Mabesnews.com – Politik yang diwariskan layaknya jabatan dalam keluarga sering kali menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Sementara rakyat diminta percaya bahwa hal tersebut merupakan bagian dari proses demokrasi, publik wajar mempertanyakan ketika kursi kekuasaan terus berputar di lingkaran yang sama, dari ayah kepada anak, atau dari satu anggota keluarga kepada anggota keluarga lainnya.
Pertanyaannya, apakah ini benar-benar kompetisi yang terbuka dan berdasarkan kemampuan, atau justru praktik politik dinasti yang semakin menguat?
Masalah utamanya bukan pada hubungan keluarga. Yang menjadi sorotan adalah ketika akses menuju kekuasaan terasa lebih mudah bagi mereka yang memiliki nama besar dan jaringan politik, dibandingkan masyarakat biasa yang memiliki kemampuan, integritas, dan kompetensi yang sama.
Dalam demokrasi yang sehat, setiap warga negara seharusnya memiliki kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dan bersaing dalam dunia politik. Karena itu, regenerasi kepemimpinan idealnya lahir dari proses yang terbuka, adil, dan berdasarkan kapasitas, bukan semata-mata karena faktor keturunan atau kedekatan keluarga.
Jika ruang politik terus dikuasai oleh lingkaran yang sama dari generasi ke generasi, maka demokrasi yang sehat dan kompetitif dikhawatirkan hanya akan menjadi slogan tanpa makna yang nyata.
. (HBL)






