Silaturahmi Inspiratif dengan Mantan Menteri Keuangan: Optimisme Ekonomi dan Realisme Pembangunan Pendidikan

mabesnews.com – Jakarta — Suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti sebuah pertemuan penting di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Dalam momentum silaturahmi tersebut, Abdul Rachman Sappara bersama Dr. Nursalim—tokoh intelektual asal Jeneponto yang kini bertugas di Batam—berkesempatan berdialog langsung dengan Fuad Bawazier, yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto.
Pertemuan ini tidak sekadar menjadi ajang temu sapa, tetapi juga ruang diskusi strategis yang menyentuh isu-isu aktual kebangsaan, khususnya terkait kondisi ekonomi dan masa depan pembangunan di Indonesia.

Dalam dialog tersebut, salah satu pertanyaan yang mengemuka adalah terkait isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang kerap menjadi perhatian publik. Menanggapi hal tersebut, Fuad Bawazier dengan tegas menyampaikan bahwa tidak ada kenaikan harga BBM sebagaimana yang berkembang di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa informasi tersebut telah diumumkan secara resmi oleh pemerintah, sehingga masyarakat diharapkan tidak terpengaruh oleh spekulasi yang belum tentu benar.

Lebih jauh, pembicaraan kemudian mengarah pada kondisi Indonesia saat ini dan proyeksinya ke depan. Dengan nada optimistis namun tetap realistis, Fuad Bawazier menyampaikan keyakinannya bahwa Indonesia akan tetap berada dalam kondisi yang baik.

Ia menekankan pentingnya sikap optimisme kolektif sebagai fondasi dalam menjaga stabilitas nasional. Menurutnya, harapan terhadap masa depan yang lebih baik harus terus dijaga oleh seluruh elemen bangsa, karena optimisme adalah energi sosial yang memperkuat daya tahan negara.

Tidak hanya membahas isu ekonomi makro, pertemuan ini juga dimanfaatkan untuk menyampaikan gagasan strategis di bidang pendidikan. Abdul Rachman Sappara dan Dr. Nursalim mengutarakan rencana pembangunan sebuah kampus politeknik di wilayah Samata, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.

Gagasan ini muncul sebagai bentuk kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.
Menanggapi rencana tersebut, Fuad Bawazier memberikan pandangan yang kritis namun konstruktif. Ia mengingatkan bahwa tidak sedikit lembaga pendidikan, khususnya kampus, yang pada akhirnya tidak berjalan optimal bahkan mengalami stagnasi.

Hal ini, menurutnya, sering kali disebabkan oleh kurangnya dukungan sistemik dan lemahnya sinergi antar pemangku kepentingan.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan sebuah institusi pendidikan tidak hanya bergantung pada niat dan perencanaan, tetapi juga pada dukungan kuat dari pemerintah daerah serta kemampuan menjalin kerja sama yang solid dengan berbagai pihak. Tanpa itu, sebuah kampus berpotensi menghadapi berbagai tantangan serius dalam operasional dan keberlanjutannya.
Pertemuan ini menjadi refleksi penting bahwa pembangunan, baik di sektor ekonomi maupun pendidikan, memerlukan keseimbangan antara optimisme dan kehati-hatian. Silaturahmi tersebut tidak hanya mempererat hubungan personal, tetapi juga melahirkan wawasan strategis yang bernilai bagi upaya membangun Indonesia yang lebih baik di masa depan.(Nursalim Turatea).