Oleh: Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si & Mahalli Hakim, ST, S.Pd
Sekapur Sirih Selayang Pandang
Wilayah pesisir seperti Gebang, Tanjung Pura, dan Babalan di Kabupaten Langkat menghadapi tantangan ganda: ledakan populasi eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang menutupi aliran sungai serta angka kemiskinan ekstrem yang masih memerlukan perhatian serius. Namun, di tangan para ahli dan kebijakan yang tepat, “gulma” ini kini bertransformasi menjadi Briket Bio-Arang, sebuah produk inovasi yang mengusung misi Zero Waste dan Ekonomi Sirkular.
Mengubah Hama Menjadi Bahan Bakar Bernilai Tinggi
Eceng gondok memiliki kemampuan menyerap polutan, namun pertumbuhannya yang eksponensial seringkali merusak ekosistem air. Melalui proses rekayasa kimia dan fisik, biomassa eceng gondok diolah menjadi briket sebagai alternatif gas elpiji atau kayu bakar.
Proses pembuatan briket ini melibatkan lima tahapan krusial:
- Pengeringan: Mengurangi kadar air batang eceng gondok hingga di bawah 15 %.
- Karbonisasi: Proses pembakaran tanpa oksigen (pirolisis) untuk mengubah biomassa menjadi arang.
- Penepungan: Menghaluskan arang menjadi partikel mikro.
- Pencampuran: Penambahan perekat alami (tepung kanji/tapioka).
- Pencetakan & Pengeringan Akhir: Menggunakan kempa hidrolik untuk menghasilkan kepadatan tinggi agar api lebih tahan lama.
Ekonomi Sirkular & Pengentasan Kemiskinan Ekstrem
Implementasi program ini di Langkat tidak hanya berfokus pada produk, tetapi pada Rekayasa Sosial. Masyarakat di wilayah pesisir, termasuk kelompok rentan, diberdayakan untuk menjadi pelaku produksi.
“Ekonomi sirkular berarti tidak ada yang terbuang. Eceng gondok yang mengganggu nelayan diambil (Zero Waste), diolah menjadi energi, dan penjualannya kembali ke kantong masyarakat (Ekonomi Hijau).
Dengan target pendapatan harian yang layak, program ini menjadi instrumen nyata dalam Pengentasan Kemiskinan Ekstrem. Pendapatan dari penjualan briket bio-arang dan penghematan biaya energi rumah tangga secara langsung meningkatkan daya beli masyarakat pesisir.
Menunjang 17 Indikator SDG’s
Inovasi ini memberikan dampak domino terhadap target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals):
- SDG 1 (Tanpa Kemiskinan):
Penciptaan lapangan kerja baru bagi warga pesisir.
- SDG 7 (Energi Bersih & Terjangkau):
Menyediakan alternatif bahan bakar murah & ramah lingkungan.
- SDG 8 (Pekerjaan Layak & Pertumbuhan Ekonomi):
Menggerakkan UMKM berbasis limbah.
- SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): Mengurangi emisi karbon dari pembakaran kayu hutan atau batubara.
- SDG 14 (Ekosistem Lautan):
Membersihkan muara sungai di Gebang & Babalan dari pendangkalan akibat gulma.
Sinergi Hepta Helix
Keberhasilan di Gebang, Tanjung Pura & Babalan memerlukan kolaborasi Hepta Helix. Peran Pusat Unggulan Inovasi Ipteks (PUI) Karbon & Kemenyan USU sebagai penyedia teknologi, bersama DPRD Langkat sebagai penyusun regulasi & anggaran, serta keterlibatan NGO & Media, menjadi kunci agar program ini tidak sekadar menjadi eksperimen laboratorium, melainkan gerakan massa.
Dengan integrasi teknologi kimia dari alumni Teknik Kimia USU dan visi kesehatan masyarakat, briket ini juga dirancang rendah asap guna mencegah infeksi saluran pernapasan pada ibu & anak, yang secara tidak langsung mendukung pencegahan stunting melalui lingkungan hunian yang lebih sehat.












