L. K. Ara
Ada pertanyaan yang sejak lama berdiam di dalam diri saya sebagai seorang penyair:
Apakah pengabdian seorang penyair dapat dihitung dengan sejumlah uang?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana bagi sebuah persoalan yang menyangkut puluhan tahun kehidupan seseorang. Tetapi justru dari pertanyaan yang sederhana itulah puisi *Harga Seorang Penyair* lahir.
Saya menulis puisi ini bukan karena saya sedang menghitung berapa harga seorang penyair. Saya justru sedang mempertanyakan apakah seorang manusia yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk sastra memang layak diukur dengan angka.
Angka empat puluh juta yang muncul dalam puisi itu bukanlah inti persoalannya.
Empat puluh juta hanyalah sebuah angka.
Yang saya persoalkan adalah sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang:
umur.
Uang dapat dicari kembali.
Umur tidak.
Buku dapat dicetak kembali.
Waktu tidak.
Rumah dapat dibangun kembali.
Masa muda tidak.
Karena itu, ketika saya menulis tentang seorang penyair yang menerima sejumlah uang sebagai penghargaan, yang sesungguhnya sedang saya timbang bukan uangnya, melainkan umur yang telah diberikan untuk sampai kepada titik itu.
Seorang penyair tidak tiba-tiba menjadi penyair pada hari ketika ia menerima penghargaan.
Ia menjadi penyair melalui perjalanan yang panjang.
Ada masa ketika ia belum dikenal.
Ada masa ketika puisinya ditolak.
Ada masa ketika bukunya tidak laku.
Ada masa ketika ia menulis dalam kesunyian.
Ada masa ketika orang-orang di sekelilingnya mungkin bertanya:
“Untuk apa terus menulis?”
Pertanyaan seperti itu sering kali lebih berat daripada kemiskinan.
Sebab seorang penyair hidup bukan hanya dengan kebutuhan tubuh, tetapi juga dengan kebutuhan batin untuk mengatakan sesuatu.
Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Ada sesuatu yang menyentuh hatinya.
Ada sesuatu yang ia lihat tetapi tidak dapat ia diamkan.
Sebuah kematian.
Sebuah kelahiran.
Sebuah sungai.
Sebuah gunung.
Sebuah kampung.
Seorang ibu.
Seorang anak.
Sebuah bangsa.
Sebuah zaman.
Semua itu dapat berubah menjadi puisi.
Maka penyair sebenarnya hidup di antara dua dunia: dunia yang terlihat dan dunia yang dirasakan.
Ia melihat sesuatu yang mungkin tidak dilihat orang lain.
Ia mendengar sesuatu yang mungkin tidak terdengar oleh telinga biasa.
Kemudian ia mencoba memberikan bentuk kepada semuanya melalui kata.
Itulah pekerjaan penyair.
Pekerjaan yang kelihatannya ringan karena hanya menggunakan kertas dan tinta, tetapi sesungguhnya membutuhkan seluruh kehidupan.
—
Saya menulis:
> yang paling murah
> di negeri ini
> bukan beras,
> bukan garam,
> melainkan
> umur
> yang dihabiskan
> untuk setia.
Bagi saya, bait ini adalah jantung puisi.
Mengapa umur disebut paling murah?
Karena manusia sering kali baru menyadari mahalnya umur ketika umur itu hampir habis.
Ketika masih muda, kita merasa mempunyai banyak waktu.
Kita merasa besok masih ada.
Tahun depan masih ada.
Sepuluh tahun lagi masih ada.
Tetapi seorang penyair yang telah melewati puluhan tahun hidupnya akan mengetahui satu hal:
**waktu tidak pernah berutang kepada manusia.**
Ia berjalan terus.
Hari berganti hari.
Rambut berubah putih.
Tubuh mulai lambat.
Mata tidak setajam dahulu.
Tangan tidak sekuat dahulu.
Teman-teman seperjalanan satu demi satu pergi.
Buku-buku yang dahulu ditulis dengan penuh tenaga mulai menjadi bagian dari sejarah.
Pada saat itulah seseorang mungkin bertanya:
Apa yang sebenarnya telah saya lakukan selama hidup ini?
Bagi seorang penyair, jawabannya mungkin hanya satu:
**Saya telah menulis.**
Tetapi kalimat sederhana itu menyimpan puluhan tahun kehidupan.
Di balik sebuah buku ada malam-malam panjang.
Di balik sebuah puisi ada kegelisahan.
Di balik sebuah kata ada pengalaman.
Di balik sebuah karya ada umur.
Karena itu, sebuah buku puisi tidak pernah hanya terdiri atas kertas.
Ia adalah bagian dari kehidupan penulisnya.
—
Saya tidak sedang mengatakan bahwa penyair harus dibayar mahal.
Tidak.
Saya justru percaya bahwa penyair sejati tidak menulis karena uang.
