Di Mana Disimpan Epos Syair Gayo Asal Linge, Awal Serule?

L K Ara

Sebuah epos tidak pernah benar-benar disimpan di dalam lemari. Ia juga tidak cukup hanya diletakkan di rak perpustakaan, di dalam arsip digital, atau dicetak menjadi sebuah buku. Tempat penyimpanan sejati sebuah epos adalah ingatan kolektif bangsanya.

Asal Linge, Awal Serule lahir dari tradisi lisan masyarakat Gayo yang selama berabad-abad memelihara sejarah, petuah, dan nilai kehidupan melalui tuturan, didong, melengkan, dan adat. Karena itu, ketika epos ini dituliskan dalam bentuk syair modern, sesungguhnya ia sedang mengembalikan sebuah ingatan kepada rumahnya: hati manusia.

Buku hanyalah wadah.

Kertas hanyalah media.

Huruf hanyalah tanda.

Yang membuat sebuah epos tetap hidup adalah manusia yang membacanya, menghayatinya, dan mewariskannya.

Apabila ditanya, “Di mana disimpan Asal Linge, Awal Serule?” maka jawabannya adalah: pertama, di dalam naskah yang menghimpun seluruh baitnya; kedua, di perpustakaan sebagai bagian dari khazanah sastra; ketiga, di ruang-ruang pendidikan agar dipelajari oleh generasi muda; keempat, di panggung-panggung kebudayaan agar terus dihidupkan melalui pembacaan, monolog, didong, dan pertunjukan; dan yang paling penting, di dalam kesadaran masyarakat Gayo sendiri.

Sebab karya sastra yang tidak dibaca akan menjadi benda. Sebaliknya, karya sastra yang terus dibaca akan berubah menjadi kebudayaan.

Epos ini juga patut disimpan dalam bentuk digital. Digitalisasi bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan sebuah ikhtiar agar warisan budaya tetap dapat diakses oleh generasi mendatang, baik yang tinggal di Tanoh Gayo maupun yang berada di berbagai penjuru dunia. Dengan demikian, jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang untuk mengenal akar budaya sendiri.

Namun, penyimpanan yang paling hakiki tetap berada pada laku kehidupan. Selama bahasa Gayo masih dituturkan, selama adat masih dihormati, selama gunung, hutan, dan danau dipandang sebagai amanah, serta selama ungkapan “Asal Linge, Awal Serule” masih diucapkan dengan penuh kesadaran, selama itu pula epos ini sesungguhnya masih hidup.

Epos bukan sekadar cerita masa lalu.

Ia adalah jembatan antara leluhur dan anak cucu.

Ia adalah rumah tempat sebuah bangsa menyimpan ingatannya.

Karena itu, Asal Linge, Awal Serule tidak cukup disimpan di perpustakaan. Ia harus disimpan dalam pendidikan, dalam kesenian, dalam penelitian, dalam keluarga, dan terutama dalam hati setiap orang Gayo yang percaya bahwa mengenal asal-usul adalah langkah pertama untuk menjaga masa depan.

Selama ingatan itu tetap hidup, epos ini tidak akan pernah usang.

Ia akan terus dibacakan oleh angin di puncak Linge, dipantulkan oleh air Danau Laut Tawar, dan diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya sebagai amanah yang tak pernah selesai.

Esai ini juga dapat dikembangkan menjadi sebuah manifesto pelestarian sastra Gayo yang mengusulkan agar Epos Syair Gayo: Asal Linge, Awal Serule disimpan secara resmi di perpustakaan daerah, museum, lembaga adat, perguruan tinggi, serta dalam arsip digital sebagai bagian dari warisan sastra dan budaya Gayo.