun pihak terkait.

Kepedulian sosial tidak selalu harus menunggu program besar. Kehadiran pemerintah akan lebih dirasakan ketika mampu melihat dan merespons kesulitan warganya secara nyata. Semoga kondisi yang dialami Andreas Mete dapat menjadi perhatian bersama sehingga keluarga ini memperoleh bantuan yang dibutuhkan untuk melanjutkan pembangunan rumah dan menjalani kehidupan yang lebih layak.

 

Tim Lapangan

 

Martinus Kondo