Oleh Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau
MabesNews.com, Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat, manusia kerap kehilangan ruang hening untuk berdialog dengan dirinya sendiri, apalagi dengan Tuhannya. Kesibukan siang hari menyita energi, menyibukkan pikiran, dan sering kali menumpulkan kepekaan batin. Dalam konteks inilah sholat tahajud menemukan relevansinya sebagai praktik spiritual yang tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga bernilai peradaban.
Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang secara teologis diyakini sebagai momentum paling dekat antara hamba dan Sang Pencipta. Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, disebutkan bahwa pada waktu tersebut Allah menyeru hamba-Nya untuk berdoa dan memohon ampunan. Seruan ilahiah ini sesungguhnya merupakan panggilan eksistensial: siapa yang bersedia bangkit melampaui kenyamanan demi sebuah kedekatan spiritual?
Ulama besar generasi awal Islam, Al-Hasan al-Bashri, menegaskan bahwa sholat malam adalah kemuliaan bagi orang beriman, kedekatan kepada Tuhannya, penghapus dosa, dan pencegah kemaksiatan. Pernyataan ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan refleksi pengalaman spiritual yang mendalam. Orang yang membiasakan dirinya bangun di malam hari untuk bermunajat sejatinya sedang membangun kekuatan karakter yang kokoh.
Tahajud melatih integritas. Ia adalah ibadah yang tersembunyi, jauh dari sorotan publik. Tidak ada pujian, tidak ada pengakuan sosial. Yang ada hanyalah kesadaran batin dan komitmen personal. Dalam perspektif pendidikan karakter, ini adalah bentuk latihan kejujuran paling murni. Seseorang bangun bukan karena ingin dilihat, melainkan karena merasa diawasi oleh Tuhan.
Lebih jauh, tahajud juga berfungsi sebagai terapi psikologis. Dalam kesunyian malam, seseorang dapat menata ulang pikirannya, merefleksikan kesalahan, serta memohon kekuatan untuk menghadapi tantangan hidup. Banyak persoalan yang tampak rumit pada siang hari menjadi lebih jernih setelah dibawa dalam sujud panjang di malam hari. Di sanalah hati yang gelisah menemukan ketenangan, dan jiwa yang lelah menemukan penguatan.
Sebagai pendidik dan insan budaya, saya memandang bahwa kebiasaan menghidupkan malam dengan tahajud bukan hanya berdampak pada kualitas spiritual individu, tetapi juga pada kualitas sosial masyarakat. Individu yang kuat secara spiritual akan lebih sabar, lebih santun dalam bertutur, dan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Dari pribadi-pribadi seperti inilah peradaban yang beradab dapat tumbuh.
Karena itu, jangan biarkan kantuk merampas kesempatan emas di sepertiga malam terakhir. Bangkitlah, meski hanya dengan dua rakaat yang khusyuk. Jadikan malam sebagai ruang pembinaan diri. Sebab di sanalah doa dipanjatkan dengan tulus, dosa diakui dengan jujur, dan harapan dititipkan dengan penuh keyakinan.
Tahajud bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan fondasi kekuatan batin. Dari sunyi malam itulah lahir keteguhan siang hari. Dari sujud yang tersembunyi itulah tumbuh kemuliaan yang nyata dalam kehidupan.







