Orang-Orang yang Beruntung di Sisi Allah SWT: Refleksi Khutbah Jumat di Tengah Proyek Data Center Bromo Batam

Oleh: Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.

MabesNews.com, Di tengah derasnya arus kehidupan modern yang sarat dengan kompetisi, teknologi, dan pembangunan ekonomi, manusia sering kali terjebak dalam cara pandang yang sempit tentang makna keberuntungan. Banyak orang menilai keberhasilan dari ukuran materi: jabatan yang tinggi, kekayaan yang melimpah, atau posisi strategis dalam struktur sosial. Namun Islam memberikan perspektif yang jauh lebih mendalam. Keberuntungan sejati bukanlah sekadar keberhasilan duniawi, melainkan keberuntungan di sisi Allah SWT, yakni keberuntungan yang menyelamatkan manusia di dunia sekaligus di akhirat.

Renungan tentang makna keberuntungan ini menjadi inti dari khutbah Jumat yang saya sampaikan di sebuah musholla sederhana di tengah kawasan proyek KSO PP–ADHI Project Data Center Bromo Batam yang berada di kawasan industri Kabil, Kota Batam. Proyek strategis tersebut merupakan salah satu proyek infrastruktur teknologi yang penting, yang dikerjakan oleh kerja sama operasi antara PT Pembangunan Perumahan (PP) dan PT Adhi Karya. Di tengah pembangunan fasilitas teknologi modern yang menjadi tulang punggung ekosistem digital masa depan, terdapat sebuah musholla kecil yang menjadi ruang spiritual bagi para pekerja proyek.

Di tempat itulah para pekerja proyek menunaikan Salat Jumat, beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk aktivitas pembangunan, dan mengingat kembali tujuan hakiki kehidupan manusia.

Perjalanan menuju lokasi tersebut diawali dari komunikasi sederhana yang sarat dengan kehangatan persaudaraan. Pada pagi hari itu, percakapan singkat melalui pesan WhatsApp menjadi awal dari silaturahmi yang bermakna.

“Assalamu Alaikum Wr. Wb. Saya Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd,” tulis saya membuka percakapan.

“Waalaikum salam Wr. Wb., ustad,” jawab Pak Irawan dengan penuh hormat.

Saya kemudian meminta agar lokasi musholla tersebut dibagikan agar perjalanan menuju tempat itu dapat lebih mudah ditemukan.

“Boleh di-share lokasi ya, ketua,” tulis saya.

Pak Irawan kemudian menjelaskan bahwa lokasi tersebut berada di kawasan Kabil, tepatnya di dalam kawasan industri Citra Tubindo yang menjadi bagian dari area proyek KSO PP–ADHI Data Center Bromo Batam.

“Di kawasan Kabil, di dalam kawasan Citra Tubindo,” tulisnya.

Ia juga menjelaskan bahwa musholla tersebut digunakan oleh para pekerja proyek.

“Kita ini proyek, ustad. Musholla ini untuk teman-teman proyek,” tulisnya dengan nada penuh kesederhanaan.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Di tengah aktivitas pembangunan proyek teknologi yang sangat modern, para pekerja tetap menjaga ruang spiritual mereka. Musholla kecil itu menjadi simbol bahwa di balik kemajuan teknologi dan pembangunan fisik, manusia tetap membutuhkan tempat untuk bersujud kepada Sang Pencipta.

Mendengar penjelasan tersebut, saya menyampaikan kesiapan untuk hadir.

“InsyaAllah siap hadir. Semoga tidak nyasar.”

Dalam perjalanan menuju kawasan proyek Data Center Bromo Batam, terlintas berbagai renungan tentang kehidupan manusia. Di tengah era digital yang semakin maju, manusia memiliki akses yang luas terhadap teknologi dan informasi. Namun kemajuan teknologi tidak selalu diiringi dengan kedalaman spiritual. Karena itulah, keberadaan musholla di tengah proyek teknologi modern ini menjadi simbol keseimbangan antara kemajuan dunia dan kedalaman iman.

