Oleh: Muhammad Sontang Sihotang (Koordinator Tim In-Journal Chapter 1 (Handbook) INALUM)
Di jantung Sumatera Utara, tepatnya di pinggiran Sungai Asahan, sebuah transformasi industri sedang berlangsung. PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), yang selama puluhan tahun dikenal sebagai penghasil logam strategis, kini memeluk masa depan dengan memadukan energi bersih, inovasi teknologi, dan tanggung jawab sosial yang mendalam. Komitmen ini tidak sekadar wacana, tetapi terbukti melalui perolehan peringkat Emas dan Hijau dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) selama empat tahun berturut-turut.
- Proper Emas 2022: Diraih oleh Pabrik Peleburan Kuala Tanjung.
- Proper Emas 2023: Diraih oleh Unit PLTA Paritohan.
- Proper Emas 2024: Kembali diraih oleh Pabrik Peleburan Kuala Tanjung.
- Proper Emas & Hijau 2025: INALUM kembali meraih PROPER Emas untuk operasional Pabrik Peleburan (ISP) Kuala Tanjung dan PROPER Hijau untuk PLTA, berdasarkan pengumuman April 2026.
Prestasi ini adalah buah dari paradigma baru yang mengintegrasi kan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam DNA operasional perusahaan. DNA operasional INALUM berarti perusahaan tersebut tidak lagi “berpura-pura” hijau atau sosial demi pencitraan, tapi memang watak aslinya sudah peduli pada lingkungan dan tata kelola yang baik. ESG telah menjadi “kode genetik” yang menggerakkan setiap aktivitas bisnis INALUM.
“Kami percaya bahwa kinerja operasional harus berjalan selaras dengan tanggung jawab terhadap lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta tata kelola yang transparan,” tegas Daniel Hutahuruk, Kepala Grup Layanan Strategis INALUM, seperti dikutip dalam laporan perusahaan. Komitmen ini menjawab tuntutan era di mana keberlanjutan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga daya saing global.
Energi Bersih sebagai Fondasi Proper Award
Kunci keberlanjutan INALUM terletak pada fondasi energi terbarukan. Sebagai industri padat energi, perusahaan tidak bergantung pada pembangkit fosil, tetapi memanfaatkan keunggulan geografisnya dengan mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) milik sendiri di Sungai Asahan. PLTA ini menjadi tulang punggung operasi peleburan Aluminium, mengurangi jejak karbon secara signifikan dibandingkan dengan peleburan yang menggunakan energi berbasis batu bara.
Capaian efisiensi energi dan penurunan emisi inilah yang menjadi pilar utama dalam meraih nilai Emas PROPER untuk Unit PLTA pada 2023 dan 2025.
Beyond Compliance: Inovasi Hijau dan Sirkular Ekonomi
INALUM tidak berhenti pada sekadar mematuhi regulasi (compliance), tetapi melangkah lebih jauh dengan pendekatan beyond compliance. Di pabrik peleburan, berbagai program inovatif dijalankan. Sistem pengelolaan limbah B3 dan non-B3 dioptimalkan dengan prinsip 7R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery, Reclaim, Rethink, Resale) . Debu potlining dari proses elektrolisa, yang sebelumnya dianggap limbah, kini diolah menjadi bahan baku sekunder. Upaya konservasi air dan pengelolaan kualitas air limbah juga dilakukan secara ketat, menjaga ekosistem sungai di sekitar operasi.
“INALUM berkomitmen menjalankan industri peleburan Aluminium berkelanjutan melalui modernisasi teknologi, efisiensi energi, dan penguatan rantai pasok,” ujar Melati Sarnita, Direktur Utama INALUM. Modernisasi ini termasuk investasi pada teknologi yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan, memperpanjang usia peralatan, sekaligus meningkatkan produktivitas.
Dampak Sosial yang Memberdayakan Potensi Masyarakat Menuju Program Zero Waste
Aspek sosial (Social) dalam ESG diwujudkan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang terstruktur dan berbasis kebutuhan masyarakat. INALUM tidak sekadar memberikan bantuan, tetapi membangun kapasitas. Program pemberdayaan UMKM di sekitar wilayah operasi, dari binaan teknis hingga akses pemasaran, telah menciptakan ekonomi sirkular yang menguntungkan. Pelatihan kewirausahaan bagi perempuan dan pemuda turut mengurangi angka pengangguran.
Yang patut diapresiasi adalah pendekatan inklusif perusahaan. Program Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dalam majelis Workshop untuk menata kelola limbah (residu) Inalum contohnya BFD (Baking Filter Dust) dapat di inovasikan menjadi Produk Inovasi Arang Briket Hibrida yakni dengan mencampurkan BFD dengan Arang Cangkang Tempurung Kelapa menjadi Hibrida Briket yang menjadi Produk yang bernilai tambah. Gerakan Workshop terstruktur dalam mengelola adn mengolah proses limbah BFD menjadi Produk Hibrida Briket dapat dipotensikan dengan penyerapan tenaga kerja juga memper timbangkan karakteristik 7 jenis kelompok rentan yang ada di masyarakat sekitarnya sekaligus Terapi Okupasi (rawatan pemulihan bermartabat) yakni Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang Stabil, Disabilitas (Orang Kurang Upaya / OKU), Remaja Putus Sekolah (RPS), Orang Tua Jompo (OTJ), Pengangguran, Ibu Tunggal (Janda), Pecandu/Korban Narkoba (Addictionis). Sistem pendekatan ini akan mencerminkan komitmen INALUM untuk tidak meninggalkan siapa pun dalam pembangunan. Program kesehatan masyarakat dan beasiswa pendidikan menjadi investasi jangka panjang dalam membangun kualitas hidup masyarakat sekitarnya (berdampak) .
Tata Kelola INALUM untuk Keberlanjutan Jangka Panjang SDG’s
Pilar Governance dijalankan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Pelaporan keberlanjutan yang komprehensif, tata kelola perusahaan yang baik, dan kepatuhan terhadap regulasi merupakan hal yang tidak bisa ditawar. Integrasi kebijakan ESG ke dalam strategi bisnis inti memastikan bahwa keberlanjutan bukan program sampingan, melainkan bagian dari pertimbangan setiap pengambilan keputusan korporat. Tata Kelola INALUM yang bersih, dan bermartabat diharapkan dapat menuju Keberlanjutan Pembangunan Jangka Panjang dalam melaksanakan seluruh indikator global Sustainable Development Goals (SDG’s).
Sinergi Menuju Masa Depan Gemilang dan Terbilang
Prestasi PROPER Emas dan Hijau adalah bukti nyata bahwa industrialisasi dan keberlanjutan lingkungan serta sosial dapat berjalan beriringan. Keberhasilan INALUM adalah buah dari Kolaborasi mitra bersinergi multipihak Model Hepta Helix (7 Stageholder), mulai dari Pemerintah, Komunitas, Akademisi (Universitas), Perbankan, Pemuka Masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) hingga Media dalam mengawal agenda hijau Indonesia.
Dengan fondasi energi bersih, inovasi industri ramah lingkungan, dan dampak sosial yang nyata, INALUM tidak hanya memproduksi Aluminium, tetapi juga merajut masa depan yang gemilang dan terbilang agar lebih hijau dan inklusif untuk Indonesia Emas. Perjalanan ini menunjukkan bahwa industri berat nasional mampu bertransformasi menjadi pionir dalam ekonomi hijau, menjawab tantangan global sekaligus mengangkat martabat masyarakat berdampak di sekitarnya.(ms2)







