Mabesnews.com,-Kamis 5/3/2026 Kajian Tasawuf Irfani
بِسْــــــــــــــــــــــم اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
NUKLIR RUHANI: TITIK TANPA KEMBALI DI HADAPAN SANG KHALIK
بِسْمِ اللهِ الَّذِي جَعَلَ الذَّرَّةَ مِرْآةً لِعَظَمَتِهِ، وَالنُّورَ حِجَابًا لِجَمَالِهِ. نَحْمَدُهُ حَمْدَ مَنْ أَبْصَرَ سِرَّ الْفَنَاءِ فِي عَيْنِ الْبَقَاءِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، الْمُتَجَلِّي بِقُدْرَتِهِ فِي كُلِّ مَوْجُودٍ، وَالْمُتَعَالِي بِذَاتِهِ عَنْ كُلِّ مَحْدُودٍ. وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى مِشْكَاةِ الْأَنْوَارِ، وَسِرِّ الْأَسْرَارِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي انْشَقَّ لَهُ الْقَمَرُ، وَانْفَجَرَتْ مِنْ نُورِهِ بَصَائِرُ الْبَشَرِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ التَّزْكِيَةِ وَالنَّظَرِ.
“Dengan nama Allah yang menjadikan atom sebagai cermin keagungan-Nya, dan menjadikan cahaya sebagai hijab bagi keindahan-Nya. Kami memuji-Nya dengan pujian orang yang melihat rahasia kefanaan di dalam mata keekalan. Kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, yang menampakkan diri dengan kuasa-Nya pada setiap yang ada, dan Maha Tinggi Zat-Nya dari segala yang terbatas. Shalawat dan salam atas lentera segala cahaya, rahasia dari segala rahasia, junjungan kami Muhammad yang untuknya bulan terbelah, dan dari cahayanya memancar mata batin manusia, serta kepada keluarga dan sahabatnya ahli penyucian jiwa dan bashirah.”
Kedahsyatan “Peluncuran” Maut dan Pedang Tauhid
Sidang Salik yang Dirahmati Allah,
* Dunia gemetar membicarakan senjata nuklir. Sekali tombol ditekan, sekali hulu ledak meluncur, tak ada lagi tangan manusia yang mampu menariknya kembali. Kecepatannya melampaui logika, lintasannya membelah langit, dan kehancurannya bersifat mutlak. Inilah “Point of No Return” dalam sains fisik.
* Namun, ketahuilah wahai jiwa yang sedang bermuara, ada “nuklir” yang jauh lebih dahsyat yang sedang mengincar setiap helai napas kita. Itulah Al-Maut (Kematian).
Sains mengatakan nuklir mustahil dihentikan karena waktu reaksi manusia hampir nol. Secara irfani, inilah gambaran saat nyawa mencapai kerongkongan. Ketika “tombol” ajal ditekan oleh izin Allah, maka tidak ada lagi ruang untuk negosiasi, tidak ada jalan untuk bertaubat.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Waqi’ah: 83-84:
فَلَوْلَآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلْحُلْقُومَ . وَأَنتُمْ حِينَئِذٍۢ تَنظُرُونَ
“Maka mengapa tidak (menahan) ketika (nyawa) telah sampai di kerongkongan? Padahal kamu ketika itu melihat.”
Tokoh sufi kaliber dunia, Syeikh Akbar Ibnu ‘Arabi, memandang bahwa setiap atom di alam semesta ini senantiasa bertajalli (menampakkan) keagungan Tuhan. Jika nuklir bekerja dengan membelah atom untuk menghancurkan, maka Tazkiyatun Nafs bekerja dengan “membelah” ego manusia untuk menemukan Tuhan di dalamnya.
Sebaliknya, tokoh tasawuf Nusantara yang masyhur, Syeikh Nawawi Al-Bantani, mengingatkan dalam kitab-kitabnya bahwa hidup adalah persiapan untuk sebuah “ledakan” besar di akhirat. Beliau menekankan bahwa iman yang kokoh adalah satu-satunya perisai saat “rudal-rudal” amal buruk kita meledak di hari perhitungan.
Nuklir berjalan otomatis setelah diluncurkan. Begitu pula dosa yang terus dilakukan tanpa taubat; ia akan membentuk sirkuit otomatis yang mengeras di hati (Raan).
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits shahih:
«إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ»
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di kerongkongan (ghargharah).” (HR. Tirmidzi)
Wahai hamba yang fakir…
Wajah-wajah yang bersinar dalam kekhusyukan doa adalah simbol dari jiwa yang telah menjinakkan “nuklir nafsu” di dalam dirinya.
Mereka tidak takut pada ledakan dunia, karena hati mereka telah meledak lebih dulu dalam rindu kepada Allah.
Mari kita sadari, sebelum “rudal ajal” itu lepas dari peluncur takdir, basahilah lisanmu dengan istighfar. Biarkan air matamu menjadi pendingin bagi panasnya api neraka yang dipicu oleh nuklir dosa-dosamu.
𝓡𝓪𝓲𝓱 𝓜𝓪𝓷𝓯𝓪𝓪𝓽 & 𝓟𝓪𝓱𝓪𝓵𝓪
(Samsul Daeng Pasomba.PPWI)







