Mahasiswa di Persimpangan Zaman: Antara Society 5.0, Pragmatisme, dan Hilangnya Ruh Organisasi 

Pemerintah198 views

oleh Lazuardi Tahta Ainullah

 

MabesNews.com, Gagasan Society 5.0 kerap dipuji sebagai puncak peradaban baru yang menempatkan manusia sebagai pusat dari kemajuan teknologi. Sejak diperkenalkan Jepang pada 2017, konsep ini menjanjikan kehidupan yang lebih mudah, efisien, dan terintegrasi melalui pemanfaatan teknologi canggih, termasuk kecerdasan buatan. Namun, di balik narasi besar tersebut, ada kegelisahan yang jarang dibicarakan secara jujur: apakah kemajuan teknologi benar-benar memperkuat peran manusia, atau justru secara perlahan mengikis nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi kehidupan sosial, terutama di kalangan mahasiswa?

Mahasiswa merupakan kelompok yang paling cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Hampir seluruh aktivitas akademik, komunikasi, hingga pengambilan keputusan kini bersentuhan langsung dengan ruang digital. Sayangnya, kemudahan ini tidak selalu berbanding lurus dengan pendewasaan cara berpikir. Dalam praktiknya, teknologi justru mendorong lahirnya pola pikir serba cepat, instan, dan pragmatis. Banyak mahasiswa mulai mengukur setiap aktivitas berdasarkan untung-rugi jangka pendek, termasuk dalam hal berorganisasi.

Budaya organisasi mahasiswa yang dahulu menjadi ruang pembentukan karakter, solidaritas, dan kepemimpinan, kini kerap kehilangan daya tariknya. Organisasi tidak lagi dipahami sebagai laboratorium sosial untuk belajar mengelola perbedaan dan konflik, melainkan sekadar “alat” untuk memperoleh sertifikat, relasi, atau catatan pengalaman di curriculum vitae. Ketika manfaat instan tidak terlihat, minat untuk terlibat pun memudar. Inilah titik awal terjadinya degradasi budaya organisasi di kampus.

Fenomena ini tidak bisa dibaca secara hitam-putih dengan menyalahkan mahasiswa semata. Pragmatisme yang tumbuh hari ini merupakan produk dari lingkungan sosial yang menuntut kecepatan, efisiensi, dan hasil terukur. Sistem pendidikan, tekanan dunia kerja, serta kultur kompetisi yang kian ketat turut membentuk cara pandang mahasiswa terhadap masa depan. Dalam situasi seperti ini, idealisme sering kali kalah oleh tuntutan realistis untuk bertahan dan bersaing.

Namun, membiarkan pragmatisme tumbuh tanpa kendali adalah sebuah kekeliruan besar. Mahasiswa sejak lama diposisikan sebagai agent of change, bukan sekadar calon tenaga kerja. Peran ini menuntut lebih dari sekadar kecakapan teknis. Tanpa keterlibatan aktif dalam organisasi dan ruang-ruang sosial, mahasiswa akan kehilangan kepekaan terhadap persoalan masyarakat. Mereka mungkin unggul secara individu, tetapi rapuh secara kolektif.

Organisasi mahasiswa sejatinya memiliki peran strategis dalam menyeimbangkan dampak Society 5.0. Di sanalah nilai kepemimpinan, komunikasi, dan berpikir kritis diasah secara nyata. Kepemimpinan tidak lahir dari teori semata, melainkan dari pengalaman memimpin dan dipimpin. Komunikasi tidak terbentuk hanya lewat layar gawai, tetapi melalui dialog, perdebatan, dan kerja sama langsung. Begitu pula berpikir kritis, yang tumbuh dari keberanian mempertanyakan keadaan dan mencari makna di balik perubahan.

Di tengah arus modernisasi yang begitu cepat, mahasiswa perlu kembali menempatkan teknologi sebagai alat, bukan tujuan. Kecerdasan buatan dan digitalisasi semestinya membantu manusia berpikir lebih dalam, bukan menggantikan proses berpikir itu sendiri. Jika mahasiswa menyerahkan sepenuhnya nalar dan sikap kepada teknologi, maka yang terjadi bukan kemajuan peradaban, melainkan kemunduran kesadaran.

Pada akhirnya, Society 5.0 akan selalu menghadirkan dua sisi yang berjalan beriringan: peluang dan ancaman. Tantangannya bukan terletak pada seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan pada seberapa matang manusia mengelolanya. Mahasiswa berada di persimpangan penting antara menjadi generasi yang larut dalam pragmatisme, atau generasi yang mampu memadukan kecanggihan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Opini ini berpijak pada keyakinan bahwa masa depan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh algoritma dan mesin, tetapi oleh karakter manusia yang mengendalikannya. Jika mahasiswa ingin tetap relevan sebagai agen perubahan, maka revitalisasi budaya organisasi, penguatan soft skills, dan keberanian bersikap kritis harus menjadi agenda bersama. Tanpa itu semua, Society 5.0 hanya akan menjadi slogan megah yang hampa makna.