L. K. Ara
Aceh
adalah tanah
yang terlalu sabar.
Air matanya
belum kering
ketika bencana datang.
Jembatan patah.
Jalan rusak.
Anak-anak
menyeberangi sungai
untuk pergi sekolah.
Tetapi jangan khawatir.
Negara hadir.
Ada rapat.
Ada program.
Ada spanduk.
Ada foto.
Dan setelah itu—
ada kesabaran rakyat.
⸻
Ketika gas
ditemukan di laut Aceh,
tangan kekuasaan
datang begitu cepat.
Gas mengalir.
Pipa bekerja.
Kota-kota terang.
Jakarta tersenyum.
Aceh?
Aceh menunggu.
Mungkin
karena menunggu
adalah salah satu
pelajaran tertua
yang diberikan negara
kepada rakyatnya.
⸻
Kemudian datang
program-program baru.
Merah putih
dibawa ke kampung.
Koperasi
diperkenalkan.
Rapat diadakan.
Pidato disampaikan.
Kami pun bertanya:
“Jembatan kami kapan?”
Jawabannya sederhana:
“Sabar.”
Kami bertanya lagi:
“Anak-anak kami
harus berenang sampai kapan?”
Jawabannya tetap:
“Sabar.”
Ah, Aceh.
Memang benar.
Tanah ini
terlalu sabar.
⸻
Kami tidak menolak
Indonesia.
Kami hanya ingin
Indonesia
tidak menolak
keadilan.
Kami tidak menolak
pembangunan.
Kami hanya heran:
mengapa pembangunan
begitu cepat
menemukan gas,
tetapi begitu lambat
menemukan jembatan?
Mengapa kekayaan
mudah sekali
menemukan jalan keluar,
sedangkan rakyat
begitu sulit
menemukan jalan pulang
dari kemiskinan?
⸻
Setiap Agustus
merah putih berkibar.
Kami berdiri.
Kami hormat.
Kami menyanyikan lagu
kemerdekaan.
Tetapi di bawah tiang bendera
ada pertanyaan kecil:
Apakah merdeka
hanya berarti
bebas mengibarkan bendera?
Atau juga
bebas dari rasa takut
ketika anak pergi sekolah?
Bebas dari lapar?
Bebas dari kemiskinan?
Bebas dari perasaan
bahwa kekayaan tanah sendiri
selalu lebih dahulu
dinikmati orang lain?
⸻
Jangan salah mengerti.
Catatan ini
bukan kebencian.
Ia hanya
catatan pinggir.
Catatan dari tanah
yang terlalu lama
belajar bersabar.
Sebab kadang-kadang
sejarah tidak perlu
ditulis dengan tinta merah.
Cukup dengan
sebuah jembatan putus,
seorang anak
yang menyeberangi sungai,
dan sebuah kekayaan
yang pergi jauh
dari tanah asalnya.
⸻
Maka, wahai negara,
jangan terlalu sering
memuji kesabaran rakyat.
Sebab kesabaran
bukan berarti
ketidakberdayaan.
Kesabaran
adalah ketika rakyat
masih memilih
percaya.
Tetapi kepercayaan
juga memiliki batas.
Dan ketika batas itu tiba,
jangan bertanya:
“Mengapa Aceh berubah?”
Tanyakan lebih dahulu:
“Mengapa Aceh
terlalu lama
disuruh bersabar?”
Aceh tidak meminta
bulan jatuh ke tanah.
Aceh hanya meminta
apa yang memang
menjadi haknya:
keadilan.
Dan mungkin itulah
catatan pinggir kita hari ini:
jangan menguji
kesabaran sebuah tanah
yang sejarahnya
sudah terlalu panjang
menanggung luka.
Jakarta, Agustus 2026