Kalau uang menjadi tujuan utama, mungkin seseorang akan memilih pekerjaan lain yang lebih mudah dihitung hasilnya.
Penyair memilih jalan yang berbeda.
Ia memilih kata.
Ia memilih kesunyian.
Ia memilih membaca.
Ia memilih merenung.
Ia memilih mencatat.
Dan kadang-kadang ia memilih tetap menulis meskipun tidak ada yang menjanjikan apa-apa.
Tetapi di sinilah persoalannya.
Karena penyair tidak menulis demi uang, janganlah masyarakat kemudian menganggap bahwa penyair tidak membutuhkan kehidupan yang layak.
Kemiskinan bukan bukti kesucian.
Kelaparan bukan ukuran kejujuran.
Kesengsaraan bukan syarat untuk menjadi penyair.
Seorang penyair boleh hidup sederhana.
Tetapi ia tetap manusia.
Ia membutuhkan rumah.
Ia membutuhkan makanan.
Ia membutuhkan kesehatan.
Ia membutuhkan buku.
Ia membutuhkan ruang untuk bekerja.
Dan ketika ia telah tua, ia membutuhkan penghormatan yang tidak berhenti pada kata-kata.
Sebab orang yang telah mengabdikan hidupnya kepada kebudayaan sesungguhnya telah bekerja untuk masyarakat, meskipun hasil pekerjaannya tidak selalu dapat dilihat dalam bentuk benda.
—
Di sinilah saya mulai melihat persoalan yang lebih besar.
Apa sebenarnya tugas negara terhadap para pekerja kebudayaan?
Apakah cukup memberikan penghargaan?
Apakah cukup mengundang mereka ke panggung?
Apakah cukup memberikan piagam?
Apakah cukup memberikan sejumlah uang?
Saya kira tidak.
Penghargaan adalah awal dari pengakuan.
Tetapi penghormatan yang sebenarnya adalah **merawat warisan**.
Ketika seorang penyair masih hidup, karya-karyanya harus dibaca.
Ketika ia sudah tua, karya-karyanya harus dirawat.
Ketika ia telah meninggal, karya-karyanya harus diwariskan.
Buku-bukunya seharusnya berada di perpustakaan.
Puisinya seharusnya dapat ditemukan oleh anak-anak sekolah.
Namanya seharusnya tercatat dalam sejarah sastra.
Pemikirannya seharusnya menjadi bahan penelitian.
Karyanya seharusnya dapat diterjemahkan.
Naskah-naskahnya seharusnya disimpan.
Dengan demikian, negara tidak hanya memberikan penghargaan kepada **orangnya**, tetapi juga menjaga **warisannya**.
Sebab seorang penyair bukan hanya tubuh yang menerima penghargaan.
Ia adalah kumpulan pengalaman, gagasan, bahasa, dan ingatan yang suatu hari akan menjadi bagian dari sejarah bangsa.
—
Saya sering berpikir tentang hubungan antara penyair dan ingatan.
Bangsa mempunyai sejarah.
Tetapi sejarah tidak selalu mampu menyimpan seluruh pengalaman manusia.
Sejarah mencatat tanggal.
Mencatat perang.
Mencatat pergantian kekuasaan.
Mencatat nama tokoh.
Tetapi siapa yang mencatat tangisan seorang ibu?
Siapa yang mencatat kesunyian seorang anak?
Siapa yang mencatat aroma kopi dari sebuah kampung di pegunungan?
Siapa yang mencatat suara sungai ketika malam?
Siapa yang mencatat kerinduan seseorang kepada tanah kelahirannya?
Di situlah sastra bekerja.
Penyair menyimpan apa yang mungkin dilupakan sejarah.
Ia menjaga suara manusia kecil.
Ia menjaga bahasa daerah.
Ia menjaga nama-nama tempat.
Ia menjaga kenangan.
Ia menjaga perasaan.
Karena itu saya sering mengatakan bahwa penyair adalah salah satu penjaga ingatan bangsa.
Ia mungkin tidak memegang senjata.
Ia mungkin tidak duduk di ruang kekuasaan.
Ia mungkin tidak mempunyai perusahaan besar.
Tetapi ia mempunyai kata.
Dan kata, apabila ditulis dengan kejujuran, dapat bertahan lebih lama daripada kekuasaan.
—
Saya berasal dari dunia yang juga mengajarkan kepada saya arti ingatan.
Aceh dan Gayo mempunyai sejarah panjang tentang tradisi lisan.
Ada didong.
Ada hikayat.
Ada syair.
Ada cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut.
Sebelum banyak orang mengenal buku, masyarakat telah mengenal ingatan melalui suara.
Orang-orang dahulu mungkin tidak mempunyai perpustakaan besar.
Tetapi mereka mempunyai ingatan.
