oleh :
- Ahmad Zidane As-Salafi Siregar (Mahasiswa Fisika USU, NIM: 240801046, Tugas Mandiri ( TUMAN ) Mata Kuliah Elektronika Dasar II FIS 2204, 2 SKS, Kelas IV B ; Thema “ Identifikasi Masalah & Solusi Elektronika Sederhana Berdampak”.
- Febro Tri Setyo, (Mahasiswa Fisika USU, NIM: 240801006, Tugas Mandiri ( TUMAN ) Mata Kuliah Elektronika Dasar II FIS 2204, 2 SKS, Kelas IV B ; Thema “ Identifikasi Masalah & Solusi Elektronika Sederhana Berdampak”.
- Kiyai Kh.Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si, (Dosen Pengampu Elektronika Dasar 2 ; T.A. 2026 / 2027, Prodi Fisika S-1 – FMIPA – USU)
Sekapur Sirih,
Siapa bilang riset fisika hanya berkutat pada rumus yang membosankan ?. Di sudut laboratorium FMIPA USU, dua inovasi revolusioner baru saja lahir. Ahmad Zidane dan Febro Tri Setyo membuktikan bahwa dengan modal “receh” dan kreativitas tinggi, masalah kronis mahasiswa, mulai dari hawa panas ruang kuliah yang menyiksa hingga drama jemuran kehujanan saat ditinggal ngampus, bisa tuntas seketika lewat jalur teknologi !.
2. MASALAH (THE PROBLEM) : Dilema “Sumuk” & Hujan Mendadak
Kehidupan akademik di Medan punya dua musuh utama: Suhu Ekstrem dan Cuaca Plot Twist.
-
Data Lapangan: Ruang kelas dengan kapasitas 30-40 orang sering kali terjebak dalam suhu 35 °C dengan kelembapan mencapai 85 %. Ini bukan ruang belajar, ini simulasi sauna !.
-
Tragedi Mahasiswa: Mobilitas tinggi membuat mahasiswa sering meninggalkan jemuran di kosan. Hasilnya ?, Pakaian “mandi” air hujan, bau apek, dan pemborosan waktu jemur ulang.
3. INOVASI I: “Digital Thermal Shield” ala Ahmad Zidane
Zidane menghadirkan sistem pemantauan suhu otomatis yang jauh lebih cerdas dari sekadar perasaan manusia.
-
Jantung Teknologi: Mengandalkan Sensor DHT11 dan Op-Amp LM358 sebagai pengkondisi sinyal agar pembacaan tetap presisi.
-
Sistem Warning: Jangan tunggu pingsan karena panas! Alat ini punya indikator LED tiga warna. Jika suhu mencapai 32 °C, buzzer akan berteriak memperingatkan bahwa ruangan sudah tidak sehat untuk berpikir.
-
Budget : Hanya Rp. 130.000,- Sebuah solusi murah untuk transparansi fasilitas kampus !.
4. INOVASI II : “The Laundry Guardian” ala Febro Tri Setyo
Febro membawa konsep SmartHome ke level berikutnya dengan jemuran otomatis yang memiliki insting “survivabilitas” tinggi.
-
Mekanisme Gahar: Menggunakan Motor Power Window Mobil yang punya torsi raksasa untuk menarik beban pakaian basah yang berat.
-
Sensor Anti-Gagal: Kolaborasi Raindrop Sensor LM393 dan LDR membuat jemuran ini tahu kapan harus “bersembunyi” saat hujan atau hari mulai gelap.
-
Mandiri Energi : Tidak menambah beban listrik, alat ini disuplai oleh Panel Surya 20 W. Ramah lingkungan dan ramah kantong!
5. ANALISIS TEKNIS & EFISIENSI (DATA DRIVEN)
Kedua alat ini bukan sekadar prototipe pajangan. Mari bicara data:
-
Akurasi: Sistem pantau suhu memiliki rata-rata error hanya +0,72 °C, sangat reliabel untuk monitoring ruang kelas.
-
Ketahanan: Jemuran pintar Febro dilengkapi kapasitor 2200 μF untuk mencegah voltage drop, memastikan sistem tetap stabil meski motor bekerja keras.
-
Value for Money: Dengan total biaya di bawah 1 juta rupiah, kedua alat ini menawarkan efisiensi yang jauh melampaui produk pabrikan yang mahal.
6. HARAPAN & PENUTUP (CONCLUSION)
Inovasi dari Zidane dan Febro adalah tamparan keras bagi anggapan bahwa teknologi canggih harus mahal. Civitas akademika USU harus bangga memiliki bibit inovator yang mampu mengubah komponen elektronika sederhana menjadi solusi kehidupan nyata.
Sudah saatnya kampus dan penyedia kos-kosan melirik teknologi ini ! . Jangan biarkan otak mahasiswa “mendidih” di kelas dan jangan biarkan pakaian kita bau apek karena hujan.
Masa depan adalah otomasi, dan itu dimulai dari Fisika USU !.







