Mabesnews.com, Bintan — Aktivitas pengerukan laut yang dilakukan di sejumlah wilayah perairan kembali memunculkan kekhawatiran dari kalangan akademisi dan pemerhati lingkungan pesisir. Dampak pengerukan dinilai tidak sesederhana persoalan jarak dari garis pantai, sebab sistem laut memiliki dinamika arus yang mampu membawa sedimen melampaui batas yang selama ini dianggap aman.
Dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Maritim Raja Ali Haji, Henki Irawan, menegaskan bahwa jarak delapan mil laut belum tentu menjamin wilayah tersebut bebas dari dampak pengerukan.

Menurutnya, sedimen halus hasil aktivitas pengerukan dapat terbawa arus laut dan menyebar hingga ke wilayah tangkap nelayan tradisional. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan terhadap habitat ikan, menurunkan kualitas perairan, hingga memengaruhi hasil tangkapan nelayan.
“Jarak delapan mil laut belum otomatis bebas dampak pengerukan. Jika sedimen halus tersebar mengikuti arus laut, nelayan tradisional pada radius tersebut tetap berpotensi terdampak melalui gangguan habitat ikan, penurunan kualitas perairan, hingga berkurangnya hasil tangkapan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dampak sedimentasi tidak hanya dirasakan oleh nelayan, tetapi juga mengancam ekosistem penting pesisir dan laut yang selama ini menjadi fondasi rantai makanan di wilayah perairan tropis.
Padang lamun, misalnya, memiliki fungsi vital sebagai tempat pembesaran (nursery ground) dan area mencari makan berbagai jenis ikan, udang, kepiting, hingga biota laut lainnya. Ekosistem ini sangat bergantung pada cahaya matahari untuk melakukan fotosintesis.
Namun, ketika sedimen halus meningkat akibat pengerukan, tingkat kekeruhan perairan atau turbidity ikut meningkat. Kondisi tersebut menyebabkan cahaya matahari sulit menembus kolom air hingga ke dasar laut tempat lamun tumbuh.
Henki menjelaskan bahwa sedimen halus berbeda dengan pasir kasar yang relatif cepat tenggelam kembali ke dasar laut. Partikel lumpur dan material berukuran sangat kecil justru mudah terangkat dan melayang di kolom air ketika terjadi pengerukan, pengadukan dasar laut, maupun pengambilan material laut.
“Sedimen halus memiliki sifat mudah tersuspensi. Ketika aktivitas pengerukan berlangsung, partikel-partikel ini melayang di kolom air dan menyebabkan peningkatan kekeruhan perairan,” jelasnya.
Selain mengurangi penetrasi cahaya, sedimen yang mengendap juga dapat menempel pada permukaan daun lamun. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti daun tanaman yang tertutup debu tebal sehingga menghambat proses penyerapan cahaya.
Akibat kombinasi dua kondisi tersebut, proses fotosintesis lamun terganggu. Jika berlangsung dalam waktu lama, padang lamun berpotensi mengalami kematian massal yang pada akhirnya mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir.
Tidak hanya lamun, terumbu karang juga dinilai sangat rentan terhadap sedimentasi. Dalam kondisi alami, terumbu karang hidup dalam keseimbangan yang sensitif terhadap perubahan kualitas lingkungan.
Sedimen halus yang mengendap dapat menyelimuti permukaan karang dan menutup pori-porinya. Akibatnya, karang mengalami stres kronis, terganggu dalam memperoleh nutrisi, hingga berisiko mengalami kematian.
Henki menilai bahwa kerusakan pada padang lamun dan terumbu karang bukan hanya persoalan ekologis semata, melainkan berdampak langsung terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir.
Kedua ekosistem tersebut merupakan fondasi penting dalam rantai makanan laut. Ketika lamun dan terumbu karang terganggu, berbagai spesies ikan akan kehilangan habitat pembesaran, tempat pemijahan, dan sumber pakan alami.
Akibatnya, ikan cenderung berpindah ke wilayah lain yang lebih stabil secara ekologis. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan stok ikan di sekitar kawasan terdampak serta menurunnya hasil tangkapan nelayan tradisional.
Aliansi peduli Indonesia Kepulauan Riau, menilai bahwa dampak sedimentasi sering kali bersifat perlahan dan tidak langsung terlihat. Namun, efeknya dapat berlangsung dalam jangka panjang dan memicu kerusakan ekosistem yang sulit dipulihkan.
Mereka juga menekankan pentingnya kajian ilmiah yang komprehensif sebelum aktivitas pengerukan dilakukan. Pemodelan arus laut, analisis karakteristik sedimen, hingga pemantauan kualitas perairan dinilai menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan.
Selain itu, keterlibatan masyarakat pesisir dan nelayan tradisional dalam proses pengambilan kebijakan dianggap penting agar dampak sosial dan ekologis dapat dipahami secara menyeluruh.
Pendekatan pengelolaan laut berbasis ekosistem (ecosystem-based management) perlu menjadi prioritas dalam setiap aktivitas pemanfaatan ruang laut. Pendekatan tersebut menempatkan ekosistem sebagai satu kesatuan yang saling terhubung, sehingga gangguan di satu titik dapat memengaruhi kawasan lainnya.
Dalam konteks ini, sedimentasi akibat pengerukan dinilai bukan sekadar persoalan teknis pembangunan, melainkan menyangkut keberlanjutan sumber daya laut dan masa depan masyarakat pesisir.
Bagi nelayan tradisional, laut bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang hidup yang menopang keberlangsungan generasi mereka. Karena itu, setiap aktivitas yang berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem laut perlu dilakukan dengan kehati-hatian, kajian ilmiah yang mendalam, serta mempertimbangkan dampaknya secara jangka panjang.
arf-6