Mereka menyimpan sejarah melalui nyanyian.
Menyimpan nasihat melalui syair.
Menyimpan nilai kehidupan melalui cerita.
Dari sana saya belajar bahwa kebudayaan tidak akan bertahan hanya karena benda-benda.
Kebudayaan bertahan karena ada manusia yang bersedia mengingat dan mewariskannya.
Seorang penyair pada hakikatnya meneruskan pekerjaan itu.
Ia menerima bahasa dari generasi sebelumnya dan menyerahkannya kepada generasi sesudahnya.
Karena itu, ketika kita merawat seorang penyair, sesungguhnya kita sedang merawat salah satu mata rantai kebudayaan.
—
Saya juga sadar bahwa menjadi penyair berarti menerima kesunyian.
Banyak pekerjaan mempunyai hasil yang dapat segera dilihat.
Petani menanam dan kemudian memanen.
Pedagang menjual dan memperoleh keuntungan.
Pekerja membangun dan melihat bangunan berdiri.
Tetapi penyair?
Ia menulis hari ini.
Barangkali hasilnya baru dirasakan puluhan tahun kemudian.
Bahkan mungkin setelah ia meninggal.
Ada puisi yang tidak langsung dipahami ketika ditulis.
Ada buku yang baru ditemukan kembali setelah penulisnya tiada.
Ada pemikiran yang baru dianggap penting ketika zaman telah berubah.
Karena itu, penyair harus mempunyai kesabaran yang panjang.
Ia harus sanggup bekerja tanpa jaminan bahwa namanya akan segera dikenal.
Di situlah letak kesetiaan.
Dan kesetiaan itulah yang saya maksudkan dalam puisi ini.
**Umur yang dihabiskan untuk setia.**
—
Saya tidak ingin puisi *Harga Seorang Penyair* berubah menjadi puisi tentang keluhan.
Saya ingin ia menjadi pertanyaan kebudayaan.
Sebab persoalannya bukan hanya seorang penyair.
Persoalannya adalah bagaimana sebuah bangsa memperlakukan kebudayaannya.
Jika kita hanya menghargai sesuatu ketika sesuatu itu telah terkenal, maka kita sebenarnya tidak sedang membangun kebudayaan.
Kita hanya sedang mengikuti popularitas.
Kebudayaan membutuhkan kerja yang lebih panjang.
Ia membutuhkan dokumentasi.
Membutuhkan perpustakaan.
Membutuhkan penerbitan.
Membutuhkan penelitian.
Membutuhkan pendidikan.
Membutuhkan ruang pertunjukan.
Membutuhkan arsip.
Membutuhkan perhatian pemerintah.
Dan terutama membutuhkan generasi penerus.
Saya ingin seorang anak di masa depan dapat membuka sebuah buku dan berkata:
“Ini penyair dari masa lalu.”
Lalu ia membaca.
Kemudian ia bertanya.
Kemudian ia mencari buku yang lain.
Kemudian ia menemukan bahwa sebelum dirinya lahir, ada manusia yang telah bekerja dengan kata untuk menjaga zaman.
Jika itu terjadi, saya kira seorang penyair telah mendapatkan penghargaan yang jauh lebih besar daripada uang.
Ia mendapatkan kehidupan kedua melalui pembacanya.
—
Karena itu saya menulis bait:
> Penyair sejati
> tak pernah
> menulis
> untuk angka.
Bait ini bukan berarti uang tidak penting.
Uang penting bagi kehidupan.
Tetapi uang bukan ukuran terakhir dari nilai sebuah karya.
Angka dapat menghitung jumlah buku.
Tetapi tidak dapat menghitung jumlah hati yang tersentuh.
Angka dapat menghitung honor.
Tetapi tidak dapat menghitung berapa banyak orang yang berubah setelah membaca sebuah puisi.
Angka dapat menghitung jumlah penghargaan.
Tetapi tidak dapat menghitung berapa lama sebuah karya bertahan dalam ingatan.
Maka ada sesuatu yang tidak dapat dihitung.
Dan justru yang tidak dapat dihitung itulah yang kadang-kadang paling berharga.
—
Saya semakin tua.
Dan semakin tua seseorang, semakin dekat ia dengan pertanyaan tentang warisan.
Bukan lagi:
“Apa yang akan saya miliki?”
Tetapi:
“Apa yang akan saya tinggalkan?”
Rumah akan ditempati orang lain.
Benda-benda akan berpindah tangan.
Uang akan habis.
Foto akan menguning.
Tubuh akan kembali kepada tanah.
Tetapi kata-kata, apabila masih dibaca, dapat terus berjalan.
Itulah sebabnya saya terus menulis.
Bukan karena saya ingin menjadi terkenal.
Bukan pula karena saya ingin mengumpulkan angka.
Saya menulis karena saya ingin meninggalkan sesuatu yang dapat dibaca oleh orang yang belum saya kenal.