“Saya otw, mudah-mudahan kita jumpa sebelum masuk waktu Jumat supaya bisa ngobrol ringan sambil bercanda,” tulis saya kembali dalam pesan.

Setelah tiba di lokasi, saya mengabarkan kedatangan saya.

“Saya sudah di masjid, ketua.”

“Baik, saya ke sana ustad,” jawab Pak Irawan.

Tak lama kemudian, para pekerja proyek mulai berdatangan ke musholla tersebut. Mereka datang dengan pakaian kerja yang masih dipenuhi debu proyek, namun wajah mereka memancarkan ketenangan ketika bersiap melaksanakan Salat Jumat. Di tengah proyek pembangunan data center yang menjadi simbol kemajuan teknologi digital, para pekerja itu mengingat bahwa manusia tetap membutuhkan koneksi yang lebih tinggi: koneksi dengan Allah SWT.

Dalam khutbah Jumat tersebut, saya mengangkat tema tentang orang-orang yang beruntung di sisi Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya dalam Surah Al-Mu’minun ayat 1–11.

Ayat tersebut dimulai dengan pernyataan yang sangat kuat: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.” Pernyataan ini memberikan pemahaman bahwa keberuntungan yang sesungguhnya tidak diukur dengan indikator dunia semata, tetapi dengan kualitas iman yang tertanam dalam hati manusia.

Al-Qur’an kemudian menjelaskan karakter orang-orang yang beruntung tersebut. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk dalam salatnya. Kekhusyukan ini bukan sekadar gerakan fisik, tetapi keterhubungan hati dengan Allah SWT yang melahirkan ketenangan dan kedewasaan spiritual.

Orang yang beriman juga menjauhkan diri dari hal-hal yang sia-sia. Mereka tidak menghabiskan waktu untuk kegiatan yang tidak bermanfaat. Setiap detik kehidupan digunakan untuk sesuatu yang bernilai, baik dalam pekerjaan maupun dalam ibadah.

Karakter berikutnya adalah kepedulian sosial melalui zakat. Zakat bukan hanya kewajiban finansial, tetapi juga bentuk solidaritas kemanusiaan yang menegaskan bahwa setiap rezeki yang dimiliki manusia mengandung hak orang lain.

Selain itu, Al-Qur’an menegaskan pentingnya menjaga kehormatan diri. Di tengah dunia modern yang penuh godaan moral, menjaga kesucian diri merupakan bentuk keteguhan iman yang sangat penting.

Orang yang beruntung juga digambarkan sebagai mereka yang menjaga amanah dan menepati janji. Amanah adalah fondasi kepercayaan dalam kehidupan sosial. Tanpa amanah, hubungan antar manusia akan runtuh oleh pengkhianatan.

Di akhir ayat, Allah SWT kembali menegaskan pentingnya menjaga salat secara konsisten. Salat bukan hanya dilaksanakan, tetapi juga dijaga waktunya, dijaga kekhusyukannya, dan dijaga kedisiplinannya.

Sebagai penutup, Allah SWT memberikan kabar gembira yang sangat agung. Orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan menjadi pewaris Surga Firdaus, yaitu surga yang paling tinggi dan paling mulia.

Khutbah Jumat di musholla proyek Data Center Bromo Batam itu memberikan pelajaran yang sangat berharga. Di tengah pembangunan teknologi digital yang canggih, para pekerja tetap menunjukkan kesadaran bahwa kehidupan manusia tidak hanya tentang membangun dunia, tetapi juga tentang mempersiapkan kehidupan akhirat.

Musholla kecil di tengah proyek itu menjadi simbol penting bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan kekuatan spiritual. Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya sedang membangun data center atau infrastruktur teknologi. Manusia juga sedang membangun masa depannya di hadapan Allah SWT.

Dan keberuntungan yang sejati bukanlah ketika manusia berhasil menaklukkan dunia, tetapi ketika ia termasuk dalam golongan orang-orang yang disebut Allah sebagai orang-orang yang beruntung, yang kelak mewarisi Surga Firdaus dan hidup kekal di dalamnya.