Mari Kita Belajar Bersama Tentang Kajian Tasawuf Irfani

MabesNews.com,-Kamis 5/3/2026 Kajian Tasawuf Irfani

بِسْــــــــــــــــــــــم اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

 

PUING-PUING PERADABAN: MENCARI TUHAN DI BALIK RERUNTUHAN EGO

بِسْمِ اللهِ الَّذِي جَعَلَ الدُّنْيَا مَزْرَعَةً لِلْآخِرَةِ، وَجَعَلَ القُلُوْبَ مَحَلًّا لِنَظَرِهِ لَا لِأَهْوَاءِ الخَلِيْقَةِ. سُبْحَانَ مَنْ يَعِظُ بِالفَنَاءِ لِيَبْقَى الحَيُّ الصَّمَدُ. نَحْمَدُهُ عَلَى نِعْمَةِ العَقْلِ بَعْدَ الجَهْلِ، وَعَلَى نُوْرِ الهِدَايَةِ بَعْدَ ضَلَالِ الكِبْرِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ نُوْرِ المَلَكُوْتِ وَسِرِّ الجَبَرُوْتِ، وَعَلَى آلِهِ الَّذِيْنَ طَهَّرُوْا نُفُوْسَهُمْ عَنْ أَدْرَانِ الدُّنْيَا الدَّنِيَّةِ.

“Dengan menyebut nama Allah yang menjadikan dunia sebagai ladang akhirat, dan menjadikan hati sebagai tempat pandangan-Nya, bukan tempat bagi nafsu makhluk. Maha Suci Dia yang memberi peringatan melalui kefanaan agar tetap tegak Yang Maha Hidup lagi bergantung pada-Nya segala sesuatu. Kami memuji-Nya atas nikmat akal setelah kebodohan, dan atas cahaya hidayah setelah kesesatan kesombongan. Ya Allah, limpahkan selawat atas Muhammad, cahaya alam malakut dan rahasia alam jabarut, serta keluarganya yang telah mensucikan jiwa mereka dari kotoran dunia yang rendah.”

Refleksi Perang dan Kesadaran Batin

 

Duhai Jiwa-Jiwa yang Sedang Merindu Kebenaran,

 

* Dunia pernah menangis darah antara tahun 1939 hingga 1945. Namun, tahukah engkau apa yang lebih mengerikan dari dentuman meriam di Polandia atau langit yang terbakar di Hiroshima? Yang lebih mengerikan adalah “Perang Dalam Dada” yang kalah sebelum dimulai.

Kehancuran: Ketika Solusi Terkubur Emosi

* Sejarah mencatat 50 hingga 80 juta nyawa melayang. Mengapa? Karena manusia lebih memilih menjadi “hakim” daripada menjadi “pembina”. Mereka melihat bangsa lain sebagai piring kotor yang harus dihancurkan, bukan dibersihkan. Inilah puncak kesesatan tazkiyatun nafs; ketika seseorang merasa dirinya paling suci (superioritas) dan orang lain layak dimusnahkan.

* Jika pedang tauhid digunakan untuk menebas ego, maka pedang perang digunakan untuk mengabdi pada ego. Ingatlah, kehancuran fisik sebuah kota bisa dibangun kembali dalam puluhan tahun, namun kehancuran nurani membutuhkan waktu berabad-abad untuk pulih.

Radar Ilahi vs Radar Manusia

* Fun fact mengatakan radar pertama kali digunakan secara masif di perang ini. Secara ilmiah, radar mendeteksi musuh dari kejauhan. Namun secara Irfani, manusia kehilangan “Radar Batin” (Bashirah). Kita sibuk mendeteksi ancaman dari luar, tapi buta terhadap musuh yang sedang mendekam di dalam urat nadi: yaitu Nafsu Ammarah.

* Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an tentang mereka yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ

(Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya…) (QS. Al-Jathiyah: 23)

 

Bom Atom: Simbol Kemiskinan Syukur

 

* Teknologi bom atom adalah puncak kecerdasan otak manusia, sekaligus puncak kemiskinan ruhani mereka. Saat ilmu pengetahuan tidak dibasuh dengan syukur, ia akan melahirkan alat pemusnah massal. Saat manusia merasa menjadi “Tuhan” yang memegang kendali atas hidup dan mati, di sanalah azab Lasyadiid (yang sangat pedih) itu turun dalam bentuk kegelisahan global yang tak kunjung usai hingga hari ini.

Rangkullah, Jangan Pukul!

* Pelajari sejarah bukan untuk menghafal angka kematian, tapi untuk menghafal jalan pulang ke hati yang damai. Jangan biarkan Monster Keinginan di dalam dirimu menjadi gemuk karena ia akan memakan imanmu sendiri. Jadilah pribadi yang membawa solusi, yang mengedepankan nilai kebenaran di atas pembenaran pribadi.

* Jika engkau melihat saudaramu bersalah, jangan kau “bom” dengan hinaan. Basuhlah ia dengan doa, rangkullah ia dengan nasihat yang lembut. Sebab pada akhirnya, kita semua hanyalah musafir yang sedang mengantre di pintu kematian yang sama.

* Semoga air mata yang jatuh hari ini karena merenungi sejarah, menjadi air yang membasuh “piring kotor” jiwa kita masing-masing.

 

𝓡𝓪𝓲𝓱 𝓜𝓪𝓷𝓯𝓪𝓪𝓽 & 𝓟𝓪𝓱𝓪𝓵𝓪

 

(Samsul Daeng Pasomba.PPWI)