Oleh Ustadz Syafriadi
MabesNews.com, Ramadhan kembali hadir sebagai tamu agung yang selalu dinanti. Ia datang bukan sekadar membawa kewajiban berpuasa, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi jiwa-jiwa yang letih, hati-hati yang gelisah, dan pikiran-pikiran yang diliputi kegalauan. Di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan, ketidakpastian ekonomi, problem keluarga, dan derasnya arus informasi, kegalauan menjadi penyakit batin yang kian nyata. Dalam konteks inilah Ramadhan hadir sebagai wasilah, sebagai jalan ilahiah untuk menenangkan jiwa dan memulihkan keseimbangan hidup manusia.
Kegalauan sejatinya lahir ketika hati jauh dari Allah. Banyak orang merasa gelisah bukan karena kurang harta atau jabatan, melainkan karena kehilangan arah spiritual. Ramadhan mengembalikan orientasi hidup manusia kepada tujuan hakikinya, yakni penghambaan kepada Allah SWT. Puasa mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, dan keikhlasan. Ketika seseorang mampu menahan lapar, haus, dan hawa nafsu karena Allah, pada saat itulah jiwa belajar bahwa ketenangan tidak bersumber dari pemuasan keinginan, melainkan dari ketaatan dan kepasrahan kepada-Nya.
Ramadhan juga menjadi ruang perenungan yang luas. Di bulan ini, Al-Qur’an kembali dibaca, didengar, dan direnungi. Kalam Ilahi yang selama ini mungkin hanya menjadi bacaan ritual, di Ramadhan berubah menjadi obat penawar kegelisahan. Setiap ayatnya mengandung cahaya petunjuk, setiap pesannya menenangkan hati yang resah. Tidak berlebihan jika Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Ketika hati dekat dengan Al-Qur’an, kegalauan perlahan sirna, digantikan dengan keyakinan dan harapan.
Selain itu, Ramadhan menghidupkan kembali tradisi doa dan munajat. Malam-malam Ramadhan dipenuhi dengan istighfar, sujud panjang, dan tangisan penghambaan. Doa menjadi sarana dialog paling jujur antara hamba dan Tuhannya. Dalam doa, seseorang mencurahkan seluruh beban hidup yang selama ini terpendam. Kegalauan yang tak terucap kepada manusia, tersampaikan dengan tulus kepada Allah. Dari sinilah lahir ketenangan batin, karena seorang hamba yakin bahwa tidak ada doa yang sia-sia di sisi-Nya.
Dimensi sosial Ramadhan pun berperan besar dalam menghilangkan kegalauan. Semangat berbagi, kepedulian terhadap fakir miskin, dan kebersamaan dalam ibadah menghadirkan rasa keterhubungan antarmanusia. Banyak kegalauan muncul karena rasa kesepian dan keterasingan. Ramadhan mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendiri. Saat tangan-tangan saling memberi, saat masjid menjadi tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat, tumbuhlah rasa empati dan solidaritas. Hati yang semula sempit oleh kegelisahan menjadi lapang oleh kepedulian.
Puasa Ramadhan juga mendidik jiwa untuk tidak berlebihan dalam menyikapi persoalan hidup. Lapar dan haus yang dirasakan setiap hari menjadi pelajaran bahwa penderitaan bersifat sementara. Jika lapar saja dapat ditahan hingga waktu berbuka, maka masalah hidup pun sejatinya memiliki batas. Kesadaran inilah yang menumbuhkan optimisme dan keteguhan hati. Kegalauan berangsur berubah menjadi kesabaran, dan kesabaran melahirkan ketenangan.
Lebih dari itu, Ramadhan mengajarkan makna tawakal yang sejati. Di tengah usaha dan ikhtiar manusia, ada ruang besar untuk berserah diri kepada Allah. Banyak kegelisahan muncul karena manusia ingin mengendalikan segalanya. Ramadhan melatih hati untuk menerima ketentuan Allah dengan lapang dada. Ketika tawakal tumbuh, beban hidup terasa lebih ringan, dan kegalauan tidak lagi menguasai jiwa.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan sekadar momentum tahunan, tetapi sebuah madrasah ruhani. Ia menjadi wasilah yang Allah sediakan agar manusia kembali menemukan kedamaian batin. Kegalauan tidak dihilangkan dengan hiburan sesaat atau pelarian duniawi, melainkan dengan memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta. Siapa pun yang menjalani Ramadhan dengan iman dan keikhlasan akan merasakan perubahan besar dalam jiwanya.
Semoga Ramadhan benar-benar kita jadikan sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah, membersihkan hati, dan menenangkan jiwa. Dengan demikian, kegalauan yang selama ini menghantui hidup kita akan luruh, digantikan oleh ketenteraman, keyakinan, dan harapan akan rahmat Allah SWT.













