Oleh Abdul Rahman Sappara, SE
Mabesnews.com, Sejarah perjalanan bangsa Indonesia tidak pernah dapat dipisahkan dari peran kaum intelektual muda, khususnya mahasiswa. Di dalam ruang-ruang kampus, gagasan besar tentang masa depan bangsa sering lahir, diperdebatkan, dan kemudian menjadi energi moral bagi perubahan sosial. Dalam konteks itulah organisasi kemahasiswaan Islam memiliki posisi yang sangat penting. Dua di antaranya yang memiliki jejak panjang dalam kehidupan kebangsaan adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Kedua organisasi ini lahir dari kegelisahan intelektual dan spiritual generasi muda Muslim yang menyadari bahwa bangsa yang baru merdeka memerlukan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral dan keagamaan. HMI berdiri lebih awal sebagai gerakan mahasiswa Islam yang berusaha memadukan nilai keislaman dengan semangat kebangsaan, sedangkan IMM lahir dari rahim Muhammadiyah dengan visi membina mahasiswa agar menjadi kader intelektual yang beriman, berilmu, dan beramal bagi kemajuan umat dan bangsa.
Walaupun memiliki latar belakang sejarah dan tradisi organisasi yang berbeda, keduanya sejatinya bergerak dalam horizon perjuangan yang sama, yaitu membangun masyarakat yang beradab dan negara yang berkeadilan. Dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia, kader-kader dari kedua organisasi ini telah banyak memberikan kontribusi nyata dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari dunia pendidikan, birokrasi, politik, hingga gerakan sosial kemasyarakatan.
Jika kita menengok sejarah secara lebih jernih, maka penting untuk membedakan dinamika gerakan mahasiswa Islam sebelum tahun 1966 dan sesudah tahun tersebut. Sebelum tahun 1966, Indonesia berada dalam suasana pertarungan ideologi yang sangat tajam. Pada masa itu, nasionalisme, komunisme, dan Islam menjadi tiga arus besar yang saling berkompetisi dalam mempengaruhi arah perjalanan negara. Dalam situasi seperti ini, HMI memainkan peran penting sebagai salah satu kekuatan mahasiswa yang berusaha mempertahankan keberadaan nilai-nilai Islam dalam kehidupan publik.
Keberanian kader-kader HMI dalam menghadapi arus ideologi yang kuat pada masa itu menjadi bagian penting dari sejarah bangsa. Mereka tidak hanya bergerak dalam ruang intelektual kampus, tetapi juga terlibat dalam dinamika politik yang lebih luas. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa Islam sejak awal telah memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat, yaitu menjaga agar nilai-nilai keagamaan tetap memiliki tempat dalam kehidupan bernegara.
Di sisi lain, IMM yang lahir pada pertengahan dekade 1960-an membawa semangat pembaruan yang sejalan dengan tradisi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modernis. IMM menekankan pentingnya pembinaan intelektual, spiritual, dan sosial bagi kader-kadernya. Dalam pandangan IMM, mahasiswa tidak hanya harus menjadi manusia yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran moral yang tinggi serta komitmen terhadap kemajuan umat.
Sesudah tahun 1966, Indonesia memasuki babak baru dalam sejarah politiknya. Perubahan kekuasaan membawa konsekuensi terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk dinamika organisasi kemahasiswaan. Pada masa ini, gerakan mahasiswa tidak lagi berada dalam situasi pertarungan ideologi yang keras seperti sebelumnya. Fokus perjuangan mulai bergeser ke arah pembangunan nasional dan penguatan peran intelektual dalam masyarakat.
Dalam konteks tersebut, HMI dan IMM terus menjalankan fungsi kaderisasinya dengan menyesuaikan diri terhadap perubahan zaman. Banyak kader dari kedua organisasi ini yang kemudian memasuki berbagai sektor strategis dalam kehidupan nasional. Mereka menjadi akademisi, birokrat, politisi, aktivis sosial, dan pemimpin masyarakat yang membawa nilai-nilai yang mereka peroleh dari proses kaderisasi organisasi.
Pengalaman pribadi saya dalam berinteraksi dengan dunia aktivisme mahasiswa memberikan pemahaman bahwa perbedaan organisasi bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan. Justru dalam banyak kesempatan, perbedaan itu menjadi ruang dialog yang memperkaya cara pandang dan memperkuat komitmen kebangsaan.
