Bila Penyair Asia Berada di Tepi Danau Laut Tawar

Lainnya49 views

L K Ara

 

Bila penyair-penyair Asia

berada di tepi Danau Laut Tawar,

barangkali mereka tidak segera menulis puisi.

 

Mereka hanya akan diam,

memandang kabut yang turun perlahan

ke bahu-bahu bukit

di Tanah Gayo.

 

Karena ada keindahan

yang terlalu sunyi

untuk segera diterjemahkan

ke dalam kata-kata.

 

Penyair Jepang mungkin

akan membuka telapak tangan,

membiarkan dingin pagi

jatuh seperti bunga sakura

yang terlambat pulang.

 

Lalu ia menulis:

 

“Danau ini tidak berbicara,

tetapi airnya membuat hati

lebih tenang daripada doa.”

 

Penyair Tiongkok

akan teringat lukisan tinta

tentang gunung-gunung tua

dan perahu kecil

yang hilang di antara kabut.

 

Namun di Gayo

ia menemukan sesuatu

yang tidak ada di negerinya:

 

kesedihan yang lembut

dan kedamaian

yang tidak meminta pujian.

 

Penyair India

akan duduk bersila

di bawah pohon pinus,

mendengar desir angin

seperti mantra purba

yang keluar dari tubuh bumi.

 

Ia berkata pelan:

 

“Tanah ini seperti kitab tua

yang belum selesai dibaca manusia.”

 

Penyair Thai

akan teringat kuil-kuil tua

dan lonceng senja

yang bergema dari pegunungan.

 

Namun di tepi danau ini

ia mendengar sesuatu

yang lebih tua dari bunyi logam:

 

suara angin

yang mengaji dedaunan

dan air

yang berzikir kepada batu-batu.

 

Lalu ia berkata:

“Di negeri ini,

alam masih berbicara

dengan bahasa para pertapa.”

Penyair Malaysia

akan tersenyum perlahan

mendengar logat serumpun

yang terasa akrab di telinganya.

Ia memandang kopi mengepul,

perahu kecil di tepian,

serta kabut yang turun

pelan-pelan seperti doa ibu.

Dan ia pun berkata:

“Tanah ini tidak terasa asing.

Seolah Melayu pernah singgah

dan meninggalkan rindunya di sini.”

Sedangkan penyair Arab

akan memandang langit senja

ketika azan magrib

turun dari surau kecil

di pinggir danau.

 

Dan ia pun berbisik:

“Barangkali beginilah wajah bumi

sebelum manusia

belajar menjadi tamak.”

Malam datang perlahan.

Api dinyalakan,

kopi Gayo dituang ke cangkir-cangkir kecil,

dan para penyair Asia

mulai membaca puisi mereka.

Bahasa berbeda-beda,

tetapi angin danau

mengerti semuanya.

Sebab kesedihan manusia

di mana pun tetap sama:

tentang hutan yang hilang,

tentang gunung yang dibelah,

tentang sungai yang mulai keruh,

tentang dunia

yang perlahan lupa

cara mencintai alam.

Lalu seorang ceh didong

berdiri di tengah lingkaran malam,

melantunkan syair tua

tentang leluhur Gayo

yang menjaga gunung

seperti menjaga kehormatan.

Para penyair Asia terdiam.

Mereka sadar

bahwa di tempat seperti inilah

puisi sebenarnya lahir:

 

bukan dari kemewahan kota,

melainkan dari hubungan yang akrab

antara manusia, alam, dan Tuhan.

Dan ketika fajar datang

di atas Danau Laut Tawar,

para penyair itu pulang

dengan mata yang berubah.

Karena mereka tahu,

tidak semua danau

sekadar hamparan air.

Ada danau

yang mampu membuat manusia

ingin menjadi lebih bijaksana.