MabesNews.com, Batam, Jumat, 6 Desember 2024 – Suasana penuh kehangatan dan inspirasi terlihat di kantor Masjid An Nur, Villa Pesona Asri, Batam Kota, siang ini. Tepat pukul 13.06, para ustadz ternama seperti Muhammad Fitrizal Hambali, Ustadz Hambali, Ustadz Salman Varisi Jaya, Raden Dwi Wahyu Sulistiantoro, SH, dan Ustadz Nursalim Tinggi Turatea, berkumpul dalam sebuah pertemuan yang penuh makna.
Pertemuan dalam Nuansa Keakraban
Pertemuan tersebut bukan sekadar ajang diskusi formal, tetapi juga momen mempererat ukhuwah dengan tawa dan cerita ringan. Salah satu momen yang menarik perhatian adalah saat Ustadz Salman, dengan kepribadian cerianya, menjadi bahan candaan teman-temannya ketika mengenakan jubah putih secara spontan. Keceriaan tersebut menciptakan suasana santai yang membawa semangat persaudaraan.
Refleksi Perjalanan Dakwah Ustadz Salman.
Dalam kesempatan itu, Ustadz Salman membagikan pengalamannya sejak memulai perjalanan dakwah di tahun 1998. Ia mengisahkan masa-masa awal bergabung dengan Majelis Dakwah Indonesia, salah satu organisasi pelopor dakwah di tanah air. Perjalanan ini kemudian membawanya ke kesempatan besar bekerja di kawasan eksklusif Lagoi, Bintan.

“Perjuangan dakwah yang ikhlas akan selalu membawa keberkahan dan kemuliaan dalam hidup kita,” tutur Ustadz Salman dengan penuh keyakinan.
Diskusi tentang Dakwah Modern
Ustadz Nursalim Tinggi Turatea, seorang akademisi dan dai, memberikan pandangan mengenai pentingnya adaptasi dakwah di era digital. Ia menekankan bahwa generasi muda membutuhkan pendekatan yang relevan dengan dunia mereka.
“Platform digital adalah ruang dakwah baru yang harus kita manfaatkan. Generasi muda membutuhkan pesan yang menginspirasi dan dekat dengan bahasa mereka,” ujar Ustadz Nursalim.
Menambahkan pandangan, Raden Dwi Wahyu Sulistiantoro, SH, yang juga seorang praktisi hukum, membahas pentingnya harmoni antara syariat Islam dan hukum negara. Menurutnya, pemahaman mendalam tentang hukum akan memperkuat peran umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat.
Candaan yang Membawa Kehangatan
Di tengah diskusi serius, candaan segar dari para ustadz membuat suasana semakin akrab. Muhammad Fitrizal Hambali, dengan karakter humorisnya, membagikan pengalaman lucu masa mudanya, mencairkan suasana.
“Kalau Ustadz Salman sudah berdakwah tahun 1998, saya masih belajar masak mi instan di kost waktu itu,” ungkapnya, yang disambut tawa meriah.
Ustadz Hambali, yang biasanya tampil tegas dalam ceramah, turut berbagi pengalaman lucu selama berdakwah di daerah terpencil, menghadirkan sisi humanis dari perjalanannya.
Harmoni dalam Keberagaman
Pertemuan ini mencerminkan persatuan dalam keberagaman. Meski berbeda latar belakang dan profesi, semangat dakwah dan ukhuwah Islamiyah menyatukan mereka.
“Keberhasilan dakwah tidak diukur dari siapa yang paling unggul, tetapi dari bagaimana kita saling mendukung dan menguatkan,” ujar Ustadz Nursalim sebagai penutup yang penuh makna.
Penutup
Pertemuan para ustadz ini menjadi inspirasi tentang pentingnya membangun ukhuwah dan menebar kebaikan. Dalam harmoni penuh tawa dan kehangatan, mereka menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat dan kebahagiaan.
Semoga kebersamaan ini menjadi teladan bagi umat Islam untuk terus memperkuat persaudaraan dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat.
(Nursalim Tinggi Turatea)