Pada usia saya yang kini telah mencapai 64 tahun, refleksi terhadap perjalanan hidup terasa semakin mendalam. Ketika pertama kali datang ke Jakarta pada tahun 1988, saya menyaksikan secara langsung dinamika intelektual para aktivis mahasiswa Islam dari berbagai organisasi. Diskusi, kajian pemikiran, hingga perdebatan ideologis menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun di balik perbedaan pandangan, terdapat satu kesamaan yang sangat kuat, yaitu keinginan untuk melihat Indonesia menjadi negara yang lebih adil, bermartabat, dan berkeadaban.
Dalam perjalanan hidup tersebut, saya selalu berusaha dekat dengan para ustadz dan para guru yang memberikan bimbingan rohani. Nasihat mereka sering mengingatkan bahwa perjuangan dalam organisasi harus dilandasi oleh niat yang tulus. Kekuasaan tidak boleh dijadikan tujuan utama, melainkan harus dipahami sebagai amanah yang harus digunakan untuk menegakkan kebaikan dan keadilan.
Nasihat seperti itu sangat penting, terutama bagi mereka yang pernah aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Sebab pengalaman sejarah menunjukkan bahwa banyak aktivis mahasiswa yang pada akhirnya memasuki ruang-ruang kekuasaan. Dalam situasi seperti itu, tantangan terbesar adalah menjaga agar idealisme yang diperoleh selama masa aktivisme tidak hilang ketika berhadapan dengan realitas politik yang sering kali penuh kompromi.
Dalam kehidupan nyata, sekat-sekat organisasi sering kali mencair ketika para alumninya bertemu dalam ruang pengabdian yang lebih luas. Saya sendiri sebagai alumni HMI memiliki persahabatan dan hubungan intelektual yang baik dengan Dr. Nursalim, M.Pd., yang merupakan alumni IMM. Perbedaan latar belakang organisasi tidak pernah menjadi penghalang bagi kami untuk saling berdialog, bekerja sama, dan berbagi gagasan tentang masa depan pendidikan, budaya, dan kehidupan masyarakat.
Justru dari perbedaan itulah lahir perspektif yang lebih kaya. Diskusi-diskusi yang kami lakukan sering memperlihatkan bahwa HMI dan IMM pada dasarnya memiliki akar nilai yang sama, yaitu komitmen terhadap Islam, ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada masyarakat. Persahabatan lintas organisasi seperti ini menunjukkan bahwa organisasi kemahasiswaan Islam bukanlah tembok pemisah, melainkan jembatan yang mempertemukan berbagai gagasan dalam satu tujuan besar, yaitu membangun peradaban yang lebih baik.
Pengalaman hidup mengajarkan bahwa organisasi hanyalah wadah pembinaan, sedangkan nilai yang diperjuangkan adalah substansi yang sesungguhnya. Ketika nilai itu tetap dijaga, maka perbedaan organisasi tidak akan menjadi sumber konflik, melainkan menjadi kekuatan untuk saling melengkapi.
Generasi muda hari ini perlu memahami sejarah tersebut dengan lebih arif. Mereka tidak boleh terjebak dalam romantisme organisasi yang sempit, apalagi menjadikan organisasi sebagai alat untuk membangun sekat-sekat sosial. Yang lebih penting adalah bagaimana menjadikan organisasi sebagai tempat belajar tentang kepemimpinan, integritas, dan tanggung jawab sosial.
HMI dan IMM adalah dua mata air penting dalam sejarah gerakan intelektual Islam di Indonesia. Dari keduanya lahir banyak tokoh yang memberikan kontribusi besar bagi kehidupan bangsa. Selama kedua organisasi ini tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan keindonesiaan, maka perannya dalam proses kebangsaan akan terus relevan.
Pada akhirnya, negara yang kuat tidak hanya dibangun oleh sistem politik dan kekuatan ekonomi, tetapi oleh kualitas manusia yang menggerakkannya. Ketika kader-kader mahasiswa Islam mampu menjaga integritas, kecerdasan, dan kepekaan sosialnya, maka mereka akan menjadi bagian penting dari kekuatan moral bangsa. Dari kampus-kampus, dari ruang diskusi yang sederhana, dan dari persahabatan lintas organisasi seperti antara alumni HMI dan IMM, harapan tentang masa depan Indonesia yang lebih beradab terus tumbuh dan menemukan maknanya.







