Fenomena Moralitas Semu di Tengah Masyarakat Modern Menjadi Sorotan Publik

Lainnya55 views

Oleh Dr. NursalimTinggi, S. Pd.,M.Pd

Ketua Afiliasi Pengajar, Peneliti Budaya, Bahasa, Sastra, Komunikasi, Seni dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau | Humas Da,i Kamtibmas Polda Kepri | Ketua Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) Provinsi Kepulauan Riau | Ketua Fahmi Tamami Kota Batam | Ketua Pendiri Yayasan Dewan Dakwah Turatea Indonesia | Gubernur Anak Berani Karena Benar (ABEKABER) Provinsi Kepulauan Riau

 

Mabesnews.com, Perkembangan kehidupan sosial di era modern menghadirkan berbagai dinamika dalam cara masyarakat memandang agama dan moralitas. Di tengah meningkatnya semangat keberagamaan di berbagai kalangan, muncul pula fenomena yang menjadi perhatian publik, yakni semakin maraknya penilaian kesalehan seseorang hanya berdasarkan penampilan luar dan simbol-simbol religius semata. Kondisi ini memunculkan diskusi panjang di tengah masyarakat mengenai pentingnya membedakan antara citra keagamaan dengan kualitas akhlak yang sesungguhnya.

Berbagai pengamat sosial dan tokoh masyarakat menilai bahwa saat ini banyak individu tampil seolah-olah sangat religius melalui cara berpakaian, gaya berbicara, maupun kebiasaan memberikan nasihat keagamaan. Namun di sisi lain, tidak sedikit ditemukan perilaku yang justru bertentangan dengan nilai dasar agama, seperti ketidakjujuran, penyebaran fitnah, tindakan menyakiti sesama, hingga perilaku yang merugikan masyarakat luas. Fenomena tersebut dinilai sebagai bentuk krisis moral yang perlu menjadi perhatian bersama.

Dalam kehidupan sosial, agama sejatinya tidak hanya mengajarkan ritual ibadah, tetapi juga membentuk karakter manusia agar memiliki kepribadian yang jujur, amanah, rendah hati, serta menghargai hak orang lain. Para tokoh pendidikan dan pemerhati sosial menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seseorang dalam beragama bukan hanya terlihat dari simbol-simbol lahiriah, melainkan dari bagaimana nilai agama itu tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Sejumlah kalangan akademisi juga menilai bahwa masyarakat saat ini cenderung mudah terpengaruh oleh pencitraan. Kemajuan media sosial membuat seseorang dapat membangun citra religius dengan sangat cepat di ruang publik. Akan tetapi, di balik tampilan tersebut belum tentu tercermin kualitas moral yang baik. Kondisi ini dinilai dapat menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat, terutama ketika figur yang dianggap religius ternyata melakukan tindakan yang mencederai nilai kemanusiaan dan keadilan.

Fenomena moralitas semu tersebut dinilai semakin memprihatinkan karena berpotensi melahirkan sikap saling menghakimi di tengah masyarakat. Sebagian orang merasa dirinya paling benar dan paling suci sehingga mudah menyalahkan pihak lain tanpa melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri. Padahal dalam ajaran agama, sikap rendah hati dan kemampuan memperbaiki diri merupakan bagian penting dari keimanan seseorang.

Di sisi lain, para pemerhati pendidikan moral mengingatkan bahwa pembentukan karakter bangsa tidak cukup hanya melalui penguatan simbol agama, tetapi harus dibarengi dengan pendidikan etika dan keteladanan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran dalam bekerja, tanggung jawab dalam menjalankan amanah, menjaga lisan, menghormati sesama, serta menjauhi tindakan merugikan orang lain merupakan bentuk nyata dari moralitas yang harus dibangun dalam kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat pun diimbau agar lebih bijak dalam menilai seseorang dan tidak mudah terpesona oleh penampilan luar semata. Nilai manusia tidak hanya diukur dari seberapa sering ia berbicara tentang agama, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu menghadirkan kedamaian, keadilan, dan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Agama pada hakikatnya hadir untuk membangun manusia yang berakhlak mulia dan memperkuat persaudaraan sosial, bukan sekadar menjadi simbol identitas yang dipamerkan di hadapan publik.

Fenomena ini menjadi pengingat penting bahwa moralitas dan integritas tetap menjadi fondasi utama dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi informasi, masyarakat diharapkan mampu menempatkan nilai agama sebagai pedoman perilaku nyata, bukan hanya sebagai tampilan luar yang kehilangan makna.