Ketika Kebencian Menjadi Rumah

Pemerintah81 views

MabesNews.com, Muara Wahau Kamis 6 Agustis 2026 Kebencian berjalan tanpa suara, namun langkahnya menggetarkan kehidupan. Ia masuk ke pikiran seperti kabut pekat, lalu perlahan mencuri makna dari setiap hari yang kita jalani.

Apa arti ilmu, jika digunakan untuk melukai? Apa arti filsafat, jika kebijaksanaan tak lagi didengar? Apa arti budaya, jika sopan santun tinggal hiasan upacara? Apa arti agama, jika kasih dan rahmat kalah oleh amarah?

Nasihat datang dengan wajah lelah, tetapi makian datang dengan sorak-sorai. Kebenaran berjalan pelan, sedang tuduhan tanpa dasar berlari dan disambut ribuan tangan.

Kita hidup di zaman ketika kata-kata tidak lagi mencari terang, melainkan mencari sasaran. Orang tidak bertanya, “Benarkah ini?” tetapi, “Siapa yang bisa dibenci hari ini?”

Kebencian telah mencapai benak yang rusak, mengendap seperti racun yang dipelihara. Ia mengikis akal sehat sedikit demi sedikit, hingga dusta terasa wajar dan fitnah terdengar seperti keadilan.

Lebih mengerikan lagi, ia telah menyentuh hati yang berkarat. Hati yang dulu mudah iba, kini mudah curiga. Hati yang dulu mampu memaafkan, kini gemetar hanya untuk mengasihi.

Di tengah keramaian, manusia saling menatap seperti musuh. Bukan karena lapar, bukan karena perang, tetapi karena kebencian telah diberi tempat di meja, di layar, di mimbar, dan di dada.

Dan aku bertanya kepada malam: jika kebencian terus menjadi bahasa kita, siapa yang akan mengajarkan cinta? Jika setiap perbedaan dianggap ancaman, siapa yang akan menjaga kemanusiaan?

Sebab kehidupan kehilangan makna bukan ketika kita miskin harta, melainkan ketika hati tak lagi mampu melihat sesama manusia sebagai manusia.

 

(Samsul Daeng Pasomba.PPWI)