Irjen Pol Dr. Ronny F. Sompie Bedah Krisis Sosial Jepang: “Penjara Bisa Menjadi Panti Jompo”

MabesNews.com, Jakarta, 9 Mei 2026 — Ronny F. Sompie, SH., MH., memberikan tajuk agenda “Bedah Kasus Krisis Sosial: Globalisasi dan Fenomena Penjara Menjadi Panti Jompo di Jepang” dalam sebuah forum kebangsaan yang digelar di Rumah Doa GAKORPAN Milkha Indonesia, Cirendeu Permai IV No. 30, Tangerang Selatan, Sabtu (9/5/2026).

Kegiatan tersebut diprakarsai oleh Bernard BBI Siagian, SH., MA., bersama sejumlah organisasi, di antaranya GAKORPAN, LBH Pers Prima Presisi Polri, LBH Rumah Besar Relawan Prabowo-Gibran 08, Gerakan Solidaritas Nasional Suara Rakyat untuk Keadilan, Hukum dan HAM.

Acara turut dihadiri sejumlah tokoh dan aktivis, di antaranya David Sianipar, SH., MH., Rev. Marcel Gerungan, SH., Pdt. Januar, Bunda Marliana, Bunda Cici Milkha, Supri, dan Suparno. Sekitar 500 peserta yang terdiri dari aktivis, jurnalis, tokoh ormas, anggota PPWI, hingga unsur Pemuda Pancasila turut hadir dalam forum tersebut.

Dalam sambutannya, Bernard BBI Siagian menekankan pentingnya introspeksi diri, rasa syukur, serta ketakwaan kepada Tuhan dalam menghadapi tantangan kehidupan modern.

“Tidak ada yang mustahil selama kita tetap berserah diri kepada Allah, bersabar, bertawakal, dan terus bersyukur dalam menjalani kehidupan,” ujarnya.

Sementara itu, Ronny F. Sompie menjelaskan fenomena sosial di Jepang, di mana sejumlah lansia dengan sengaja melakukan pencurian kecil agar dapat dipenjara. Menurutnya, fenomena tersebut merupakan ironi sosial yang menunjukkan adanya krisis kemanusiaan dan persoalan kesejahteraan lansia di era globalisasi.

Fenomena Lansia Masuk Penjara di Jepang

Dalam pemaparannya, Ronny Sompie menyebut data resmi Jepang menunjukkan bahwa satu dari lima tahanan perempuan di Jepang merupakan lansia berusia di atas 65 tahun. Sebagian besar kasus berupa pencurian ringan atau *shoplifting* seperti roti, nasi kepal, hingga kosmetik murah.

Menurut laporan Kementerian Kehakiman Jepang dan sejumlah media internasional, banyak lansia mengaku memilih masuk penjara karena faktor kesepian, kemiskinan, tidak memiliki keluarga, serta kebutuhan hidup yang sulit dipenuhi.

“Di penjara mereka mendapatkan makan tiga kali sehari, layanan kesehatan, dan teman berbicara. Ini menjadi ironi kemanusiaan yang perlu menjadi pelajaran bagi banyak negara,” jelasnya.

Ia juga mencontohkan kasus seorang nenek berusia 78 tahun di Tokyo yang mencuri nasi kepal seharga 200 yen karena hidup sendirian dan merasa tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Empat Akar Masalah

Dalam forum tersebut dijelaskan beberapa faktor utama penyebab fenomena tersebut, antara lain:

1. Kemiskinan kronis pada lansia.

2. Kesepian ekstrem atau kodokushi (mati dalam kesepian).

3. Sistem penjara Jepang yang dianggap lebih layak dibanding kehidupan sebagian lansia miskin.

4. Hukuman ringan bagi pencurian kecil.

Meski demikian, Ronny menegaskan bahwa tidak semua lansia Jepang mengalami kondisi tersebut. Ia menyebut kasus itu memang minoritas, namun menjadi perhatian dunia karena menunjukkan tantangan sosial di negara maju.

Pelajaran untuk Indonesia

Forum tersebut juga membahas pentingnya Indonesia mempersiapkan sistem perlindungan sosial menghadapi bonus dan penuaan penduduk menuju Indonesia Emas 2045.

Beberapa solusi yang dibahas antara lain penguatan jaminan sosial, program pemberdayaan lansia, pendekatan community care, serta penerapan keadilan restoratif bagi pelaku tindak pidana ringan dari kelompok rentan.

Menutup kegiatan, Bernard BBI Siagian menyampaikan bahwa fenomena tersebut harus menjadi pembelajaran agar Indonesia mampu membangun sistem sosial yang lebih adil, manusiawi, dan berpihak pada kesejahteraan rakyat.

“Fenomena lansia ingin masuk penjara di Jepang memang nyata dan tercatat. Namun penyebab utamanya bukan karena penjara nyaman, melainkan karena kemiskinan, kesepian, dan sulitnya hidup di luar penjara,” tutupnya.

Tim Investigasi DPP GAKORPAN – LBH Pers Prima Presisi Polri

Reporter: Ikhsan B. Pers