Pepongoten, Seni Meratap Gayo yang Hampir Punah

Pemerintah36 views

Oleh: L. K. Ara

Di tengah derasnya arus modernisasi, satu demi satu warisan budaya Gayo perlahan menghilang. Ada yang masih dikenang namanya, tetapi telah kehilangan pelakunya. Ada pula yang masih sesekali dipentaskan, namun tanpa lagi dipahami makna terdalamnya. Salah satu di antaranya adalah Pepongoten, atau yang juga dikenal sebagai Sebuku Gayo.

Pepongoten bukan sekadar ratapan. Ia adalah sastra lisan yang lahir dari kedalaman rasa. Dalam setiap baitnya tersimpan doa, nasihat, kasih sayang, kerinduan, dan keikhlasan. Air mata yang mengalir bukan pertanda kelemahan, melainkan bahasa cinta yang tak sanggup diucapkan dengan kata-kata biasa.

Dalam tradisi masyarakat Gayo, Pepongoten lazim dilantunkan pada upacara pernikahan, terutama ketika seorang anak perempuan meninggalkan rumah orang tuanya. Ratapan itu menjadi ungkapan haru atas perpisahan sekaligus doa agar kehidupan baru yang akan dijalani dipenuhi keberkahan. Di balik tangisan itu tersimpan pendidikan tentang bakti kepada orang tua, kesetiaan dalam rumah tangga, dan penghormatan terhadap adat.

Sayangnya, kini Pepongoten berada di ambang kepunahan. Hanya segelintir orang yang masih mampu melantunkannya dengan baik. Mereka umumnya telah lanjut usia. Sementara generasi muda semakin jauh dari tradisi ini. Mereka lebih akrab dengan hiburan digital daripada sastra lisan yang diwariskan leluhur.

Jika para maestro Pepongoten wafat tanpa sempat mewariskan ilmunya, maka yang hilang bukan hanya sebuah seni pertunjukan. Kita akan kehilangan cara orang Gayo mengekspresikan cinta, kesedihan, dan kebijaksanaan. Kita kehilangan satu bab penting dalam identitas budaya Gayo.

Karena itu, penyelamatan Pepongoten tidak boleh ditunda. Dokumentasi dalam bentuk audio, video, dan tulisan harus segera dilakukan. Para pelaku yang masih hidup perlu direkam, diwawancarai, dan diberi ruang untuk mengajarkan ilmunya kepada generasi muda. Sekolah, perguruan tinggi, sanggar seni, hingga pemerintah daerah perlu menjadikan Pepongoten sebagai bagian dari program pelestarian budaya.

Budaya tidak akan punah karena zaman berubah. Budaya punah karena kita membiarkannya hilang. Pepongoten telah bertahan melewati pergantian generasi selama berabad-abad. Kini, tanggung jawab itu berada di tangan kita.

Jangan sampai suatu hari nanti anak cucu hanya membaca tentang Pepongoten di dalam buku sejarah, tanpa pernah mendengar suara ratapannya. Sebab ketika sebuah tradisi lisan benar-benar hilang, yang hilang bukan hanya bunyinya, melainkan juga ingatan kolektif, nilai-nilai kehidupan, dan jiwa sebuah peradaban.

Pepongoten adalah suara hati orang Gayo. Menyelamatkannya berarti menyelamatkan sebagian dari jati diri kita sendiri.