Oleh: Basok Ridwan
Mabesnews.com. Ada kecenderungan dalam dunia profesional untuk menilai seseorang berdasarkan gelar dan latar belakang pendidikannya. Lulusan Administrasi Negara, misalnya, dianggap paling tepat berada di ruang birokrasi, pemerintahan, kebijakan publik, atau tata kelola kelembagaan.
Sampai sebuah kesempatan memaksa saya keluar dari kotak tersebut dan memasuki dunia yang sama sekali berbeda: pertambangan.
Bukan dunia yang sederhana. Pertambangan menuntut pemahaman teknis, kedisiplinan, kepatuhan terhadap regulasi, keselamatan kerja, kemampuan mengambil keputusan, sekaligus keberanian memikul konsekuensi dari setiap keputusan.
Tantangan itu datang ketika Bapak Ady Indra Pawennari, Ketua Umum Himpunan Penambang Kuarsa Indonesia (HIPKI), memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengikuti pelatihan dan sertifikasi yang berkaitan dengan kompetensi pertambangan.
Saya datang bukan dari latar belakang teknik pertambangan. Karena itu, saya tahu bahwa saya tidak memiliki kemewahan untuk belajar setengah hati. Selama hampir dua minggu, waktu saya habiskan untuk membaca modul, memahami regulasi, mempelajari istilah teknis, serta berdiskusi dengan rekan-rekan yang lebih berpengalaman di bidang pertambangan.
Saya harus mengejar sesuatu yang bagi orang lain mungkin telah dipelajari bertahun-tahun.
Dalam pelatihan dan uji kompetensi di Tanjung Balai Karimun, saya bahkan menjadi satu-satunya peserta. Selama tiga hari, sejak pagi hingga sore, saya berhadapan dengan materi dan pengujian yang menuntut konsentrasi penuh.
Menjadi peserta tunggal membuat saya tidak memiliki tempat untuk bersembunyi.
Ketika akhirnya asesor menyatakan saya lulus, yang saya rasakan bukan sekadar kegembiraan. Ada kelegaan sekaligus kesadaran bahwa sebuah kepercayaan telah berhasil saya pertanggungjawabkan.
Tetapi rupanya, tantangan berikutnya jauh lebih besar.
Saya kemudian dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Teknik Tambang (KTT) pada salah satu perusahaan Bapak Ady Indra Pawennari.
Untuk menjalankan tanggung jawab tersebut, saya kembali melewati proses pengujian dan evaluasi oleh unsur Inspektur Tambang, pejabat teknis Dinas ESDM, dan tim ahli pertambangan.
Pertanyaan tidak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga regulasi, keselamatan kerja, operasional, serta tanggung jawab profesional seorang KTT.
Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus dan disahkan sebagai Kepala Teknik Tambang.
Dari titik itulah saya memahami sesuatu yang sebelumnya tidak saya lihat secara utuh.
Administrasi Negara dan pertambangan memang berbeda secara disiplin, tetapi keduanya bertemu dalam satu fondasi: tata kelola.
Administrasi Negara mengajarkan saya tentang regulasi, kelembagaan, kebijakan, akuntabilitas, dan proses pengambilan keputusan. Dunia pertambangan mengajarkan saya bagaimana semua itu harus diterjemahkan ke dalam realitas lapangan—dengan risiko, tanggung jawab, dan konsekuensi yang nyata.
Aturan menyangkut keselamatan manusia, keberlanjutan lingkungan, kepastian operasional, kepatuhan perusahaan, dan tanggung jawab terhadap masyarakat.
Karena itu, saya tidak melihat perpindahan dari Administrasi Negara ke pertambangan sebagai lompatan yang tidak berhubungan. Justru di sanalah saya menemukan perspektif baru: sebuah tata kelola yang baik membutuhkan kemampuan memahami aturan sekaligus realitas yang diaturnya.
Perjalanan ini juga mengubah cara saya memandang pendidikan.
Pendidikan formal tetap penting. Ia adalah fondasi. Namun, ia bukan batas.
Ijazah menunjukkan dari mana kita memulai; pembelajaran sepanjang hayat menentukan sejauh mana kita dapat berkembang.
Saya tidak pernah menganggap bahwa karena telah mendapatkan sertifikasi dan amanah sebagai KTT, maka proses belajar telah selesai. Justru sebaliknya. Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula kewajiban untuk terus belajar.
Sebab dalam dunia profesional, jabatan bukan sekadar kehormatan.
Pengalaman ini menjadi pengingat bagi siapa pun yang merasa terjebak oleh latar belakang pendidikan atau zona nyaman.
Jangan terlalu cepat mengatakan, “Saya bukan orang teknik.”
Jangan pula menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk membatasi masa depan.
Ketika sebuah tantangan datang, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukanlah, “Apakah saya mampu?”
“Apa yang harus saya pelajari agar saya mampu?”
Keahlian dapat dipelajari. Pengetahuan dapat dikejar. Keterampilan dapat diasah. Tetapi keberanian untuk keluar dari zona nyaman harus dibangun oleh diri sendiri.
Pada akhirnya, perjalanan dari Administrasi Negara menuju dunia pertambangan mengajarkan saya satu hal sederhana:
Jangan biarkan latar belakang menentukan batas masa depan.
Sebab terkadang, kemampuan terbesar dalam diri seseorang justru ditemukan setelah ia berani melangkah ke tempat yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
ARF-6







