Mengapa Saya Menulis Puisi: Pesan Gajah kepada Anaknya

 

Oleh L. K. Ara

 

Mabesnews.com-Takengon-Puisi ini lahir bukan sekadar dari imajinasi, tetapi dari kegelisahan yang nyata—kegelisahan melihat dunia yang perlahan kehilangan rasa. Saya memilih suara seekor gajah bukan karena ia kuat, tetapi karena ia diam-diam menyimpan ingatan panjang tentang rumah yang dirampas.

 

Gajah dalam puisi ini adalah saksi. Ia tidak berdebat seperti manusia, tidak berpidato, tidak membuat teori. Ia hanya hidup, berjalan, dan mengingat. Justru dari kesederhanaan itu, ia menjadi cermin yang jernih bagi kerumitan manusia modern.

 

Saya menulis puisi ini karena ada ironi besar yang sulit diabaikan:

bahwa kerusakan hari ini sering dibungkus dengan kata-kata yang indah—pembangunan, kemajuan, investasi, kesejahteraan. Kata-kata itu terdengar mulia, tetapi di baliknya, hutan hilang, sungai kehilangan arah, dan makhluk hidup terusir tanpa sempat berpamitan.

 

Puisi ini adalah bentuk perlawanan yang sunyi.

Bukan dengan teriakan, tetapi dengan sindiran.

Bukan dengan kemarahan yang meledak, tetapi dengan kesadaran yang pelan-pelan mengetuk.

 

Tokoh “anak gajah” dalam puisi ini saya hadirkan sebagai harapan—generasi yang masih bisa memilih: apakah akan mengikuti jejak manusia yang lupa, atau tetap setia pada fitrah yang menjaga.

 

Ada juga dimensi spiritual yang ingin saya sentuh.

Ketika saya menulis tentang “bertasawuf”, saya tidak sedang berbicara tentang ritual yang jauh dan tinggi, tetapi tentang kesadaran paling dasar: hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Dalam pandangan ini, merusak hutan bukan hanya kesalahan ekologis, tetapi juga kegagalan spiritual.

 

Saya percaya, yang hilang hari ini bukan sekadar pohon, tetapi rasa.

Rasa cukup.

Rasa takut.

Rasa terhubung.

 

Karena itu, puisi ini saya tulis sebagai pengingat:

bahwa yang paling berbahaya bukanlah mesin yang menebang,

melainkan hati yang tidak lagi merasa bersalah saat menebang.

 

Melalui suara seekor gajah kepada anaknya, saya sebenarnya sedang berbicara kepada manusia—kepada kita semua. Bahwa mungkin, untuk kembali menemukan jalan pulang, kita tidak perlu menjadi lebih pintar, tetapi cukup menjadi lebih sadar.

 

Dan puisi ini adalah salah satu cara saya untuk tetap mengingatkan diri sendiri—agar tidak ikut menjadi bagian dari kehilangan itu.

 

(Editor : bachtiar adamy)