Mabesnews.com-Jakarta- Ketua Dewan Pembina Forum Masyarakat Indonesia Emas atau.FORMAS,.Hasyim S Djojohadikusuma mengajak FORMAS untuk bersama-bersama mengawal program strategis pemerintah.
“Mari kita mengawal program strategis pemerintah,” ujar Hasyim pada acara Konsolidasi Nasional FORMAS, bersama IPHI sekaligus dilakukan pengukuhan 20 Ormas di Universitas Podomoro, Jakarta Jumat 7/8/2026
Hasyim juga meminta ibu-ibu ikut mengawasi dapur MBG di desa-desa agar tetap berjalan sesuai yang telah diprogramkan oleh pemerintah
Sudah ratusan dapur MBG yang tak beres dicabut izin. Dalam hal ini kita harus tegas.”Justru itu mari kita sama sama mengawasi dengan baik agar kegiatan pemberian makanan bergizi kepada anak sekolah berjalan lancar,” ingat Hasyim.
Hadir di situ Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.;Ketua Umum FORMAS, Yohanes Handojo Budhisedjati, Wakil Ketua Umum Formas Khairul Mahalli.
Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU.Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Dr. Ir. H. Erman Soeparno, M.B.A., M.Si.Wakil Menteri, Pimpinan Lembaga Negara, para tokoh nasional, tokoh masyatakat, para Ketua Umum ormas yg tergabung dalam FORMAS (dan IPHI).
Ketua Umum FORMAS, Yohanes Handojo Budhisedjati didampingi Wakil Ketua Umum, Khairul Mahalli menyatakan FORMAS dapat mensosialisasikan program pemerintah kepada masyarakat. Bukan masyarakat melakukan sosialisasi.
“Kita ingin Indonesia semakin sejuk Karena itu kita ingin FORMAS mensosialisasikan program pemeritah..Mari kita bersama sama mengawal program strategis pemerintah sehingga berjalan baik” ujarnya.
Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Dr. Ir. H. Erman Soeparno, M.B.A. menyatakan IPHI yang memiliki 14 ribu anggota bergabung ke FORMAS karena satu visi dan persepsi dengan organisasi ini.
“Pemikiran kita untuk kemajuan Indonesia dan kesejahteraan masyarakat. Kami mendorong pemerintah untuk terus meningkatkan program pelayanan kesehatan, pendidikan, sosial dan ekonomi termasuk memberdayakan UMKM,” paparnya.
Sementara itu dalam konsolidasi nasional FORMAS bersama IPHI tersirat rasa nasionalisme dan semangat persatuan dalam mencapai sebuah cita-cita luhur. Yakni persatuan dan pengabdian kepada bangsa yang majemuk.
Seperti diungkapkan Ketua Panitia, Dr H Serian Wijatno dalam sambutannya setiap kali kita menyanyikan Indonesia Raya, sesungguhnya kita sedang mengucapkan sebuah ikrar. Pada bait kedua, kita diingatkan bahwa Indonesia adalah tanah pusaka dan sebuah anugerah yang harus kita 9warisi dengan segala keindahan, keberagaman, dan tanggung jawabnya.
Menariknya, bait itu tidak diakhiri dengan seruan kemenangan, melainkan dengan ajakan, “Marilah kita mendoakan, rakyat Indonesia bahagia”. Sebab para pendiri bangsa memahami bahwa, tujuan akhir sebuah negara, bukan sekadar menjadi maju atau kuat, tetapi menghadirkan kebahagiaan, bagi seluruh rakyatnya.
“Kebahagiaan yang lahir dari keadilan, persatuan, kesempatan untuk bertumbuh, serta harapan, yang dapat dirasakan oleh setiap warga. Lalu pada bait ketiga, kita tidak lagi hanya diajak mencintai negeri ini, tetapi diminta berjanji untuk menjaganya agar tetap abadi,” kata H Serian
Sebab sebuah bangsa lanjutnya tidak akan bertahan, hanya karena kekayaan alamnya, luas wilayahnya, atau megahnya pembangunannya. Bangsa akan tetap hidup, karena masih ada orang-orang, yang memilih mengabdi daripada sekadar hadir, memilih memberi daripada menerima, dan memilih menjaga daripada membiarkan.
“Momen ini mengingatkan kita bahwa pengabdian terbaik, bukanlah yang mencari pengakuan, melainkan yang menghadirkan manfaat. Karena ketika setiap dari kita bekerja dengan integritas, melayani dengan tulus, dan menjaga amanah dengan sepenuh hati, sesungguhnya kita sedang mewujudkan doa sederhana, namun agung yang telah dikumandangkan sejak lama: Indonesia bahagia, Indonesia abadi,” ujarnya.
Dalam kegiatan FORMAS, saya pernah mengangkat sebuah pesan: laut yang tenang tidak pernah melahirkan pelaut tangguh. Namun, sejarah membuktikan, sejak dahulu Indonesia telah memiliki pelaut-pelaut tangguh. mereka yang berani menghadapi gelombang, membaca arah angin, dan tetap bergerak menuju tujuan.
Hari ini, bangsa kita juga sedang mengarungi lautan besar, dengan berbagai tantangan, dan perubahan. Namun, kita patut yakin bahwa Indonesia saat ini memiliki kepemimpinan pemerintahan sekarang yang tangguh, berani mengambil keputusan, dan memiliki tekad kuat, untuk membawa bangsa ini menuju kemajuan.

Gelombang yang besar , bukan alasan bagi kapal Indonesia untuk kembali ke dermaga. Sebab, ketika nakhodanya tangguh dan seluruh awaknya bersatu, badai bukanlah akhir perjalanan, melainkan jalan menuju kemenangan.
Karena itu, FORMAS dan seluruh organisasi masyarakat yg sudah tergabung, dan juga yang akan dikukuhkan hari ini, tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus menjadi bagian dari awak kapal bangsa: menjaga persatuan, mengawal pembangunan, memberikan pemikiran yang konstruktif, dan bergotong royong mendukung program-program pemerintah, yang berpihak pada kepentingan rakyat.
Pemimpin yang tangguh membutuhkan rakyat yang bersatu, sedangkan bangsa yang besar, membutuhkan masyarakat yang berani mengambil bagian.
“Semoga konsolidasi nasional ini, tidak berhenti sebagai sebuah seremoni, tetapi menjadi awal dari gerakan bersama yang nyata. Mari kita satukan langkah, kuatkan kolaborasi, dan buktikan bahwa, ketika pemerintah dan masyarakat bergerak dalam satu arah, tidak ada gelombang yang terlalu besar, untuk ditaklukkan oleh Indonesia,” pungkas H Serian..(tiar).












