BANJIR, Apakah Ini Hanya Soal Hujan?

L K Ara

 

Hujan turun

seperti ayat yang lama tak selesai dibaca.

Ia mengetuk atap-atap seng,

membasuh daun,

mengalir ke sungai,

lalu mencari jalan pulang.

Tetapi sungai telah kehilangan ingatan.

Ia lupa ke mana harus mengalir,

karena tubuhnya disempitkan,

napasnya dicekik,

dan hutan yang dulu menjadi ibu

telah berubah menjadi angka-angka

di atas lembar izin.

 

Seorang anak berdiri

di depan rumah yang tinggal separuh.

Buku-bukunya terapung.

Di antara air keruh

ia bertanya kepada ayahnya,

“Apakah banjir selalu datang

ketika hujan?”

Ayahnya diam.

Sebab ia tahu,

ada pertanyaan

yang tak bisa dijawab

hanya dengan melihat langit.

Di sebuah ruang berpendingin udara,

pena-pena menari.

Sebaris tanda tangan

mengubah gunung menjadi konsesi.

Hutan berubah koordinat.

Sungai berubah berkas.

Tanah berubah investasi.

Dan rakyat…

berubah menjadi statistik korban.

Air tidak pernah berbohong.

Ia selalu mengalir

ke tempat

di mana manusia

lupa menjaga keseimbangan.

Ketika akar dicabut,

air kehilangan tangan

untuk berpegangan.

Ketika bukit dibelah,

air kehilangan kesabaran.

Lalu ia datang

mengetuk pintu-pintu

yang tak pernah ikut menandatangani izin.

Ironinya,

yang pertama tenggelam

selalu rumah-rumah sederhana.

Sawah yang baru menghijau.

Masjid kecil di sudut kampung.

Sekolah

yang papan tulisnya

lebih sering menulis harapan

daripada angka.

Sedang ruang rapat

tetap kering.

 

 

Kini,

lembar-lembar yang dulu disembunyikan

mulai terbuka.

Data menjadi cahaya.

Rakyat

tidak lagi hanya diminta percaya.

Mereka berhak membaca.

Berhak mengetahui

siapa menguasai tanah,

siapa memegang izin,

siapa menikmati hasil,

dan siapa menanggung lumpur.

Karena demokrasi

tidak hidup

di balik lemari arsip.

Ia hidup

ketika informasi

menjadi milik semua.

Aceh…

Tanah yang pernah mengajari dunia

bahwa hutan

adalah halaman depan kehidupan.

Bahwa gunung

bukan sekadar batu.

Bahwa sungai

bukan sekadar saluran air.

Bahwa alam

adalah amanah.

Maka jangan biarkan

ia diperlakukan

seperti barang dagangan.

Barangkali banjir

bukan hanya air.

 

Ia adalah tangisan pohon

yang ditebang terlalu cepat.

Doa tanah

yang kehilangan pelindung.

Dan suara anak-anak

yang masa depannya

ikut hanyut bersama arus.

Maka sebelum kita menyalahkan hujan,

bertanyalah kepada cermin.

Sudahkah kita menjaga

ruang hidup ini?

Ataukah kita sedang

perlahan-lahan

menenggelamkan diri sendiri?

Sebab banjir terbesar

sering kali

bukan datang dari langit,

melainkan

dari keserakahan

yang meluap

di hati manusia.

Catatan

Puisi ini lahir dari kegelisahan atas bencana banjir yang berulang di Aceh dan pentingnya tata kelola ruang hidup yang transparan, adil, dan berpihak kepada masyarakat. Banjir tidak selalu dapat dijelaskan hanya oleh curah hujan. Perubahan tutupan hutan, aktivitas pertambangan, alih fungsi lahan, tata ruang, serta pengelolaan daerah aliran sungai merupakan faktor-faktor yang patut ma dikaji bersama secara ilmiah dan terbuka. Puisi ini bukan tuduhan terhadap pihak tertentu, melainkan ajakan untuk menjaga alam sebagai warisan bersama dan memastikan setiap kebijakan pembangunan memperhatikan keselamatan manusia serta kelestarian lingkungan. ‎

 

/Bay