Miris, Siswa di Desa Hameli Ate Rela Tinggalkan Sekolah Demi Rawat Orang Tua Lansia dan Perbaiki Rumah Tak Layak Huni

MabesNews.com, SUMBA BARAT DAYA –  Kisah pilu datang dari Desa Hameli Ate, Kampung Nangga Dolo, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Seorang anak usia sekolah terpaksa mengorbankan pendidikannya demi merawat kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia serta hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Peristiwa ini terungkap saat sejumlah guru melakukan kunjungan langsung ke rumah salah satu murid yang beberapa waktu terakhir tidak aktif mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk perhatian dan kepedulian pihak sekolah terhadap kondisi anak didiknya.

Sesampainya di rumah murid tersebut, para guru terlebih dahulu meminta izin serta menyampaikan permohonan maaf kepada kedua orang tua siswa sebelum menanyakan alasan anak mereka tidak lagi rutin masuk sekolah.

Dengan nada sedih, keluarga menjelaskan bahwa mereka sebenarnya tetap mendorong anaknya untuk melanjutkan pendidikan. Namun kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan membuat sang anak memilih tinggal di rumah demi membantu dan merawat orang tuanya.

“Bapa sudah lansia, mama juga mengalami gangguan penglihatan. Anak merasa kasihan melihat kondisi kami sehingga memilih tinggal membantu orang tua,” ungkap keluarga kepada para guru.

Yang semakin menyentuh hati para guru adalah kondisi rumah keluarga tersebut yang sudah tidak layak huni. Dinding rumah tampak rapuh dan membutuhkan perbaikan segera. Bahkan saat kunjungan berlangsung, anak tersebut diketahui sedang mencari alang-alang untuk memperbaiki sementara rumah orang tuanya.

Padahal usia anak itu dinilai belum cukup untuk memikul pekerjaan berat seperti orang dewasa. Namun karena kerasnya kehidupan dan keterbatasan ekonomi keluarga, ia terpaksa bekerja demi membantu orang tua bertahan hidup.

Kondisi tersebut membuat para guru merasa iba dan sedih. Mereka menegaskan bahwa kunjungan itu bukan untuk menyudutkan pemerintah daerah, melainkan murni bentuk kepedulian kemanusiaan terhadap masa depan anak didik mereka.

“Kami hanya berharap keluarga ini bisa segera mendapat perhatian dan bantuan sosial, sehingga anak tersebut dapat kembali sekolah dan melanjutkan cita-citanya,” ujar salah satu guru.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa masih ada masyarakat di pelosok daerah yang hidup dalam kesulitan dan membutuhkan perhatian bersama. Pendidikan anak seharusnya tidak terhenti hanya karena kemiskinan dan keadaan keluarga.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya serta pihak terkait dapat turun langsung melihat kondisi keluarga tersebut dan memberikan bantuan yang layak, baik berupa bantuan sosial maupun program rumah layak huni.

Karena pada akhirnya, daerah-daerah yang belum sepenuhnya terjangkau perhatian bukan semata-mata kesalahan satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat dan pemerintah.

Sementara itu, Martinus Kondo selaku wartawan MABESNEWS.com menilai bahwa peristiwa yang terjadi di Desa Hameli Ate menjadi tamparan keras bagi semua pihak. Menurutnya, masih ada masyarakat kecil yang hidup dalam kondisi memprihatinkan dan belum sepenuhnya mendapat perhatian serius.

Kisah seorang anak yang rela meninggalkan bangku sekolah demi merawat kedua orang tuanya yang lansia dan tinggal di rumah tidak layak huni merupakan potret nyata perjuangan rakyat kecil di tengah keterbatasan ekonomi.

Ia juga mengapresiasi langkah para guru yang turun langsung mengunjungi rumah murid sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral terhadap dunia pendidikan.

“Guru tidak hanya hadir di ruang kelas, tetapi juga hadir melihat langsung kehidupan muridnya di lapangan,” ujarnya.

Dalam persoalan seperti ini, yang dibutuhkan bukan saling menyalahkan, melainkan kepedulian bersama dan langkah nyata agar anak-anak di daerah pelosok tetap mendapatkan hak pendidikan yang layak.

Pemerintah daerah diharapkan lebih aktif turun ke masyarakat untuk memastikan bantuan sosial, program rumah layak huni, serta perlindungan pendidikan benar-benar tepat sasaran. Sebab masih banyak masyarakat kecil yang memilih diam dan bertahan dalam kesulitan tanpa mampu menyampaikan kondisi mereka kepada publik.

Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa kemiskinan sering kali memaksa anak-anak memikul tanggung jawab orang dewasa sebelum waktunya. Jika tidak ada perhatian serius, maka masa depan generasi muda bisa menjadi korban keadaan.

Hingga berita ini diterbitkan, masyarakat masih berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah maupun pihak terkait agar keluarga tersebut dapat memperoleh bantuan sosial dan rumah layak huni, sehingga anak tersebut bisa kembali melanjutkan pendidikan dengan baik.

 

Tim Lapangan

Martinus Kondo