Oleh: Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau
MabesNews.com, “Banyak yang terjebak dalam ibadah tapi lupa adab.” Kalimat ini sederhana, namun menyimpan kritik yang dalam terhadap realitas keberagamaan kita hari ini. Di tengah semaraknya kegiatan keagamaan, ramainya majelis taklim, dan meningkatnya antusiasme menjalankan ritual, kita justru dihadapkan pada paradoks: semakin intens ibadah dilakukan, tetapi tidak selalu diiringi dengan keluhuran akhlak.
Ibadah pada hakikatnya bukan hanya relasi vertikal antara manusia dengan Tuhannya, melainkan juga proses pembentukan karakter. Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Artinya, keberhasilan ibadah tidak diukur dari kuantitas gerakan atau panjangnya bacaan, melainkan dari dampaknya terhadap perilaku. Jika seseorang rajin beribadah tetapi lisannya masih melukai, tangannya masih merugikan, dan sikapnya masih merendahkan orang lain, maka ada sesuatu yang belum utuh dalam pemahamannya tentang penghambaan.
Adab adalah ruh dari ibadah. Ia adalah etika batin dan lahir yang memancarkan nilai ketakwaan dalam kehidupan sosial. Adab tercermin dalam cara berbicara yang santun, dalam sikap menghargai perbedaan, dalam kemampuan menahan amarah, serta dalam kejujuran dan amanah. Tanpa adab, ibadah berisiko menjadi simbol kosong—terlihat khusyuk di ruang privat, namun kehilangan empati di ruang publik.
Fenomena ini tidak jarang muncul dalam ruang-ruang sosial kita. Di media sosial, misalnya, kita menyaksikan perdebatan keagamaan yang keras, bahkan saling merendahkan. Ironisnya, perdebatan itu sering kali dilakukan oleh mereka yang aktif dalam ritual ibadah. Padahal Rasulullah dikenal bukan hanya karena ketekunan ibadahnya, tetapi juga karena keluhuran akhlaknya. Spiritualitas dalam Islam selalu terikat dengan kemanusiaan; semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin lembut dan arif sikapnya kepada sesama.
Sebagai insan pendidikan dan kebudayaan, kita perlu menegaskan kembali bahwa agama tidak hanya diajarkan melalui hafalan dalil, tetapi melalui internalisasi nilai. Pendidikan agama harus melahirkan pribadi yang tidak sekadar paham hukum, tetapi juga memiliki sensitivitas moral. Kesalehan ritual harus berjalan seiring dengan kesalehan sosial. Ibadah yang benar semestinya memperkuat komitmen terhadap keadilan, kepedulian, dan kemaslahatan bersama.
Dalam tradisi intelektual Islam, para ulama besar selalu menempatkan adab di atas ilmu. Ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan, sementara ibadah tanpa adab dapat melahirkan kemunafikan sosial. Oleh sebab itu, keseimbangan antara keduanya menjadi keniscayaan. Ibadah yang sejati adalah ibadah yang melunakkan hati, menumbuhkan empati, dan menggerakkan seseorang untuk menjadi rahmat bagi lingkungannya.
Kita tidak sedang meremehkan pentingnya ritual. Ritual adalah fondasi. Namun fondasi itu harus menopang bangunan akhlak. Tanpa bangunan tersebut, fondasi hanya akan tertanam tanpa makna yang tampak. Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan orang yang rajin beribadah, tetapi juga pribadi-pribadi beradab yang mampu menghadirkan kedamaian, kejujuran, dan integritas di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, refleksi ini mengajak kita untuk menilai ulang kualitas keberagamaan kita. Sudahkah ibadah yang kita lakukan menghadirkan perubahan dalam cara kita memperlakukan orang lain? Sudahkah ia menumbuhkan kerendahan hati dan rasa hormat terhadap sesama? Jika belum, maka perjalanan spiritual itu masih perlu disempurnakan.
Ibadah yang tinggi harus melahirkan adab yang mulia. Ketika keduanya berpadu, lahirlah manusia yang bukan hanya taat secara ritual, tetapi juga indah dalam akhlak dan bermanfaat bagi peradaban.







