Menjaga Martabat dengan Kemandirian

Pemerintah69 views

 

Dr. H. Abdul Basir,S.Ag,. M.Pd

( Ketua PW Mathla’ul.Anwar Prov.Kepri )

 

MabesNews.com, Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seorang mukmin tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kesungguhannya dalam bekerja, berusaha, dan menjaga kehormatan diri. Seorang Muslim yang memahami ajaran agamanya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui jalan yang halal. Ia bersyukur atas rezeki yang Allah anugerahkan, terus meningkatkan kualitas diri, serta tidak menggantungkan kehidupannya kepada orang lain selama masih mampu berikhtiar.

 

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras terhadap kebiasaan meminta-minta tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Beliau bersabda:

“Barang siapa meminta-minta kepada orang lain untuk memperbanyak hartanya, maka sesungguhnya ia sedang meminta bara api. Maka terserah kepadanya, apakah ia ingin memperbanyak atau menguranginya.” (HR. Muslim No. 1041).

Hadis tersebut mengajarkan bahwa meminta-minta demi memperkaya diri merupakan perbuatan yang tercela. Islam mendidik umatnya agar memiliki harga diri, semangat bekerja, dan kehormatan dalam menjalani kehidupan.

Dalam hadis yang lain Rasulullah ﷺ bersabda:

 

“Seseorang akan terus meminta-minta kepada manusia hingga ia datang pada hari kiamat tanpa sepotong daging pun di wajahnya.” (HR. Bukhari No. 1474 dan Muslim No. 1040).

 

Sebaliknya, Islam sangat memuliakan orang yang mencari nafkah dengan hasil usahanya sendiri, meskipun sedikit. Rezeki yang diperoleh melalui kerja keras akan membawa keberkahan, ketenangan, dan kemuliaan di sisi Allah Swt.

 

Keteladanan yang luar biasa ditunjukkan oleh sahabat Hakim bin Hizam r.a. Setelah menerima nasihat Rasulullah ﷺ bahwa harta yang diperoleh dengan hati yang lapang akan diberkahi, sedangkan harta yang diperoleh dengan penuh kerakusan tidak akan membawa keberkahan, beliau bertekad untuk tidak lagi meminta kepada siapa pun.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barang siapa mengambilnya dengan hati yang lapang, maka akan diberkahi. Barang siapa mengambilnya dengan penuh ketamakan, maka tidak akan diberkahi baginya. Ia seperti orang yang makan tetapi tidak pernah kenyang.” (HR. Bukhari No. 6441 dan Muslim No. 1035).

 

Hakim bin Hizam memegang teguh pesan tersebut. Bahkan ketika Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab menawarkan bagian dari Baitul Mal yang menjadi haknya, beliau memilih tidak menerimanya demi menjaga prinsip kemandirian yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ.

Islam juga mengajarkan bahwa kemuliaan tidak hanya dimiliki oleh orang yang bekerja keras, tetapi juga oleh orang-orang miskin yang tetap menjaga kehormatan diri dan tidak mengemis. Merekalah yang sangat dianjurkan untuk dibantu.

 

Allah Swt. berfirman:

“Infak itu diberikan kepada orang-orang fakir yang terhalang usahanya di jalan Allah. Mereka tidak mampu berusaha di bumi. Orang yang tidak mengetahui keadaan mereka mengira bahwa mereka kaya karena mereka menjaga diri dari meminta-minta. Engkau mengenal mereka dari tanda-tandanya. Mereka tidak meminta kepada manusia dengan mendesak. Apa pun harta yang kamu infakkan, sungguh Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah ayat 273).

 

Ayat ini mengajarkan bahwa masih banyak orang yang hidup dalam kekurangan, tetapi tetap menjaga martabat dan kehormatan diri. Mereka tidak mengulurkan tangan untuk meminta, sehingga umat Islam diperintahkan untuk peka terhadap keadaan mereka dan memberikan bantuan dengan penuh penghormatan.

 

Membantu orang-orang fakir yang menjaga kehormatan dirinya merupakan amal yang sangat mulia. Orang yang mencari mereka, mendatangi mereka, dan membantu tanpa menunggu mereka meminta akan memperoleh pahala yang besar di sisi Allah Swt. Semangat kepedulian inilah yang membangun masyarakat yang saling menolong, penuh kasih sayang, dan bermartabat.

Kesimpulannya, harga diri merupakan bagian dari akhlak mulia seorang Muslim. Islam mengajarkan umatnya untuk bekerja keras, hidup mandiri, menjauhi kebiasaan meminta-minta tanpa alasan yang dibenarkan, serta menjaga kehormatan diri dalam setiap keadaan. Di sisi lain, umat Islam juga diperintahkan untuk peduli terhadap kaum fakir yang tidak meminta-minta. Dengan demikian, kehidupan akan dipenuhi dengan semangat ikhtiar, rasa syukur, kepedulian sosial, dan kemuliaan akhlak sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.