Menjadi Manusia yang Bermanfaat: Hikmah Kehidupan dalam Ajaran Islam, Petuah Makassar, dan Kearifan Melayu

Oleh: Dr. Nursalim Tinggi, S.Pd., M.Pd.

Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (APEBSKID), Provinsi Kepulauan Riau

 

Mabesnews.com, Dalam perjalanan hidup manusia, ukuran kemuliaan sejati tidak terletak pada seberapa tinggi jabatan yang diraih atau seberapa banyak harta yang dikumpulkan, melainkan pada sejauh mana kehadirannya membawa manfaat bagi orang lain. Islam menempatkan kebermanfaatan sebagai inti dari nilai kemanusiaan, sebab manusia diciptakan bukan untuk hidup sendiri, tetapi untuk saling menguatkan dalam kehidupan sosial yang berkeadaban (Ali, 2000:1).

Nilai kebermanfaatan ini sejalan dengan ajaran Al-Qur’an yang menegaskan bahwa umat terbaik adalah mereka yang menghadirkan kebaikan bagi sesama manusia. Keutamaan tersebut tidak bersifat individualistik, melainkan kolektif dan sosial. Dalam konteks ini, hidup yang bernilai adalah hidup yang memberi dampak positif, menghadirkan solusi, serta menebarkan kemaslahatan di tengah masyarakat (Effendy, 2004:12).

Kearifan Melayu sejak lama menanamkan prinsip hidup yang selaras dengan ajaran tersebut. Petuah Melayu menyebutkan, “Hidup jangan menyusahkan orang, mati jangan menyusahkan negeri.” Ungkapan ini mengandung pesan moral yang sangat dalam, bahwa keberadaan manusia harus menjadi rahmat, bukan beban, baik selama hidup maupun setelah meninggal dunia. Nilai ini menegaskan bahwa manfaat sosial adalah warisan paling berharga dari sebuah kehidupan (Hamidy, 2003:25).

Dalam ajaran Islam, kebermanfaatan lahir dari empati dan kepekaan nurani. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa iman seseorang belum sempurna hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Prinsip ini menunjukkan bahwa keimanan tidak hanya diukur dari ritual, tetapi dari kepedulian sosial yang nyata dan berkesinambungan (Ali, 2000:47).

Nilai empati tersebut juga hidup kuat dalam petuah Makassar yang dikenal dengan prinsip  sipakainga, sipakatau, sipakalabbiri, saling memanusiakan, saling mengingatkan, dan saling memuliakan. Falsafah ini menempatkan martabat manusia sebagai pusat kehidupan sosial. Manusia yang bermanfaat adalah manusia yang menjaga kehormatan orang lain sebagaimana ia menjaga kehormatan dirinya sendiri (Mattulada, 1995:67).

Islam juga menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi, yakni pemegang amanah untuk menjaga, mengelola, dan memperbaiki kehidupan. Amanah ini menuntut tanggung jawab moral agar setiap ilmu, kekuasaan, dan kedudukan digunakan untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu (Ali, 2000:89).

Prinsip tersebut sejalan dengan petuah Melayu yang menyatakan, “Tinggi ilmu jangan meninggi diri, banyak harta jangan membesar hati.” Ungkapan ini mengingatkan bahwa kelebihan yang dimiliki manusia sejatinya adalah sarana pengabdian. Ketika ilmu dan kekuasaan tidak melahirkan manfaat sosial, maka nilai etikanya menjadi hampa (Effendy, 2004:41).

Rasulullah SAW secara tegas menempatkan kemuliaan manusia pada tingkat kebermanfaatannya bagi sesama. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling memberi manfaat bagi orang lain. Pesan ini menegaskan bahwa kesalehan sejati adalah kesalehan sosial, yakni ibadah yang melahirkan kepedulian, keadilan, dan pelayanan terhadap umat (Ali, 2000:102).

Petuah Makassar menguatkan nilai tersebut melalui ungkapan, resopa temmangingngi, namalomo naletei pammase dewata, yang bermakna bahwa rahmat Tuhan diraih melalui kerja keras dan pengabdian yang sungguh-sungguh. Manfaat tidak lahir dari niat baik semata, tetapi dari kesungguhan dalam berbuat dan ketekunan dalam melayani (Pelras, 2006:118).

Kesadaran akan waktu juga menjadi bagian penting dari hidup yang bermanfaat. Islam mengajarkan agar manusia memanfaatkan kesempatan hidup sebelum datang keterbatasan. Petuah Melayu menegaskan hal ini dengan ungkapan, “Kalau tidak sekarang, bila lagi; kalau tidak kita, siapa lagi.” Waktu adalah amanah yang tidak dapat diulang, dan setiap detik yang berlalu tanpa kebaikan adalah kehilangan yang tak tergantikan (Hamidy, 2003:54).

Pada akhirnya, menjadi manusia yang bermanfaat adalah jalan sunyi yang penuh hikmah. Ia mungkin tidak selalu tampak gemilang, tetapi kehadirannya menenangkan dan kepergiannya dirindukan. Ketika ajaran Islam berpadu dengan petuah Makassar dan kearifan Melayu, kita menemukan satu pesan luhur: hidup yang mulia adalah hidup yang memberi arti, menebar kebaikan, dan meninggalkan jejak manfaat bagi generasi sesudahnya (Ali, 2000:137).

 

Daftar Pustaka

Ali, A. (2000). Etika Sosial dalam Perspektif Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Effendy, T. (2004). Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.

Hamidy, U. U. (2003). Kearifan Melayu dalam Ungkapan Tradisional. Pekanbaru: Balai Bahasa Riau.

Mattulada. (1995). Latoa: Sumber Etika dan Moral Orang Bugis-Makassar. Makassar: Hasanuddin University Press.

Pelras, C. (2006). Manusia Bugis. Jakarta: Nalar Forum Jakarta-Paris.