L K Ara
Saya menyusun buku Radio Rimba Raya karena saya merasa ada sebuah suara sejarah yang tidak boleh hilang dari ingatan bangsa.
Radio Rimba Raya bukan sekadar sebuah pemancar radio yang pernah berdiri di tengah hutan. Ia adalah suara Republik ketika Republik sedang berada dalam keadaan yang sangat genting. Dari pedalaman Aceh, dari sebuah tempat yang jauh dari pusat kekuasaan, suara itu menembus batas-batas geografis dan politik, memberitahukan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih ada.
Bagi saya, di situlah kekuatan Radio Rimba Raya.
Ia lahir bukan dari kemewahan.
Ia lahir dari keterbatasan.
Bukan dari gedung yang megah, tetapi dari rimba.
Bukan dari teknologi yang sempurna, tetapi dari keberanian.
Bukan dari pusat kekuasaan, tetapi dari sebuah daerah yang mungkin pada waktu itu dianggap jauh dari sejarah besar Indonesia.
Namun sejarah sering kali justru lahir dari tempat-tempat yang sunyi.
Saya ingin mengangkat kembali Radio Rimba Raya karena generasi sekarang berhak mengetahui bahwa perjuangan mempertahankan Republik tidak hanya berlangsung di medan perang dengan senjata. Ada perjuangan melalui suara, berita, informasi dan keyakinan.
Ketika musuh berusaha membuat dunia percaya bahwa Republik Indonesia telah runtuh, Radio Rimba Raya menjadi salah satu suara yang mengatakan:
Indonesia masih ada.
Kalimat itu bagi saya bukan sekadar kalimat sejarah.
Ia adalah sebuah kesadaran.
Sebuah bangsa dapat kehilangan gedung, kehilangan kota, kehilangan kekuasaan sementara, bahkan kehilangan banyak tokohnya. Tetapi selama masih ada suara yang mengatakan bahwa bangsa itu ada, harapan belum mati.
Karena itu saya memilih bentuk epos sejarah.
Saya tidak ingin Radio Rimba Raya hanya hadir sebagai catatan tanggal, nama tokoh, tempat dan peristiwa. Saya ingin menghidupkan kembali suasana zamannya: hutan, sungai, gunung, malam yang panjang, ketegangan perang, keterbatasan teknologi, keberanian para pejuang, dan sebuah mikrofon yang menjadi jembatan antara rimba dengan dunia.
Saya membayangkan mikrofon itu bukan sekadar benda.
Ia adalah simbol.
Di hadapannya, manusia berbicara kepada dunia.
Dari sebuah tempat yang tersembunyi di pedalaman, suara itu bergerak melewati hutan, gunung dan lautan. Ia menjadi bukti bahwa sejarah tidak selalu berbicara dari istana. Kadang-kadang sejarah berbicara dari rimba.
Itulah sebabnya saya memberi judul buku ini Radio Rimba Raya.
Saya juga ingin mengingatkan bahwa Aceh mempunyai tempat penting dalam perjalanan mempertahankan Republik Indonesia. Sejarah nasional tidak boleh dibaca hanya dari Jakarta atau kota-kota besar. Indonesia dibangun oleh banyak daerah, banyak manusia, dan banyak pengorbanan yang kadang-kadang namanya tidak tercatat secara cukup dalam ingatan generasi berikutnya.
Bagi saya, menyusun buku ini adalah bagian dari usaha mengembalikan ingatan itu.
Saya tidak ingin sejarah hanya menjadi museum.
Sejarah harus menjadi cahaya.
Ia harus membantu anak-anak muda memahami bahwa kemerdekaan yang mereka nikmati hari ini bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Di belakangnya ada keberanian, pengorbanan, ketakutan yang dilawan, perjalanan yang panjang, dan keyakinan bahwa Indonesia harus tetap hidup.
Radio Rimba Raya mengajarkan kepada kita satu hal yang sangat sederhana tetapi sangat dalam:
jangan biarkan suara kebenaran mati hanya karena zaman berubah.
Hari ini kita hidup dalam dunia yang dipenuhi suara. Radio, televisi, internet dan media sosial membuat manusia dapat berbicara dalam hitungan detik. Tetapi banyaknya suara tidak selalu berarti banyaknya kebenaran.
Karena itu Radio Rimba Raya menjadi semakin penting untuk dikenang.
Dahulu, sebuah pemancar di tengah rimba berjuang agar suara Republik terdengar.
Sekarang, tugas kita adalah menjaga agar makna suara itu tidak hilang.
Saya menyusun buku ini juga sebagai penghormatan kepada mereka yang pernah bekerja dalam kesunyian sejarah. Mereka mungkin tidak semuanya dikenal. Mereka mungkin tidak berdiri di panggung besar. Tetapi dari tangan dan keberanian mereka, sebuah suara dapat sampai kepada dunia.
Saya membayangkan ketika malam turun di rimba, ketika pepohonan menjadi gelap dan udara terasa sunyi, sebuah suara keluar dari mikrofon.
Suara itu mungkin sederhana.
Tetapi di baliknya ada sebuah bangsa.
Dan suara itu berkata kepada dunia:
Republik Indonesia masih ada.
Maka buku ini saya susun bukan hanya untuk mengenang sebuah radio.
Saya menyusunnya untuk mengenang suara keberanian.
Untuk mengingat bahwa rimba pernah menjadi studio sejarah.
Untuk mengingat bahwa Aceh pernah menjadi salah satu tempat penting ketika Republik mempertahankan dirinya.
Dan untuk mengingatkan generasi hari ini bahwa kemerdekaan bukan hanya warisan yang diterima, melainkan amanah yang harus dijaga.
Jika kelak buku ini dibaca oleh seorang anak muda yang tidak pernah mendengar suara Radio Rimba Raya, saya berharap ia berhenti sejenak dan bertanya:
Siapa mereka yang dahulu berbicara dari tengah rimba?
Lalu ia mencari jawabannya.
Ketika ia menemukan jawabannya, ia akan menemukan lebih dari sekadar sejarah sebuah radio.
Ia akan menemukan keberanian.
Ia akan menemukan pengorbanan.
Ia akan menemukan Aceh.
Dan pada akhirnya, ia akan menemukan salah satu bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.
Sebab hutan memang dapat sunyi.
Tetapi suara sejarah tidak boleh mati.
Radio Rimba Raya adalah suara yang pernah keluar dari rimba untuk menyelamatkan ingatan sebuah bangsa.
Dan buku ini saya susun agar suara itu tetap terdengar.







