Oleh: Muhammad Zulkhairi Akram
Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Putra Daerah Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau
Kemajuan suatu bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan alam, kemegahan gedung sekolah, ataupun kecanggihan teknologi. Sejarah membuktikan bahwa peradaban besar lahir dari manusia-manusia yang menjadikan ilmu, keikhlasan, dan pengabdian sebagai jalan hidup. Pelajaran itulah yang saya temukan selama mengikuti Ushuluddin Goes International 2026 di Pattani, Thailand.
Perjalanan ini tidak saya maknai sebagai kunjungan akademik biasa ataupun sekadar kegiatan mahasiswa di luar negeri. Justru sebaliknya, perjalanan ini menjadi ruang refleksi yang membuka mata bahwa pendidikan sejati lahir dari ketulusan para pendidik dan semangat masyarakat dalam menjaga warisan ilmu pengetahuan.
Sebagai putra daerah Kota Batam yang menempuh pendidikan di Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, saya merasa bersyukur memperoleh kesempatan menjadi bagian dari program internasional tersebut. Lebih dari itu, sebagai pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, saya menyaksikan bagaimana sebuah gagasan sederhana dapat diwujudkan melalui kerja sama, komitmen, dan semangat pengabdian.
Selama berada di Pattani, saya menyaksikan secara langsung kehidupan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang tetap berdiri kokoh di tengah berbagai keterbatasan. Salah satunya adalah Thawee Withaya School, sebuah lembaga pendidikan yang telah berdiri lebih dari satu abad. Usia yang panjang tersebut menjadi bukti bahwa kekuatan sebuah institusi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh bangunan yang megah, tetapi oleh konsistensi nilai, keteladanan guru, dan kepercayaan masyarakat.
Yang paling menggetarkan hati adalah ketika mengetahui bahwa banyak peserta didik memperoleh pendidikan tanpa dibebani biaya. Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana, para guru tetap mengajar dengan penuh dedikasi, sementara para pelajar hadir dengan semangat belajar yang luar biasa. Pemandangan ini menjadi kritik halus bagi dunia pendidikan modern yang terkadang terlalu sibuk mengejar aspek material, tetapi mulai kehilangan ruh pengabdian.
Melalui program pembelajaran Al-Qur’an, Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), dialog tentang Islam yang moderat, hingga pertukaran seni budaya, saya menyadari bahwa pendidikan sesungguhnya adalah jembatan yang menghubungkan manusia tanpa memandang kebangsaan, bahasa, maupun latar belakang budaya. Di ruang-ruang kelas sederhana itu, saya melihat bagaimana ilmu mampu menyatukan hati dan mempererat persaudaraan.
Pengalaman tersebut juga mengingatkan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menyelesaikan studi. Mahasiswa harus menjadi agen perubahan yang membawa ilmu keluar dari ruang kuliah untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Kehadiran mereka harus menghadirkan solusi, harapan, dan manfaat nyata.
Bagi saya, Ushuluddin Goes International 2026 merupakan bukti bahwa diplomasi pendidikan dan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Pengabdian lintas negara bukan hanya memperkenalkan Indonesia kepada dunia, tetapi juga memperkaya cara pandang kita tentang arti persaudaraan, toleransi, dan kemanusiaan.
Sebagai putra daerah Kepulauan Riau, saya semakin yakin bahwa mimpi besar tidak pernah ditentukan oleh asal daerah. Siapa pun yang memiliki kemauan belajar, keberanian melangkah, dan keikhlasan mengabdi akan mampu membawa nama daerah, almamater, bahkan Indonesia ke panggung dunia.
Pattani telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam perjalanan hidup saya. Dari kota kecil di selatan Thailand itu, saya belajar bahwa keikhlasan adalah fondasi utama pendidikan, pengabdian adalah wujud nyata ilmu pengetahuan, dan manfaat yang diberikan kepada sesama merupakan warisan terbaik yang dapat ditinggalkan seorang manusia.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah sejauh mana seseorang pernah bepergian atau sebanyak apa penghargaan yang diraih. Keberhasilan sejati adalah ketika ilmu yang dimiliki mampu menghadirkan manfaat, menumbuhkan harapan, serta menjadi cahaya yang terus menerangi kehidupan orang lain. Itulah pelajaran paling berharga yang saya bawa pulang dari Pattani.









