Mabesnews.com – Batam – Peringatan Hari Marwah ke-24 kembali menjadi ruang refleksi bagi masyarakat Melayu untuk memperkuat identitas budaya, menjaga persatuan, serta menanamkan kembali nilai-nilai adat yang diwariskan oleh para leluhur. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang terus bergerak cepat, masyarakat diingatkan agar tidak kehilangan jati diri dan akar budayanya sendiri.
Momentum budaya tersebut tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi juga menjadi pengingat penting bahwa marwah Melayu adalah simbol kehormatan, harga diri, dan kekuatan peradaban yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat Nusantara. Nilai-nilai Melayu yang menjunjung tinggi adab, sopan santun, persaudaraan, serta penghormatan terhadap sesama dinilai tetap relevan untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan modern saat ini.
Dalam pandangan Wahyu Wahyudin, S.E., M.M., menjaga budaya Melayu merupakan tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda yang akan melanjutkan estafet kebudayaan di masa depan. Ia menilai bahwa perkembangan zaman tidak seharusnya membuat masyarakat melupakan sejarah dan warisan budaya yang menjadi identitas bangsa. Kemajuan teknologi dan modernisasi harus mampu berjalan beriringan dengan upaya pelestarian adat istiadat dan nilai luhur budaya Melayu.
Menurutnya, sejarah telah mengajarkan bahwa masyarakat Melayu dikenal sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi kehormatan, kebersamaan, serta nilai musyawarah dalam menyelesaikan persoalan kehidupan. Oleh sebab itu, semangat menjaga marwah harus terus ditanamkan agar masyarakat tidak mudah terpecah oleh perbedaan pandangan maupun pengaruh budaya luar yang dapat mengikis nilai-nilai tradisional.
Ungkapan “Takkan Hilang Melayu di Bumi, Selagi Adat Dijunjung Tinggi” kembali digaungkan sebagai simbol kekuatan budaya yang tetap hidup sepanjang masyarakatnya menjaga adat dan tradisi. Kalimat tersebut bukan sekadar slogan budaya, melainkan pesan moral yang mengandung makna mendalam tentang pentingnya mempertahankan identitas bangsa di tengah perubahan zaman.
Peringatan Hari Marwah juga menjadi momentum mempererat solidaritas sosial dan persaudaraan antarmasyarakat. Dalam kehidupan yang semakin kompleks akibat pengaruh globalisasi, masyarakat diajak untuk kembali memperkuat rasa kebersamaan, saling menghormati, serta menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah sebagai bagian dari kekayaan nasional. Budaya Melayu dipandang bukan hanya sebagai warisan tradisional, tetapi juga sebagai sumber nilai moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat.
Peran generasi muda turut menjadi perhatian utama dalam menjaga keberlangsungan budaya Melayu. Anak-anak muda diharapkan mampu memahami budaya tidak hanya sebatas simbol pakaian adat atau kegiatan seremonial, tetapi juga menghayati nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. Sikap santun dalam bertutur kata, menghormati orang tua, menjaga persatuan, serta mengutamakan musyawarah merupakan bagian dari nilai luhur budaya Melayu yang harus terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Selain itu, pantun Melayu yang hadir dalam peringatan tersebut turut memperkuat suasana kebudayaan dan nilai kebersamaan masyarakat. Pantun bukan hanya karya sastra lisan yang indah untuk didengar, tetapi juga sarana pendidikan moral yang mengandung pesan kehidupan, nasihat, serta ajakan untuk menjaga persatuan dan kehormatan bangsa.
Semangat Hari Marwah ke-24 diharapkan mampu membangkitkan kesadaran masyarakat bahwa budaya merupakan fondasi penting dalam membangun karakter bangsa yang bermartabat. Ketika adat tetap dijaga, sejarah dihormati, dan persatuan terus diperkuat, maka marwah bangsa akan tetap berdiri kokoh di tengah perubahan zaman.
Melalui momentum ini, masyarakat Melayu diharapkan semakin percaya diri menjaga identitas budayanya sekaligus terus berkontribusi dalam membangun bangsa yang maju tanpa kehilangan akar tradisi. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara teknologi, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga kehormatan budaya dan menghargai warisan leluhurnya sendiri. (Nursalim Turatea).