Mungkin seorang anak.
Mungkin seorang mahasiswa.
Mungkin seorang penyair muda.
Mungkin seseorang yang sedang duduk sendirian di sebuah kamar dan membutuhkan sebuah kalimat untuk menyelamatkan dirinya dari kesunyian.
Saya tidak tahu siapa mereka.
Tetapi saya percaya mereka ada.
Dan untuk merekalah sebuah karya ditulis.
—
Maka sekarang saya kembali kepada pertanyaan pertama:
Apakah pengabdian seorang penyair dapat dihitung dengan sejumlah uang?
Jawaban saya:
Tidak.
Karena umur tidak dapat dibeli kembali.
Kesetiaan tidak dapat ditimbang.
Kesunyian tidak dapat dinominalkan.
Pengalaman tidak dapat dilelang.
Dan karya yang benar-benar hidup tidak pernah selesai dihitung oleh angka.
Angka empat puluh juta pada akhirnya hanyalah sebuah angka.
Yang jauh lebih besar adalah puluhan tahun di belakang angka itu.
Ada kehidupan di sana.
Ada kesunyian.
Ada perjuangan.
Ada kegagalan.
Ada ketekunan.
Ada buku.
Ada puisi.
Ada air mata.
Ada harapan.
Dan ada kesetiaan.
Itulah sebabnya saya menulis Harga Seorang Penyair
Saya ingin mengingatkan diri saya sendiri, para penyair, masyarakat, dan terutama negara:
jangan menilai seorang penyair hanya ketika ia menerima penghargaan.
Lihatlah perjalanan hidupnya.
Lihatlah karya yang telah ditulisnya.
Lihatlah ingatan yang telah dijaganya.
Lihatlah bahasa yang telah dirawatnya.
Lihatlah generasi yang mungkin telah disentuh oleh puisinya.
Dan setelah itu, barulah kita memahami bahwa harga seorang penyair tidak pernah sama dengan jumlah uang yang diterimanya.
—
Pada akhirnya, saya tidak ingin dikenang karena sebuah angka.
Saya ingin dikenang karena kata.
Jika kelak tubuh saya tidak lagi mampu menulis, saya berharap buku-buku saya masih dapat berbicara.
Jika kelak suara saya tidak lagi terdengar, saya berharap puisi-puisi saya masih mempunyai suara.
Jika kelak saya tidak lagi ada, saya berharap seseorang masih membuka halaman buku saya dan menemukan sesuatu yang berguna bagi hidupnya.
Mungkin hanya satu kalimat.
Mungkin hanya satu bait.
Mungkin hanya satu kata.
Tetapi jika satu kata itu membuat seseorang mengingat ibunya, mencintai tanah kelahirannya, menghargai kebudayaannya, mencintai bahasa bangsanya, atau kembali mengingat Tuhan, maka saya merasa umur saya tidak sia-sia.
Barangkali itulah harga yang sebenarnya.
Bukan berapa banyak uang yang saya terima.
Bukan berapa banyak penghargaan yang saya kumpulkan.
Bukan berapa tinggi nama saya disebut.
Melainkan:
**berapa lama kata-kata saya mampu hidup setelah saya pergi.**
Maka *Harga Seorang Penyair* sesungguhnya bukan puisi tentang Rp40 juta.
Ini adalah puisi tentang **harga sebuah umur**.
Tentang **harga sebuah kesetiaan**.
Tentang manusia yang memilih memberikan hidupnya kepada kata.
Tentang kebudayaan yang membutuhkan penjaga.
Dan tentang sebuah bangsa yang seharusnya tidak hanya pandai memberi penghargaan, tetapi juga pandai **mengingat**.
Sebab pada akhirnya, saya percaya:
**seorang penyair tidak benar-benar mati ketika tubuhnya berhenti bernapas.**
Ia mati ketika tidak ada lagi yang membaca.
Ia mati ketika namanya hilang dari ingatan.
Ia mati ketika bukunya berdebu tanpa pernah dibuka.
Ia mati ketika generasi sesudahnya tidak lagi tahu bahwa ia pernah memberikan hidupnya kepada bangsa.
Karena itu saya mempunyai satu harapan sederhana:
Semoga setelah penyair memberikan umurnya kepada bangsa, bangsa tidak membalasnya dengan lupa.
Semoga setelah penyair menjaga ingatan bangsa, bangsa juga bersedia menjaga ingatan tentang penyair.
Dan semoga suatu hari nanti, ketika seseorang bertanya:
**“Berapa harga seorang penyair?”**
Jawabannya bukan lagi angka.
Melainkan:
“Sebesar umur yang telah ia berikan, dan sepanjang ingatan yang berhasil ia tinggalkan.”
Jakarta, Agustus 2026













