Oleh Ustadz Hasanuddin
Anggota Perkumpulan Muballigh Kota Batam
Mabesnews.com, Dalam perjalanan hidup manusia, kesempatan sering kali datang secara diam-diam. Ia tidak selalu mengetuk pintu dengan suara keras, tidak pula memberi tanda yang mudah dikenali. Banyak orang baru menyadari nilainya setelah kesempatan itu berlalu. Karena itulah para ulama sering mengingatkan bahwa kesempatan tidak selalu datang dua atau tiga kali. Ia datang sekali, lalu pergi. Bagi mereka yang peka dan sigap, kesempatan menjadi ladang amal. Namun bagi mereka yang lengah, kesempatan hanya menjadi penyesalan.
Islam mengajarkan umatnya untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Waktu bukan sekadar rangkaian detik dan menit yang berlalu, melainkan ruang bagi manusia untuk menanam kebaikan. Al-Qur’an memberikan pesan yang sangat mendalam dalam firman Allah: “Apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.” Pesan ini mengandung makna bahwa kehidupan seorang mukmin tidak boleh berhenti pada satu kebaikan saja. Setiap selesai melakukan amal yang baik, ia segera beralih kepada amal baik berikutnya.
Prinsip ini mengajarkan dinamika hidup yang penuh produktivitas. Seorang mukmin sejati tidak membiarkan waktunya kosong tanpa makna. Ia memahami bahwa hidup terlalu singkat untuk diisi dengan kelalaian. Setelah menunaikan kewajiban ibadah, ia melanjutkan dengan amal sosial. Setelah menolong sesama, ia melanjutkan dengan memperbaiki diri. Setelah menyelesaikan satu tugas, ia bersiap menyambut tugas berikutnya. Dengan demikian, hidupnya menjadi rangkaian kebaikan yang tidak terputus.
Dalam kehidupan masyarakat modern, terutama di kota-kota yang berkembang seperti Batam, tantangan hidup semakin kompleks. Kesibukan ekonomi, dinamika sosial, dan perkembangan teknologi sering kali membuat manusia terjebak dalam rutinitas yang melelahkan. Namun di tengah kesibukan itu, seorang mukmin tetap dituntut untuk menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat. Ia harus mampu melihat setiap kesempatan sebagai peluang untuk menebar manfaat.
Ketika seseorang diberi kesempatan untuk berdakwah, maka gunakanlah kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Ketika diberi ruang untuk menolong sesama, maka lakukanlah dengan penuh keikhlasan. Ketika diberi amanah dalam sebuah jabatan atau tanggung jawab, maka jalankanlah dengan penuh integritas. Sebab tidak ada jaminan bahwa kesempatan yang sama akan datang kembali di masa depan.
Sering kali manusia menunda-nunda kebaikan dengan alasan menunggu waktu yang lebih tepat. Padahal waktu yang paling tepat untuk berbuat baik adalah sekarang. Penundaan sering kali menjadi pintu bagi hilangnya kesempatan. Hari ini seseorang memiliki tenaga, esok belum tentu. Hari ini seseorang memiliki waktu, esok mungkin sudah disibukkan oleh urusan lain. Hari ini seseorang memiliki kesempatan, esok bisa jadi kesempatan itu telah berpindah kepada orang lain.
Oleh sebab itu, semangat berpindah dari satu kebaikan ke kebaikan lainnya merupakan karakter yang harus ditanamkan dalam diri setiap muslim. Ia tidak merasa cukup hanya dengan satu amal. Ia selalu merasa bahwa masih banyak kebaikan yang harus dilakukan. Pandangan hidup seperti ini akan melahirkan pribadi yang aktif, optimis, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Dalam dunia dakwah, prinsip ini menjadi sangat penting. Seorang muballigh tidak boleh berhenti hanya pada satu kegiatan ceramah atau satu majelis taklim saja. Setelah menyampaikan satu pesan kebaikan, ia harus terus melanjutkan dengan pesan-pesan kebaikan lainnya. Dakwah bukan sekadar aktivitas sesaat, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan dan kesinambungan.
Lebih dari itu, semangat berpindah dari satu kebaikan ke kebaikan lain juga akan memperkuat peran umat Islam dalam membangun masyarakat yang bermartabat. Ketika setiap individu berlomba-lomba dalam kebaikan, maka lingkungan sosial akan dipenuhi oleh nilai-nilai positif. Kehidupan masyarakat menjadi lebih harmonis, saling menolong, dan penuh dengan semangat kebersamaan.
Akhirnya, kita semua perlu menyadari bahwa hidup ini hanyalah perjalanan singkat menuju kehidupan yang lebih abadi. Kesempatan yang ada hari ini adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Jangan sampai waktu berlalu tanpa meninggalkan jejak kebaikan. Jika hari ini kita telah menyelesaikan satu amal yang baik, maka segera melangkah menuju amal baik berikutnya. Sebab dalam kehidupan seorang mukmin, kebaikan tidak pernah memiliki kata akhir. Ia terus berlanjut, mengalir, dan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan hidup manusia menuju ridha Allah.
/NS







