Oleh: Dr. Nursalim, S.Pd., M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain, Provinsi Kepulauan Riau
MabesNews.com, Dalam kehidupan manusia, waktu bukan sekadar hitungan angka yang berganti di kalender, tetapi suatu realitas eksistensial yang membawa setiap insan pada satu kepastian: kematian. Pergantian tahun sering kali diserahkan pada perayaaan yang riuh dan semarak, padahal hakikatnya waktu keluar dari genggaman kita tanpa meminta izin. Sebagaimana ditunjukkan dalam kajian kontemporer, praktik spiritual yang meningkatkan kesejahteraan psikologis (yakni hubungan religiusitas dengan ketahanan mental dan rasa makna hidup) berkontribusi secara signifikan terhadap kesejahteraan individu di tengah tekanan kehidupan modern (Rakhmawati & Atmaja, 2024:143–158).
e-Journal UIN Bukittinggi
Dengan dasar tersebut, saya menegaskan bahwa kita tidak boleh hanya sibuk menyambut akhir tahun, melainkan harus lebih serius memikirkan akhir hayat, yakni posisi kita di hadapan kehidupan yang fana ini. Dalam konteks spiritual, kemuliaan seorang Muslim tidak diukur oleh riuhnya perayaan duniawi, tetapi oleh kekuatan batin yang tertanam dalam ketaatan kepada Tuhan. Observasi dalam sejumlah riset menunjukkan bahwa refleksi spiritual dan pengalaman religius secara signifikan memengaruhi kesejahteraan psikologis individu dan memberi makna yang lebih dalam terhadap peristiwa hidup (Widyadhari et al., 2024).
Jurnal PABKI
Kesunyian bukan tanda kelemahan, tetapi panggilan untuk introspeksi. Ritus ibadah, seperti dzikir, kontemplasi, dan muhasabah, bukan hanya ritual kosong, melainkan bentuk praktik spiritual yang telah terbukti secara empiris membantu individu mengevaluasi kehidupan, menguatkan hubungan batin dengan Tuhan, serta meningkatkan kesejahteraan emosional (Asrifa Rosa Khaerunnisa et al., 2025).
Jurnal Habi
Dunia modern sering menempatkan ritme kehidupan pada level percepatan tanpa ruang bagi refleksi batiniah. Menurut penelitian terbaru, integrasi praktik spiritual dalam kehidupan sehari-hari bukan hanya berdampak positif pada kesehatan mental, tetapi juga membantu membangun self-regulation kemampuan reflektif untuk mengevaluasi diri, mengendalikan emosi, serta bertanggung jawab secara moral (Najich & Hidayah, 2025). Praktik refleksi seperti ini membuat seseorang mampu melihat waktu bukan sebagai sekadar angka, tetapi sebagai cermin perjalanan hidup.
Pubmedia Edu
Pendekatan spiritual yang matang bukanlah sekadar penampilan luar atau formalitas, melainkan landasan moral yang menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap apa yang telah dan akan kita lakukan. Ini mengingatkan kita bahwa kematian bukanlah akhir yang menakutkan, melainkan momentum evaluatif atas seluruh tindakan hidup. Hal ini memperkuat pemahaman bahwa kualitas hidup bukan diukur dari kemewahan dan sorak-sorai meriah, tetapi dari nilai keteguhan hati, kejujuran, dan kesadaran akan keterbatasan diri. Kajian empiris menunjukkan bahwa religiusitas dan spiritualitas memiliki efek protektif terhadap kondisi psikologis yang berkaitan dengan kecemasan dan tekanan hidup (McLeod et al., 2023).
SpringerLink
Refleksi atas waktu yang terus berlalu juga membawa kita pada dua pilihan: menyongsong kematian dengan pesta yang bersifat sementara, atau menyambutnya dengan taubat dan kesiapan spiritual. Perbedaan pilihan ini bukanlah persoalan seremonial, tetapi perpaduan antara makna batin dan tanggung jawab moral, di mana seseorang menyadari bahwa setiap detik yang dihabiskan tanpa kesadaran hidup yang bermakna adalah kesempatan yang terlewat untuk memperbaiki diri.
Dalam kerangka besar itu, tugas para pemimpin spiritual, pendidik, dan individu beriman adalah menghidupkan kembali esensi kesadaran diri yang hilang, melalui praktik reflektif yang konsisten. Bukan sekadar menyambut tahun baru dengan seruan perayaan, tetapi mentransformasikan momentum tersebut menjadi perubahan diri yang jauh lebih mendalam. Jikalau pergantian tahun hanyalah berganti angka di kalender, maka pergantian hati adalah esensi yang menjadi ukuran sejati kehidupan.
Sehingga, di antara riuhnya waktu dan sunyi pertanggungjawaban, kita menemukan satu kebenaran yang abadi: hidup ini rapuh, waktu terus meninggalkan jejaknya, dan nurani adalah cahaya yang menuntun kita untuk menyadari bahwa tujuan hidup bukan sekadar eksistensi, tetapi kualitas batin yang menjemput ridha Ilahi.
Referensi
Rakhmawati, R., & Atmaja, F. F. (2024). Subjective Well-Being, Religiosity, Trust, and Altruism: an Islamic Perspective, EKONOMIKA SYARIAH : Journal of Economic Studies, 8(2), 143–158.
e-Journal UIN Bukittinggi
Widyadhari et al. (2024). Daily Spiritual Experience and Psychological Well-Being, Al-Isyraq: Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, dan Konseling Islam, 7(3), 761–778.
Jurnal PABKI
Khaerunnisa, A. R. et al. (2025). Efektivitas Pelatihan Spiritual Terhadap Subjective Well Being Remaja, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 2(3).
Jurnal Habi
Najich & Hidayah (2025). Proses Reflektif dan Self-Regulation dalam Pendidikan Nonformal Berbasis Islam, Jurnal Pendidikan Nonformal, 3(1).
Pubmedia Edu
McLeod et al. (2023). Religiosity and Spirituality in the Prevention and Management of Depression and Anxiety in Young People, BMC Psychiatry, 23:729.







