Ilmu, Kekuasaan, dan Ujian Keikhlasan

Pemerintah232 views

Oleh Ustadz RasyidWakil Ketua PMB Batam Kota

 

MabesNews.com, Di sepanjang perjalanan sejarah umat, ilmu selalu menempati posisi yang mulia. Ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia agar tidak tersesat di tengah gelapnya kepentingan dunia. Namun sekaligus, ilmu juga menjadi salah satu amanah terberat, karena ia sangat mudah tergelincir ketika bersentuhan dengan kepentingan kekuasaan, pengaruh, dan ambisi pribadi.

Para ulama dan dai pada hakikatnya adalah penerus risalah para nabi. Mereka memikul tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran, bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan sikap, keteladanan, dan keberpihakan kepada keadilan. Ketika ilmu dijaga dengan kejujuran dan keikhlasan, ia akan melahirkan keberanian untuk menyuarakan yang hak meskipun pahit, serta keteguhan untuk menolak yang batil meskipun menggiurkan.

 

Namun sejarah mengajarkan kepada kita, banyak kerusakan besar justru lahir bukan karena umat tidak tahu kebenaran, melainkan karena sebagian orang berilmu memilih diam, menyesuaikan kebenaran dengan kepentingan, atau bahkan membenarkan kezaliman demi kedekatan dengan kekuasaan. Di titik inilah ilmu kehilangan jiwanya. Ia masih terdengar sebagai kata-kata, tetapi tidak lagi menjadi cahaya.

 

Kekuasaan pada dasarnya adalah amanah yang juga diperlukan dalam kehidupan. Negara, pemerintah, dan pemimpin memiliki peran penting dalam menjaga keteraturan, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat. Namun relasi antara ulama dan penguasa harus selalu berada dalam koridor moral. Ulama bukan pelengkap kekuasaan, bukan pula alat legitimasi kebijakan. Peran ulama adalah penunjuk arah, pengingat, dan penjaga nurani.

 

Dalam realitas dakwah hari ini, tantangan terbesar tidak selalu datang dalam bentuk tekanan terbuka, melainkan dalam bentuk kenyamanan yang meninabobokan. Popularitas, fasilitas, akses, dan pengaruh sering datang dengan harga yang tidak murah, yaitu hilangnya keberanian untuk bersikap tegas. Ketika seorang da’i mulai menimbang kebenaran berdasarkan untung dan rugi, saat itulah dakwah berada di persimpangan berbahaya.

 

Sebagai bagian dari gerakan dakwah di Batam Kota, kami meyakini bahwa independensi moral adalah fondasi yang tidak boleh ditawar. Dakwah harus tetap berdiri di atas nilai, bukan di bawah kepentingan. Dakwah harus berani mengatakan benar itu benar dan salah itu salah, tanpa harus menunggu restu dari siapa pun selain Allah.

 

Umat hari ini juga semakin cerdas. Mereka tidak lagi hanya mendengar apa yang disampaikan di mimbar, tetapi memperhatikan bagaimana para dai menjalani hidupnya. Keteladanan menjadi bahasa dakwah yang paling kuat. Kejujuran dalam sikap, kesederhanaan dalam hidup, serta keberanian membela yang lemah jauh lebih membekas daripada seribu retorika.

 

Ilmu sejatinya bukan alat untuk menaikkan status sosial, bukan jalan pintas menuju pengaruh, apalagi tangga menuju kekuasaan. Ilmu adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Selama ilmu dijaga dari kepentingan yang sempit, ia akan tetap menjadi cahaya yang menuntun umat. Tetapi ketika ilmu diperjualbelikan demi kenyamanan dunia, ia berubah menjadi fitnah yang menyesatkan.

Semoga kita semua, para pegiat dakwah, pendidik, dan pencari ilmu, senantiasa diberi keteguhan untuk menjaga kemurnian niat, kejernihan sikap, dan keberanian berpihak kepada kebenaran. Sebab yang kita cari bukanlah tepuk tangan manusia, tetapi keberkahan dari Allah. Dan di sanalah letak kemuliaan sejati ilmu.