Oleh: Abdul Rachman Sappara
(Aktivis HMI Cabang Ujung Pandang Era 80/90-an)
MabesNews.com, Manusia adalah makhluk yang hidup dengan harapan. Tidak ada satu pun langkah yang diambil tanpa didahului oleh harapan. Seorang anak berharap tumbuh menjadi pribadi yang berhasil. Seorang pelajar berharap memperoleh ilmu yang bermanfaat. Seorang pekerja berharap kehidupannya menjadi lebih baik. Bahkan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun, harapan sering kali menjadi cahaya yang membuat seseorang tetap bertahan menjalani hidup.
Namun, persoalan muncul ketika seluruh harapan itu digantungkan kepada manusia. Pada saat seseorang menjadikan manusia sebagai sandaran utama dalam hidupnya, di situlah awal berbagai kekecewaan sering bermula. Manusia memiliki keterbatasan. Ia dapat berubah, lupa, lalai, bahkan tidak mampu memenuhi apa yang diharapkan orang lain. Karena itu, menggantungkan seluruh kebahagiaan kepada sesama manusia sering kali berakhir pada kegelisahan dan penderitaan yang berkepanjangan.
Kenyataan hidup mengajarkan bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat diberikan oleh orang lain. Ada saatnya bantuan yang diharapkan tidak datang. Ada waktunya pertolongan yang dinanti tak kunjung tiba. Bahkan orang-orang yang selama ini dianggap dekat pun terkadang tidak mampu memahami kesulitan yang sedang kita hadapi. Dalam situasi seperti itu, banyak orang merasa kecewa, kehilangan arah, bahkan putus asa. Padahal yang sebenarnya mengecewakan bukanlah manusia itu sendiri, melainkan ekspektasi berlebihan yang kita letakkan pada diri mereka.
Di sinilah pentingnya memahami hakikat ketergantungan dalam kehidupan. Islam mengajarkan bahwa manusia boleh berusaha, bekerja sama, dan saling menolong, tetapi hati tetap harus bergantung kepada Allah SWT. Ketika seseorang menyadari bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu, maka ia akan memiliki ketenangan yang tidak mudah terguncang oleh perubahan keadaan.
Berdoa kepada Allah bukanlah bentuk kelemahan, melainkan puncak kesadaran seorang hamba akan keterbatasannya. Dalam doa, manusia mengakui bahwa dirinya tidak memiliki kekuatan apa pun tanpa pertolongan Tuhan. Kesadaran inilah yang justru melahirkan kekuatan batin yang luar biasa. Orang yang dekat dengan Allah akan tetap bersyukur ketika memperoleh nikmat dan tetap bersabar ketika menghadapi kesulitan. Ia memahami bahwa setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup mengandung hikmah yang mungkin belum dapat dipahami saat ini.
Sejarah kehidupan para nabi dan orang-orang saleh menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya pengaruh yang dimiliki. Kebahagiaan sejati lahir dari kedekatan kepada Allah. Nabi Ibrahim tetap tenang ketika dibakar. Nabi Yusuf tetap sabar ketika dipenjara. Nabi Ayyub tetap bersyukur ketika diuji dengan penyakit yang berat. Mereka tidak menggantungkan harapan kepada makhluk, melainkan kepada Sang Pencipta.
Dalam kehidupan modern yang penuh persaingan dan ketidakpastian, pesan ini menjadi semakin relevan. Banyak orang mengalami stres, kecemasan, dan tekanan hidup karena terlalu bergantung pada pengakuan manusia. Mereka merasa bahagia ketika dipuji dan merasa hancur ketika dicela. Mereka merasa bernilai ketika diterima dan merasa tidak berarti ketika ditolak. Padahal nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh penilaian sesama manusia, melainkan oleh kedudukannya di hadapan Allah SWT.
Hal ini bukan berarti manusia tidak boleh meminta bantuan kepada orang lain. Islam justru menganjurkan kerja sama dan tolong-menolong dalam kebaikan. Namun, bantuan manusia harus dipandang sebagai perantara, bukan sebagai sumber utama pertolongan. Sumber segala pertolongan tetaplah Allah SWT. Dengan cara pandang seperti ini, seseorang akan terhindar dari kekecewaan yang berlebihan dan mampu menjaga keseimbangan jiwanya dalam berbagai situasi.
Pada akhirnya, kehidupan yang penuh ketenangan bukanlah kehidupan yang bebas dari masalah. Kehidupan yang tenang adalah kehidupan yang memiliki tempat bersandar yang tidak pernah mengecewakan. Ketika harapan tertinggi diletakkan kepada Allah SWT, maka kegagalan tidak akan melahirkan keputusasaan, kehilangan tidak akan melahirkan kehancuran, dan kesulitan tidak akan memadamkan optimisme. Sebaliknya, semua itu akan menjadi jalan menuju kedewasaan spiritual dan kebahagiaan yang hakiki.
Karena itu, manusia boleh berharap kepada sesama, tetapi jangan pernah menggantungkan seluruh hidupnya kepada mereka. Letakkan harapan tertinggi hanya kepada Allah SWT. Sebab ketika manusia mendekat kepada Tuhannya, ia tidak hanya menemukan jalan keluar dari penderitaan, tetapi juga menemukan makna, ketenangan, dan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Jakarta Pusat, 4 Juni 2026
Abdul Rachman Sappara
Aktivis HMI Cabang Ujung Pandang Era 80/90-an






